MerahPutih.com - Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instran), Ki Darmaningtyas, menyatakan setuju dengan usulan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengenai penyesuaian tarif layanan Transjakarta dan Transjabodetabek.
Sebelumnya, DTKJ mengusulkan tarif layanan Transjakarta di dalam kota menjadi Rp 5.000, tarif Transjabodetabek sebesar Rp 10.000, serta tarif Mikrotrans sebesar Rp 2.000.
Menurut Ki Darmaningtyas, tarif Transjakarta saat ini masih menjadi yang paling rendah jika dibandingkan dengan sejumlah layanan angkutan umum di kota-kota lain.
"Di Surabaya tarifnya sudah Rp 5.000 dan tidak ada masalah. Trans Semarang dan Trans Jogja tarifnya Rp 4.000, juga tidak ada masalah," terangnya, Kamis (9/7).
Ia menilai kondisi tersebut cukup kontras mengingat upah minimum regional (UMR) di daerah-daerah tersebut lebih rendah dibandingkan Jakarta.
Baca juga:
DTKJ Usul Tarif Transjakarta Jadi Rp 5.000, TransJabodetabek Rp 10.000
Kenaikan tarif dinilai dapat mengurangi beban subsidi
Ki Darmaningtyas mengungkapkan, wacana penyesuaian tarif Transjakarta sebenarnya telah muncul sejak 2007. Namun, kebijakan tersebut kerap mengalami penundaan.
Menurut dia, dengan kondisi fiskal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kini menghadapi keterbatasan, kenaikan tarif menjadi salah satu langkah yang dapat mengurangi beban subsidi.
Saya kira hasil survei juga sudah menunjukkan bahwa kemampuan dan kemauan membayar tarif Transjakarta itu berada di kisaran Rp 5.000. Jadi, jika tarif dinaikkan menjadi Rp 5.000, tampaknya tidak akan ada keberatan dari masyarakat,
Pengamat Transportasi Instran, Ki Darmaningtyas.
Usulkan layanan Transjabodetabek menggunakan bus high deck
Selain mendukung kenaikan tarif, Ki Darmaningtyas juga mengusulkan agar layanan Transjabodetabek yang melayani rute dari Bekasi, Depok, BSD, dan Tangerang menggunakan bus high deck.
Menurutnya, penggunaan bus tersebut memungkinkan penumpang melakukan perpindahan antarlayanan langsung di dalam halte sehingga tidak perlu keluar area berbayar.
"Mengapa demikian? Karena jika menggunakan bus low-deck seperti sekarang (yang pintunya rendah dan tidak bisa transfer di dalam halte), beban biaya penumpang menjadi berlipat-lipat," tuturnya.
Ia mencontohkan penumpang dari Bekasi menuju Blok M harus melakukan tapping dua kali sehingga total biaya perjalanan menjadi Rp 10.000.
Baca juga:
Rencana Penaikan Tarif Transjakarta, Pemprov akan Tambah Jumlah Masyarakat yang Digratiskan
Skema tarif tiga jam dinilai bisa menjadi solusi
Meski demikian, Ki Darmaningtyas menilai pergantian armada tidak menjadi keharusan apabila Transjakarta menerapkan skema tarif berbasis durasi.
Ia mengusulkan tarif Rp 5.000 berlaku selama tiga jam, sehingga penumpang cukup melakukan tapping satu kali meski harus berpindah layanan.
"Penumpang cukup melakukan tapping sekali, dan selama masih dalam kurun waktu 3 jam, mereka hanya perlu membayar satu kali tarif tersebut. Namun, bagaimana mekanisme kontrol di lapangannya? Nah, hal itu memang menjadi PR tersendiri," pungkasnya. (Asp)