Merahputih.com - Majelis Pakar secara resmi mengonfirmasi terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran menggantikan mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Meski dikabarkan mengalami luka-luka akibat serangan militer, kondisi kesehatan suksesor kekuasaan di Republik Islam tersebut dinyatakan tetap stabil dan dalam pemantauan ketat.
Baca juga:
Pemimpin Tertinggi Iran Terpilih Mojtaba Khamenei Terluka, tetap dalam Kondisi Baik
Kondisi Kesehatan dan Suksesi Kepemimpinan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memberikan keterangan resmi mengenai keadaan pemimpin baru tersebut di tengah ketegangan yang meningkat. Penunjukan ini terjadi setelah masa ketidakpastian pasca tewasnya pemimpin sebelumnya.
"Mojtaba terluka, tetapi kondisinya baik. Belum ada kepastian kapan pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Iran akan disampaikan," ujar Baghaei kepada surat kabar Corriere della Sera.
Baghaei juga mengungkapkan bahwa awalnya terdapat tiga hingga empat kandidat kuat yang bersaing memperebutkan posisi strategis tersebut.
Namun, mayoritas anggota Majelis Pakar pada akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Khamenei Jr. sebagai sosok yang tepat memimpin negara.
Penolakan Gencatan Senjata dan Kedaulatan Negara
Terkait situasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, Teheran menunjukkan sikap keras. Iran menganggap tawaran penghentian permusuhan di masa lalu hanyalah strategi politik yang tidak memberikan jaminan keamanan bagi kedaulatan wilayah mereka.
"Pada Juni 2025, setelah 12 hari, Amerika Serikat dan Israel mengajak berhenti, dan Iran menuruti. Ajakan gencatan senjata itu adalah sandiwara lucu. Itulah mengapa seluruh negeri sekarang bertekad untuk membela diri," tegas Baghaei.
Baca juga:
Temui Dubes Iran, Megawati Ucapkan Selamat kepada Mojtaba Khamenei
Agresi militer yang terjadi sejak 28 Februari lalu telah memicu kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil di tanah Iran. Sebagai respons, militer Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam keras tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.