BERLIBUR telah menjadi gaya hidup di kalangan milenial. Perjalanan yang dilakukan pun beraneka ragam. Ada yang memilih liburan di pulau yang sama, luar pulau, atau luar negeri. Jenis liburannya juga disesuaikan kemampuan dan selera. Ada yang senang bertualang dengan backpacker atau mengutamakan kenyamanan dengan liburan mewah. Apapun pilihan liburannya, berlibur di usia muda ternyata membawa sejumlah manfaat yang tak kita sadari. Berikut manfaat liburan di usia muda:
1. Melihat Dunia
Menyaksikan animo besar para supporter sepak bola di stadion Allianz Arena, menikmati hembusan udara di antara benua Eropa dan Asia di laut Bosphorus Istanbul, atau merasakan sensasi perang gerilya di Cu Chi Tunnel yang ada di Ho Chi Minh. Setiap sudut dunia menawarkan sensasi berbeda. Hasrat untuk mengeksplorasi keunikan tempat-tempat tersebut bisa kita rasakan di usia muda. Ketika kita masih muda, kita memiliki banyak tenaga dan waktu untuk menjelajahi dunia. Yang perlu dilakukan hanyalah menyisihkan sebagian dari pemasukkan kita untuk melancong ke berbagai tempat di seluruh dunia.
2. Bertemu Orang
Ketika kita berkunjung ke tempat asing, kita akan bertemu orang dari berbagai ras dan latar belakang sosial. Kita pun bisa melihat keberagaman dan mempelajari kebudayaan masyarakat yang kita jumpai. Tanpa disadari kehidupan kita semakin kaya saat menjalin persahabatan dengan orang yang sama sekali berbeda dengan kita. Berjumpa dengan orang-orang dengan latar belakang budaya berbeda juga mengajari kita untuk merangkul, menghilangkan rasa takut, memperkaya pengalaman, dan keluar dari zona nyaman. Keterampilan kita dalam berkomunikasi pun semakin terasah dengan baik.
3. Memperluas Sudut Pandang
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bertemu orang dari berbagai latar belakang kebudayaan membuat kita banyak belajar. Sudut pandang kita lebih luas saat berkomunikasi dengan mereka. Kita lebih mudah menerima perbedaan dan menghargai orang lain. Persahabatan dengan orang dengan bahasa, pola perilaku, warna kulit, atau agama membuat kita menjadi orang yang lebih bijaksana dalam memandang kehidupan dan mampu mengatasi konflik.
4. Rendah Hati
Di usia yang masih sangat muda kita memiliki rasa percaya diri yang terlalu tinggi. Kita berpikir bahwa kita mengetahui berbagai hal yang ada di dunia ini dan mampu menaklukkan dunia. Masa remaja kita pun menjadi anak yang arogan dan mendewakan kebebasan. Kala melancong, terkadang kita dihadapkan pada pilihan sulit dan berat. Pada saat itulah kita melihat dunia lebih besar dari yang kita bayangkan. Kita pun menyadari bahwa segala hal yang ada di dunia ini tak selalu tentang kita. Kita belajar bahwa kita hanyalah seekor ikan kecil di lautan luas. Bukan berarti kita tumbuh rendah diri. Hanya saja kita lebih terbuka untuk belajar dari orang lain dan bersikap lebih rendah hati.
5. Meningkatkan Empati
Berkunjung ke Ho Chi Minh museum kita bisa melihat bukti Perang Amerika-Vietnam mencederai kemanusiaan. Datang ke tempat pengungsian di Lombok Utara untuk membantu meringankan beban mereka. Menyaksikan peperangan dan kelaparan membawa arti mendalam bagi kita. Kita seolah memiliki hubungan erat dengan orang-orang yang menjadi korban. Dampak positifnya yakni kita lebih bersyukur karena memiliki kehidupan lebih baik. Rasa empati kita pun akan tumbuh dan hati kita tergerak untuk memberi bantuan bagi yang membutuhkan. Sedikit demi sedikit sikap egois kita memudar.
6. Meningkatkan Wawasan
Belajar Sejarah dan Geografi di sekolah amat membosankan. Rasanya sulit sekali menghafalkan nama tempat, ibu kota, atau tempat bersejarah yang ada di buku. Namun saat kita langsung berkunjung ke tempat wisata, kita lebih cepat hafal. Ketika melancong, semua indera kita secara aktif mengingat setiap tempat yang kita kunjungi. Kala berkunjung ke NTT kita tahu bahwa pesawat akan mendarat di ibukota NTT yakni Kupang. Liburan ke Danau Toba membuat kita memahami kehidupan Suku Batak. Belajar secara langsung di alam terasa lebih menyenangkan. (avia)