PROGRAM penurunan berat badan masih kerap dilakukan banyak orang. Berbagai usaha ditempuh demi mendapatkan bentuk tubuh ideal.
Ada yang memilih diet, olahraga atau sekedar minum pil pelangsing. Padahal, berat badan ideal takkan didapat begitu saja dengan satu usaha. Ada berbagai faktor yang harus diperhatikan agar program penurunan berat badan tak berakhir sia-sia. Berikut faktor penentu keberhasilan penurunan berat badan:
Pekerjaan
Salah satu koresponden peneliti Stanford, DIETFITS, Todd Moore mengungkapkan jika ia kehilangan berat badannya 58 pounds setelah menjalani diet rendah karbohidrat selama setahun.
Rupanya bukan hanya pola makan sehat yang membuat berat badannya cepat turun. Pekerjaan juga berkontribusi terhadap kesuksesan seseorang dalam menurunkan berat badan.
Todd bekerja sebagai teknisi elektro di perusahaan kesehatan. Pekerjaannya membuat ia harus memiliki mobilitas tinggi. Ia harus terus bergerak, memperbaiki CT Scanner atau X-Ray dan membawa peralatan berat.
Tak hanya itu, Todd memilih untuk pergi dan pulang kantor dengan berjalan kaki.
Lingkungan
Ilmuwan Stanford, Christopher Gardner mengatakan bahwa lingkungan tempat tinggal kita berdampak pada pola hidup. Seorang imigran Jerman bobotnya bertambah saat ia tinggal di Amerika. Hal tersebut karena adanya perbedaan budaya dan gaya hidup di kedua negara tersebut. Di Jerman, orang lebih memilih memasak sendiri makanannya daripada pergi ke restoran. Selain itu, orang Jerman terbiasa berjalan kaki setiap harinya.
Di Indonesia sendiri, program penurunan berat badan menjadi tantangan tersendiri. Banyaknya restoran yang menawarkan menu variatif dan atmosfer yang unik membuat kita terbiasa makan di luar rumah. Selain itu, keberasaan ojek online membuat kita malas keluar rumah dan berjalan kaki.
Kesehatan
Seorang koresponden DIETFITS, Dawn Diaz kehilangan bobotnya 47 pounds setelah menjalani diet rendah lemak. Ketika ditanya apa motivasinya, dirinya mengatakan bahwa seorang saudara perempuannya didiagnosa penyakit kanker. Penyakit yang diidap saudaranya membuat ia mengubah pola makannya.
Menurut Gardner, ketika kita melihat anggota keluarga memiliki masalah kesehatan, kita tergerak untuk mengubah pola hidup kita. Kita akan berusaha keras memperbaiki pola hidup kita menjadi lebih sehat. Hal tersebut terjadi agar tak mengalami hal serupa.
Selain itu, kekhawatiran anggota keluarga akan pola hidup kita yang tidak sehat juga membuat kita termotivasi untuk mengubah pola hidup. Misalnya, jika seorang perokok mendapat nasihat dari anggota keluarganya untuk berhenti merokok, perlahan-lahan ia akan menghentikan kebiasaan tersebut.
Kualitas Makanan
Memperhatikan kualitas makanan jauh lebih penting daripada memilih makanan yang rendah lemak atau rendah karbohidrat. Kualitas makanan akan lebih mudah terjaga apabila kita mempersiapkan sendiri makanan kita di rumah. Perbanyak asupan berbahan sayuran dan ikan-ikanan. Kurangi makanan olahan dan produk-produk yang mengandung gula tambahan. Dengan memperhatikan kualitas tersebut, berat badan kita lebih mudah untuk dikendalikan. (avia)