MerahPutih.com - Harriman Samuel Saragih, Asisten Profesor dari Departemen Inovasi Bisnis, Monash University, Indonesia, menyingkap sejumlah faktor penentu gagal atau suksesnya sebuah lagu.
Menurut Harriman dalam studinya yang bertajuk “Predicting song popularity based on Spotify's audio features: insights from the Indonesian streaming users”, faktor-faktor itu adalah:
- Waktu rilis yang tepat untuk menarik perhatian pasar.
- Komposisi suara, perpaduan suara digital dan vokal untuk menghasilkan harmonisasi unggul.
- Hindari rap dan instrumental penuh, karena lagu yang tidak beresonansi kurang digemari.
- Lagu yang memiliki getaran positif dan mampu meningkatkan suasana hati.
- Kolaborasi yang unik antara instrumental dengan vokal yang menonjol.
- Temukan keunikan untuk membuat karya yang berciri khas dan berbeda dari orang lain.
Studi Harriman memanfaatkan data dari Spotify dan memilih pengguna streaming dari Indonesia sebagai sampel yang representatif.
Baca juga:
Peneliti Monash University Ungkap Alasan Mengapa Musik K-Pop Digemari di Indonesia
"Dengan menganalisis berbagai atribut audio yang meliputi tempo, energi, dan irama yang danceable, serta aspek instrumental dari sebuah lagu, penelitian ini menggunakan metode machine learning untuk memprediksi popularitas sebuah lagu. Hasil studi menemukan pengguna streaming di Indonesia pada umumnya menyukai lagu yang fresh, happy, positive, dan danceable,” jelas Harriman Saragih dalam rilis persnya (2/4).
Fitur Spotify Wrapped dari layanan streaming musik Spotify yang tiap tahun meramaikan linimasa berbagai media sosial, memperlihatkan bagaimana sebagian besar pengguna yang berasal dari kalangan Gen Z dan Milenial menikmati fitur rangkuman musik tahunan tersebut.
Lagu-lagu hits melankolis milik para penyanyi lokal meraih banyak atensi, seperti lagu "Sial" oleh Mahalini, "Rayuan Perempuan Gila" oleh Nadin Amizah, "Penjaga Hati" oleh Nadhif Basalamah, dan "Somebody’s Pleasure" oleh Aziz Hendra yang masing-masing melampaui 100 juta pendengar.
Laporan Spotify Advertising Team menyebutkan bahwa pendengar lagu bertema patah hati tersebut didominasi oleh Gen Z, sementara generasi Milenial disebut lebih menyukai lagu yang dapat membangkitkan suasana hati positif.
Rekomendasi lagu yang dipersonalisasi dari layanan streaming, yang didorong oleh algoritma, telah menjadi andalan pendengar Milenial dan Gen Z di Indonesia untuk menemukan lagu baru yang sesuai selera mereka.
Baca juga:
Peneliti Budaya Bilang Lirik Lagu Sekarang Lebih Simpel dan Mudah Dipahami
Studi Harriman memperlihatkan kekuatan machine learning dan data analytics dalam memprediksi perilaku dan peluang di pasar.
Musisi, produser musik, hingga label atau pemasar bisa menggunakan studi terkait sebagai bahan pertimbangan ketika akan merilis lagu baru di Indonesia agar karya mereka mendapatkan dampak positif lebih banyak di pasar. (dru)
Baca juga:
Peneliti University of South Wales Australia Ciptakan Tulang dari Teknologi 3D