Panjat Kesuksesan dengan Model Bisnis LFP ala Farid Stevy
Cover_Model bisnis ala Farid Stevy mengutamakan kesejahteraan sesama. (Foto: Instagram Farid Stevy)
DALAM bisnis, memanjat hingga kesuksesan tidak melulu mengenai mengeruk keuntungan. Dialog, transparansi, dan saling menghormati bisa jadi prinsip yang membawa kesuksesan bersama. Hal itulah yang diterapkan Farid Stevy Asta yang kerap disapa Farid Stevy. Seniman kelahiran Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada1982 ini dikenal seorang seniman dengan ciri khas skema warna merah, hitam, putih, kuning, dan biru dalam membuat karyanya. Farid terjun ke dunia seni berawal dari ketertarikannya terhadap street art yang membuat mural di dinding Kota Yogya. Ia-lah pencetus ungkapan 'bahagia itu sederhana'.
Nama Farid dikenal luas sejak memulai kolaborasinya dengan toko kopi ternama di kalangan anak muda, Filosofi Kopi. Selain menjadi seniman lukis, Farid juga memiliki jenama kaus yang sangat khas dengan kutipan menggugah. Jenama tersebut ia beri nama The Good & The Bad Print.
BACA JUGA:
Brand yang ia buat memberi kebebasan bagi siapa pun yang memiliki gagasan untuk diproduksi menjadi sebuah kaus. “Punya gagasan? Cenderamatakan,” demikia kampanye mereka di aku Instagram Good Bad Print
View this post on Instagram
Menurutnya, bisnis cenderamata saat ini menjadi opsi yang sangat menarik dan dilakukan para seniman dan kreator muda. Selain sebagai media distribusi karya dan alat branding yang efektif, bisnis yang digarap Farid ini mampu menjadi alat penyokong kerja kekaryaan. Pendapatan dari cenderamata digunakan untuk membiayai proses pembuatan album sebuah band, pembelian art supplies bagi para perupa muda, dan tidak lupa menjadi alat tukar untuk berbagai kebutuhan hidup.
Sisi unik dari dari bisnis ini ialah metode yang dibuat Farid. Ia menyebutnya Liberates Fair Price (LFP). “Semua produk The Good & The Bad Print diperjualbelikan dengan metode LFP,” katanya.
BACA JUGA:
Ajak Anak Muda Raih Cita-Cita Lewat Kampanye One Indonesia Live Your Dreams
Liberates fair price (LFP) adalah semangat perdagangan adil yang mengutamakan dialog, transparansi, dan saling menghormati antara produsen, jenama, kolaborator, dan konsumen. LFP menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik dengan menjamin hak-hak produsen dan konsumen. “Konsep ini dianggap baik untuk menjunjung kesetaraan bagi para pekerja yang sering kali terpinggirkan,” katanya seperti dilansir situs Good Bad Print.
View this post on Instagram
Filosofi LFP merupakan terjemahan dari dua kredo liberates creative colony yaitu ‘maju bareng’ dan berguna untuk sesama. Konsep transparan yang dibuat Farid sangat rinci, seperti disebutkan satu per satu setiap harga dari mulai dari harga seniman, project management, harga modal kaus, harga tag dan kemasan, retail service, hingga donasi.
“Meskipun kecil dan sederhana, Good Bad Print percaya kampanye LFP untuk kebaikan. Kami juga meyakini kebaikan harus dibagi atau bahkan ditularkan agar impaknya semakin besar,” jelasnya.(zvw)
BACA JUGA:
Bagikan
Berita Terkait
Aksi Supporter Timnas Futsal Indonesia Merahkan Laga Final AFC Futsal ASIAN Cup 2026 di Jakarta
AFC FUTSAL ASIAN CUP 2026: Indonesia Kalahkan Kirgistan dengan Skor 5-3
AFC FUTSAL ASIAN CUP 2026: Timnas Indonesia Kalahkan Korea Selatan dengan Skor 5-0
Lirik Lengkap Lagu Wajib Nasional 'Mengheningkan Cipta', Penuh Makna Syahdu nan Khidmat
Indonesia Setuju Gabung Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Donald Trump
Sidharto Ditunjuk Wakili RI Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Janjikan Kepemimpinan Inklusif
Indonesia Resmi Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Ini Tugas & Kewenangannya
Lirik Lengkap Lagu 'Mars Bela Negara', Dinyanyikan Setiap 19 Desember
SEA Games 2025 Thailand: Aksi Defile Kontingen Indonesia dalam Closing Ceremony
SEA Games 2025 Thailand: Maria Natalia Londa Raih Medali Perunggu Lompat Jauh Putri