MerahPutih Travel- Kampung halaman pastinya akan menjadi tempat menyenagkan untuk sejenak merebakan badan setelah setahun penuh beraktifitas di kota. Para petani membajak sawah, kerbau-kerbau berendam di kubangan lumpur, gembala-gembala kambing berlarian di padang rumput hijau juga para ayah yang berjaga ronda di tengah malam. Mungkin itulah gambaran kampung halaman yang ada di benak anda.
Tapi gambaran kampung halaman yang hangat sama sekali tidak didapati Ayano Tsukimi (64), perempuan Jepang ini harus mendapati kampung halamannya mati tak berpenghuni.
Terletak di antara lembah-lembah di pulau Shikoku, desa Nagaro menjadi desa mati karena ditinggalkan penghuninya tahun demi tahun.
Puluhan tahun silam Nagoro adalah desa yang ramai, pendudknya banyak berprofesi sebagai petani dan tukang ternak, tapi kini Nagoro benar-benar mati hanya 35 orang yang masih menetap di desa itu.

Ayano Tsukimi membuat orang-orangan sawah untuk menghidupkan desanya kembali
Nagaro banyak ditinggalkan karena tempatnya yang terlalu terpencil, para anak-anak Nagaro yang branjak dewasa lebih memilih untuk tinggal di kota dan mengajak saudara juga orangtuanya ikut bersama karena itulah Nagoro sunyi senyam.
Bukan hanya ditinggalkan, Nagaro semakin “mati” juga diakibatkan karena gempa besar disusul Tsunami yang menyerang laut timur Jepang pada 2011 lalu. Sejak saat itu para pekerja pergi, sekolah ditutup, hingga akhirnya listrik pun berhenti menerangi Nagaro.
Ayano yang juga berasal dari Nagaro tinggal di Osaka, ia sangat sedih ketika mendapati desanya ditinggalkan, orang tua yang dulu ia kenal sudah banyak meninggal dan teman-teman sebayanya sudah pindah ke kota. Untuk itulah ia berusaha menghidupkan kembali Nagaro dengan boneka orang-oranan sawah.

Penduduk Nagoro yang merupakan orang-orangan sawah dalam situasi belajar di sekolah
Ide ini ia dapatkan ketika sedang bertani di desanya itu. Ia mencoba menakut-nakuti gagak dengan orang-orangan sawah yang ia buat mirip dengan ayahnya.
Sejak saat itulah Ayano membuat ratusan orang-orangan sawah yang ia buat mirip dengan penduduk Nagoro yang ia kenal di masa lalu.
Hal ini benar-benar berkerja, usaha Ayano menghidupkan Nagoro berhasil kini desa sunyi itu menjai tempat wisata. Banyak masyarakat Jepang tertarik karena melihat orang-orangan sawah yang seperti hidup dalam desa mati itu.

Para pendudk Nagoro dalam bentuk orang-orangan sawah
Meski terlihat seram dan menakutkan Ayano merasa sangat senang akan usahanya itu, ia menghidupkan kembali suasana sekolah dengan para siswa dan guru, para petani di sawah, para pembelah kayu di hutan dan lain sebagainya.
Bagaimana, apakah anda tertarik untuk mengunjungi desa unik satu ini? Silahkan datang ke pulau Shikoku, Jepang.