MerahPutih.com - Pengamat perkeretaapian Joni Martinus mengecam usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi terkait pemindahan gerbong KRL khusus wanita ke bagian tengah rangkaian Commuter Line.
“Wacana tersebut tidak relevan dan berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam operasional di lapangan,” jelas Joni di Jakarta, Kamis (30/4).
Menurut Joni, penempatan gerbong khusus wanita di tengah rangkaian justru membuka peluang penumpang pria melintas untuk berpindah gerbong, sehingga fungsi pemisahan menjadi tidak optimal.
“Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan kebingungan penumpang dalam menentukan posisi gerbong saat kereta tiba di stasiun,” tutur Joni yang juga mantan Coorporate Secretary KCI ini.
Baca juga:
MTI Kritik Usulan Menteri PPPA soal Posisi Gerbong Wanita di KRL, Nyawa Semua Penumpang Penting
DPR Kritik Usulan Menteri PPPA Pindahkan Gerbong Wanita: Bukan Solusi Utama Keselamatan
Menteri PPPA Usulkan Gerbong KRL Khusus Laki-Laki di Ujung, KAI Tegas Menolak
Selain itu, penempatan di tengah juga berpotensi memicu kepadatan lebih tinggi karena penumpang harus bergerak menuju bagian tengah rangkaian.
“Ini akan menyulitkan, terutama bagi perempuan hamil, lansia, maupun ibu yang membawa anak kecil,” ujar Joni.
Ia menegaskan bahwa keberadaan gerbong khusus wanita sejatinya merupakan layanan tambahan, bukan faktor utama dalam keselamatan perjalanan kereta api.
Sebaliknya, Joni menilai penempatan gerbong khusus wanita di bagian paling depan dan belakang rangkaian sudah tepat.
“Posisi tersebut dinilai lebih memudahkan akses bagi penumpang perempuan, khususnya kelompok rentan, tanpa harus berdesakan menuju bagian tengah kereta,” tutup Joni yang puluhan tahun berkarir di KAI ini. (Knu)