Idul Fitri 2019

Mudik Seru dan Bermakna bersama si Kecil, Mampirlah ke Wisata Sejarah di Subang

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 08 Juni 2019
Mudik Seru dan Bermakna bersama si Kecil, Mampirlah ke Wisata Sejarah di Subang

Subang punya situs sejarah yang seru untuk disambangi. (foto: Instagram @exploresubang/@sibaturaspirman)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SAAT Lebaran, orangtua akan mengajak serta si buah hati untuk mudik bersama ke kampung halaman. Perjalanan yang cenderung panjang membuat anak-anak rentan bosan. Oleh karena itu, orangtua amat disarankan untuk berhenti beberapa kali demi menghindari kebosanan.

Nah, biar enggak sekadar mampir menghilangkan kebosanan, kamu bisa mengajak si kecil mampir ke destinasi bersejarah. Hal itu amat disarankan komunitas peduli sejarah dan budaya Indonesia Hidden Heritage (IHH).

Orangtua bisa memanfaatkan momentum mudik sebagai ajang mengenalkan sejarah kepada anak. “Orangtua dapat memanfaatkan momentum mudik untuk membawa anak-anak mereka mengunjungi destinasi wisata sejarah yang ada di sekitar jalur mudik,” kata Founder Komunitas Indonesia Hidden Heritage Nova Farida Lestari, dalam rilis yang diterima Merahputih.com.

Menurut Nova, pelesir ke destinasi wisata bersejarah dapat meningkatkan kemampuan literasi sejarah di kalangan anak-anak dan remaja yang kini minim. Salah satu jalur mudik yang berada di sekitar destinasi wisata sejarah ialah Subang. “Setidaknya ada empat destinasi wisata sejarah di sekitar Subang yang menarik untuk dikunjungi,” ujar Nova.

Berikut 4 situs bersejarah di Subang yang bisa kamu kunjungi, seperti rekomendasi IHH.

1. Situs Nay Subang Larang

situs nay subang larang
Situs Nay Subang Larang. (foto: ihategreenjello.com)


Dari penelusuran Komunitas Indonesia Hidden Heritage pada Maret 2019, situs Nay Subang Larang bisa jadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi keluarga. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran yang sarat sejarah. Di Situs Nay Subang Larang, orangtua dapat mengajak anak mengenal sejarah dan budaya dengan melihat langsung peninggalan arkeologi Sunda zaman Kerajaan Pajajaran.

Situs Nay Subang Larang dahulu merupakan tempat tinggal Nay Subang Larang, istri raja Pajajaran Prabu Siliwangi. Untuk mencapai gerbang situs, pengunjung harus melalui hutan jati kemudian berjalan kaki melewati pohon-pohon bambu serta area persawahan.
Situs yang terletak di Teluk Agung, Desa Nagerang, Subang, ini ditemukan pada 1979. Baru pada 30 Juni 2011 situs ini diresmikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Bagi kamu yang ingin berkunjung ke sana, IHH menyarankan mengenakan sepatu yang nyaman dan antiselip agar tidak tergelincir saat melalui jalanan yang basah.

2. Wisma Karya

wisma karya subang
Wisma Karya. (foto: istimewa)


Wisma Karya yang merupakan bangunan bersejarah peninggalan masa kolonial juga menarik dikunjungi. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektare itu pada masa pemerintahan Belanda menjadi simbol kejayaan perusahaan perkebunan bernama Pamanoekan & Tjiasem Landen (P&T Land) yang memonopoli lahan-lahan di Subang. P&T Land dimiliki warga negara Belanda sekaligus saudagar kopi bernama Peter Wellem Hofland. Hofland menandatangani kontrak kerja sama dalam bidang perdagangan kopi dengan pemerintah Hindia-Belanda pada 1840. Di 1858, ia berhasil mengambil alih seluruh tanah partikelir P&T Land menjadi milik pribadinya. Selain sukses berbisnis kopi, PW Hofland juga pernah ditunjuk menjadi demang oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Untuk membuat dirinya eksklusif di tanah jajahannya, Hofland bersama delapan demang mendirikan gedung bernama Societe sebagai tempat berkumpul kelompok masyarakat eksklusif (societe). Gedung yang terletak di Jalan Ade Irma Suryani Nasution Nomoer 2, Karanganyar, Subang, tersebut kini dinamai Wisma Karya.


3. Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma

museum amerta subang
Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma. (foto: istimewa)

Selain gedung bersejarah, jejak kolonial di Subang juga bisa disaksikan di Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma. Di museum ini, kamu bisa melihat bangunan bersejarah yang dahulu merupakan sekolah penerbangan pertama di Indonesia. Di sana jugua ada pesawat-pesawat layang berusia lebih dari 100 tahun.

Pesawat-pesawat tua tersebut masih terpelihara dengan baik. Sejarah Lanud Suryadarma dimulai pada 30 Mei 1914. Ketika itu, Belanda membangun satuan udara bernama Proef Vlieg Afdeling (PVA) atau Bagian Penerbangan Percobaan sebagai bagian dari pasukan Belanda di Hindia-Belanda, KNIL.

Sejak saat itu, lapangan udara di Kalijati beroperasi dengan kondisi sederhana. Lapangan udara militer tertua di Indonesia tersebut masih berupa rumput dan bangsal-bangsal dari bambu.

Bangunan dan fasilitas, termasuk gedung markas pangkalan baru selesai dibangun pada 1917. Sementara itu, Museum Amerta Dirgantara Mandala diresmikan pada 1962.


4. Museum Rumah Sejarah Kalijati

rumah kalijati subang
Rumah Kalijati, Subang. (foto: Istimewa)

Saat mengunjungi kawasan Lanud Suryadarma, jangan lewatkan Museum Rumah Sejarah Kalijati. Museum ini merupakan saksi bisu penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang pada 8 Maret 1942. Rumah Sejarah Kalijati merupakan tempat penentu berakhirnya kekuasaan Belanda dan dimulainya pendudukan Jepang.

Setelah serangan tiba-tiba dari balatentara Jepang, Belanda yang tidak siap menghadapinya terpukul mundur hingga akhirnya mengalami kekalahan. Setelah itu, Panglima Ter Poorten mengajukan perundingan.

Dalam perundingan tersebut Jenderal Imamura meminta agar Panglima Ter Poorten menyerah tanpa syarat dan menyerahkan seluruh Tentara Hindia-Belanda.

Jepang mengancam akan menghujani Bandung dengan bom dari udara jika Poorten tidak bersedia memenuhi permintaan tersebut. Poorten akhirnya menyetujuinya dan menandatanganj perjanjian penyerahaan kekuasaan Hindia-Belanda tanpa syarat.(*)

#New Hope #Idul Fitri 2019 #Wisata
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Travel
Kapal Pesiar Mewah Terdampar di Kamboja, Boncos Bahan Bakar Mahal
Kapal ini berangkat dari Belfast pada Oktober 2024 untuk melakukan pelayaran berkelanjutan keliling dunia.
Dwi Astarini - Rabu, 28 Oktober 2026
Kapal Pesiar Mewah Terdampar di Kamboja, Boncos Bahan Bakar Mahal
Indonesia
Tiket Masuk Ancol Diusulkan Gratis untuk Warga Jakarta, Begini Respons Pramono
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan tiket masuk Ancol tak bisa gratis. Hanya penerima KJP yang bisa menikmatinya.
Soffi Amira - Rabu, 28 Oktober 2026
Tiket Masuk Ancol Diusulkan Gratis untuk Warga Jakarta, Begini Respons Pramono
Infografis
Negara-Negara Underrated yang Bisa Dikunjungi Tanpa Ribet Bikin Visa, Yuk Masukkan Ke Itinerary!
MPpeeps jiwa petualang pasti merasa puas jika mengunjungi destinasi wisata unik yang ada di seluruh dunia!
Rezita Kesuma - Senin, 26 Oktober 2026
Negara-Negara Underrated yang Bisa Dikunjungi Tanpa Ribet Bikin Visa, Yuk Masukkan Ke Itinerary!
Travel
Menikmati Jeda di Tengah Alam, Cobain Airbnb Experiences Bertema Alam dan Aktivitas Outdoor di Bali
Nature & Outdoor Experiences menawarkan beragam cara bagi wisatawan untuk menikmati keindahan alam Bali dengan cara yang berbeda.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
Menikmati Jeda di Tengah Alam, Cobain Airbnb Experiences Bertema Alam dan Aktivitas Outdoor di Bali
Indonesia
Pelanggan Kereta Panoramic Naik, KAI Catat 140.583 Orang hingga Agustus 2026
Pelanggan Kereta Panoramic mencapai 140.583 orang sepanjang Januari-Agustus 2026, tumbuh 62,86 persen dibandingkan periode yang sama 2025.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 06 Oktober 2026
Pelanggan Kereta Panoramic Naik, KAI Catat 140.583 Orang hingga Agustus 2026
Travel
Menikmati Sisi Lain Bali bersama Masyarakat Lokal, Menengok Konservasi Kunang-Kunang di Ubud
Dengan cara tak biasa, Wayan memutuskan membagikan upaya konservasinya melalui Airbnb Experiences.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Menikmati Sisi Lain Bali bersama Masyarakat Lokal, Menengok Konservasi Kunang-Kunang di Ubud
Travel
TIPTIP Group Luncurkan SatuSatu Partner Portal, Buka Keran Cuan Baru buat Agen Perjalanan Kenalkan Pengalaman Lokal
Industri pariwisata Indonesia berada di ambang era baru yang sangat dinamis.
Dwi Astarini - Sabtu, 12 September 2026
TIPTIP Group Luncurkan SatuSatu Partner Portal, Buka Keran Cuan Baru buat Agen Perjalanan Kenalkan Pengalaman Lokal
Indonesia
Pariwisata Flores Tetap Hidup Walau Status Tanggap Darurat Bencana Diperpanjang Pemerintah
Kawasan wisata Danau Kelimutu sudah kembali beroperasi pascagempa
Angga Yudha Pratama - Senin, 31 Agustus 2026
Pariwisata Flores Tetap Hidup Walau Status Tanggap Darurat Bencana Diperpanjang Pemerintah
Fun
Australia Barat Tawarkan Destinasi Liburan Keluarga dengan Alam yang Tenang dan Aktivitas Edukatif
Australia Barat menawarkan berbagai destinasi wisata ramah keluarga, mulai dari Busselton Jetty, Ngilgi Cave, hingga Lucky Bay yang dihuni kanguru liar.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 03 Agustus 2026
Australia Barat Tawarkan Destinasi Liburan Keluarga dengan Alam yang Tenang dan Aktivitas Edukatif
Indonesia
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Stasiun Yogyakarta kini memiliki Lelana Gallery yang menampilkan produk UMKM berbasis budaya dan keberlanjutan. Inisiatif KAI Wisata ini mendukung ekonomi kreatif lokal.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 16 Juli 2026
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Bagikan