MerahPutih.com - Pengamat politik Ujang Komarudin mengkritik langkah pemerintah yang terkesan terlambat dalam meminta masyarakat untuk menggunakan masker dalam mencegah penyebaran COVID-19. Sebab, imbauan tersebut baru datang setelah korban di tanah air sudah lebih dari 2 ribu.
"Ketika ribuan rakyat sudah terpapar Corona dan ratusan orang meninggal dunia, kebijakan menggunakan masker bagi masyarakat baru diumumkan," ujar Ujang kepada wartawan di Jakarta, Senin (6/4).
Baca Juga
Update Corona Solo, Pasien PDP Sembuh Bertambah dan ODP Capai 177 Orang
Pengajar dari Universitas Al Azhar ini menilai idealnya seluruh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah itu memiliki sifat antisipatif.
"Harusnya sedia payung sebelum hujan. Namun anehnya, wabah Corona ini sudah banyak menelan korban, baru masyarakat diimbau menggunakan masker," imbuh Ujang.
Namun, Ujang mengapresiasi kebijakan ini sebab daripada tidak sekali. Ia juga mendukung jika ada sanksi tegas kepada masyarakat jika menolak mengenakan masker.
"Jadi lebih baik mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker. Daripada tidak sama sekali," tutup Ujang.
Sebelumnya, Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto menegaskan bahwa pemerintah menjalankan program 'masker untuk semua' per 5 April 2020 sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Semua harus menggunakan masker. Sedangkanm masker bedah dan masker N95 hanya untuk petugas kesehatan. Gunakan masker kain, Ini menjadi penting karena kita tidak pernah tahu orang tanpa gejala didapatkan di luar," ujar Yuri pada konferensi pers, Minggu (5/4).
Baca Juga
Ahli Epidemiologi: Rapid Test Menunjukkan Positif Belum Tentu Positif COVID-19
Yuri mengatakan masyarakat harus menggunakan masker kain jika hendak keluar rumah dan ia menganjurkan penggunaan masker kain tidak lebih dari 4 jam lalu kemudian harus di cuci dengan sabun. (Knu)

