MERAHPUTIH.COM — KUBA kembali mengalami pemadaman listrik nasional, Selasa (15/7). Pemadaman total di seluruh wilayah negara itu merupakan pemadaman berskala nasional yang ketiga dalam dua pekan terakhir. Blackout nasional terjadi di tengah krisis bahan bakar yang semakin membebani sistem kelistrikan pulau tersebut.
Persediaan bahan bakar di Kuba terus menipis sejak Januari, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang menjual atau memasok minyak ke Kuba. Kebijakan tersebut memperdalam krisis ekonomi dan keuangan yang telah lama melanda negara tersebut.
Sebagai dampaknya, sebagian besar layanan transportasi umum terhenti dan puluhan ribu operasi medis terpaksa dibatalkan. Saat ini, Kuba hanya mampu memproduksi sekitar 40 persen dari kebutuhan bahan bakar mereka, sedangkan solusi untuk mengamankan pasokan impor belum terlihat.
Baca juga:
Harapan Baru untuk Kuba, PBB Sepakat Kaji Ulang Embargo AS Selama 66 Tahun
Utamakan Pasokan Listrik ke Fasilitas Prioritas
Perusahaan listrik milik negara, Electric Union, menyatakan gangguan bermula dari masalah pada salah satu unit pembangkit di Provinsi Holguin, wilayah timur Kuba. Gangguan tersebut memicu perubahan frekuensi listrik secara mendadak yang menyebabkan Sistem Kelistrikan Nasional (SEN) padam sekitar tengah hari.
Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba bersama Electric Union mengatakan protokol pemulihan telah diaktifkan. Otoritas membentuk jaringan listrik sementara atau micro-islands yang kemudian dihubungkan secara bertahap untuk memulihkan pasokan listrik ke fasilitas-fasilitas prioritas, seperti rumah sakit dan pabrik pengolahan makanan.
Hingga Selasa sore, sebagian wilayah ibu kota Havana telah kembali dialiri listrik. Berdasarkan laporan otoritas, sekitar 4 persen wilayah kota telah mendapatkan kembali pasokan listrik. Sementara itu, Provinsi Guantanamo dan Cienfuegos mulai menyalurkan listrik ke rumah sakit, sedangkan Kota Matanzas melaporkan pasokan listrik telah pulih di kawasan pusat bersejarah mereka.
Blackout Berulang Memaksa Improvisasi
Pekan lalu, Kuba juga mengalami dua pemadaman listrik nasional, yakni pada Senin dan Jumat. Pemadaman itu membuat lebih dari 9 juta penduduk kehilangan aliran listrik. Sebelumnya, dua pemadaman serupa juga terjadi pada Maret. Selain itu, sejumlah gangguan listrik regional juga pernah terjadi. Serangkaian pemadaman tersebut memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Selain mengganggu transportasi, kondisi itu memaksa pengurangan jam kerja, pembatalan penerbangan, serta menimbulkan konsekuensi serius bagi layanan kesehatan.
Pemadaman listrik menghambat aktivitas sehari-hari, seperti memasak, distribusi air bersih, hingga layanan internet dan telepon. Namun, bagi warga Havana, kondisi tersebut bukan lagi hal yang mengejutkan.
"Pemadaman seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di Kuba. Justru kalau tidak terjadi apa-apa, itu yang terasa aneh," kata Roberto Liana, 69, seorang pegawai toko, dikutip The Korea Times.
Di lain sisi, banyak warga berusaha beradaptasi dengan situasi tersebut. "Kami terus berimprovisasi dan melakukan apa pun yang kami bisa," ujar warga lainnya, Sayli Aguilera, 25.
Untuk mengatasi krisis listrik yang berkepanjangan, banyak keluarga kini memasang sistem cadangan tenaga surya berupa panel surya dan baterai portabel. Sementara itu, sepeda motor listrik dan becak listrik yang ditenagai panel fotovoltaik menjadi moda transportasi utama bagi banyak warga Kuba.(dwi)
Baca juga:
Kirim USS Abraham Lincoln, Trump Ancam Bakal Lenyapkan Kuba dalam Sekejap

