Kesehatan Mental

Niksen, Tren Kesehatan di Belanda tanpa Perlu Melakukan Apa Pun

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 26 Mei 2023
Niksen, Tren Kesehatan di Belanda tanpa Perlu Melakukan Apa Pun

Niksen berasal dari kata kerja 'niks', yang berarti 'tidak melakukan apa-apa'. (Foto: freepik/pvproductions)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ORANG Belanda kini memilih untuk diam, tak melakukan apa pun, demi meraih kesehatan. Niksen telah menjadi tren kesehatan Belanda. Niksen berarti 'tidak melakukan apa-apa'. Istilah itu pertama kali menarik perhatian dunia pada tahun sebagai cara untuk mengelola stres atau pulih dari kelelahan.

Pada saat itu, banyak orang mengeluh tentang kelelahan dan depresi yang disebabkan terlalu banyak bekerja. Selain itu, konsep seperti ikigai dari Jepang atau hygge dari Denmark juga menjadi populer dan masuk ke kamus bahasa Inggris. "Sebagai seorang ahli bahasa, saya menyukai gagasan bahwa kamu dapat mengungkapkan seluruh konsep tidak melakukan apa-apa dalam satu kata yang pendek dan mudah diucapkan," ujar Olga Mecking, penulis buku Niksen: Embracing the Dutch Art of Doing Nothing.

BACA JUGA:

Lawan Stres dengan Niksen

Dalam buku tersebut, Mecking mendefinisikan niksen sebagai 'tidak melakukan apa-apa tanpa tujuan'. Jadi kamu jadi tidak menonton layar TikTok atau melakukan meditasi. Jika mindfulness adalah tentang hadir pada saat ini, niksen lebih tentang mengukir waktu untuk menjadi apa adanya, membiarkan pikiran mengembara ke mana pun ia ingin pergi.

niksen
Niksen membiarkan pikiran mengembara ke mana pun ia ingin pergi. (Foto: Pexels/Kelvin Valerio)

Secara linguistik, niksen adalah kata kerja yang dibuat dari niks, yang berarti 'tidak melakukan apa-apa'. “Sesuai dengan kecenderungan bahasa Belanda menciptakan kata kerja dari kata benda. Dari voetbal (sepak bola) menjadi voetballen (bermain sepak bola), dari internet menjadi internetten, dari whatsapp menjadi whatsappen. Ini jadi sesuatu yang umum, khususnya di Belanda," kata ahli psikolinguistik Monique Flecken dari Universitas Amsterdam.

Flecken yang meneliti bagaimana bahasa yang kita gunakan mempengaruhi cara kita melihat dunia. Pada dasarnya, mengatakan niksen jauh lebih mudah daripada mengatakan 'tidak melakukan apa-apa'. "Orang Belanda ialah orang yang praktis dan tegas, dan bahasa mereka mencerminkan hal itu," katanya seperti diberitakan BBC (23/5).

BACA JUGA:

Niksen, Cara Mudah Menghalau Stres

Di Belanda, kata tersebut dapat digunakan dalam berbagai cara, baik positif maupun negatif. "Orangtua mungkin berkata kepada anaknya, 'Zit je weer te niksen?' (Apakah kamu tidak melakukan apa-apa lagi?). Dan saya juga akan mengatakan lekker niksen, yang diterjemahkan menjadi 'enak tidak melakukan apa-apa', saat berbicara tentang suatu malam yang bahagia bebas dari tugas atau pekerjaan apa pun," jelas Flecken.

Niksen juga bisa membuat kita lebih produktif, karena istirahat memungkinkan otak kita kembali dengan fokus yang lebih baik dan perhatian yang berkelanjutan.

niksen
Niksen memungkinkan otak kita kembali dengan fokus yang lebih baik. (Foto: Pexels/Alena Shekhovtcova)

Mungkin inilah alasan mengapa orang Belanda tidak bekerja berjam-jam, mereka cenderung sangat efisien dalam bekerja. Bekerja lembur tidak dianjurkan karena bersikap normal saja, itu sudah membuat cukup gila, sebuah budaya di negara yang jujur dan egaliter.

Waktu senggang ketika 'niksen' ini memungkinkan bagi orang Belanda karena negara ini memiliki sistem kesejahteraan yang sangat baik. Meskipun orang cenderung bekerja keras, mereka juga mengambil, dan diberikan, banyak hari libur.(aru)

BACA JUGA:

Kisah Sukses Pria yang Dibayar Untuk Tidak Melakukan Apa-apa

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan