MerahPutih.com - Nilai tukar (kurs) rupiah masih dalam kondisi tertekan. Pada penutupan perdagangan Senin (26/5) melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 17.744 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.717 per dolar AS.
Ekonom mendorong penguatan fundamental ekonomi nasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menyusul pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilai menjadi sinyal perlunya penguatan sektor riil dan produktivitas domestik.
Tekanan global memang memengaruhi banyak mata uang negara berkembang. Namun fakta empiris menunjukkan bahwa dalam satu hingga dua tahun terakhir cukup banyak mata uang dunia justru menguat terhadap dolar AS,
kata Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi dan Pembangunan Universitas Binawan Farouk Abdullah Alwyni.
Pelemahan rupiah yang menyentuh level historis terhadap dolar AS tidak dapat dipandang semata sebagai dampak penguatan mata uang global, melainkan juga sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara lebih menyeluruh.
Ia menilai sejumlah mata uang seperti Ringgit Malaysia, Euro, Swiss Franc, hingga beberapa mata uang negara berbasis komoditas dan emerging markets justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS, sehingga kondisi tersebut menunjukkan adanya ruang pembenahan pada struktur ekonomi domestik.
Stabilitas rupiah, kata ia, tidak cukup dijaga hanya melalui intervensi pasar valuta asing maupun penyesuaian suku bunga.
Menurut dia, kebijakan moneter tetap penting untuk menjaga stabilitas jangka pendek, namun penguatan nilai tukar dalam jangka menengah dan panjang sangat ditentukan oleh kekuatan sektor riil.
Ia menekankan pentingnya penguatan daya beli masyarakat dan perlindungan terhadap kelas menengah sebagai penopang utama konsumsi nasional, penerimaan pajak, serta stabilitas permintaan domestik.
Pelemahan kelompok ini pada akhirnya akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan rupiah itu sendiri,
ujarnya.

