Fashion

Kondisi Iklim Bumi Ikut Mempengaruhi Industri Fesyen

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Selasa, 23 April 2019
Kondisi Iklim Bumi Ikut Mempengaruhi Industri Fesyen

Iklim bumi yang mempengaruhi industri fesyen. (Foto: instagram @thexsoloist)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

FESYEN merupakan suatu bidang yang tidak bisa dipisahkan dari jati diri manusia. Sebagai sarana untuk mengekspresikan, bahkan melampiaskan diri sendiri, fesyen juga bisa menjadi sumber mata pencaharian, pelarian, bahkan sarana pencarian identitas bagi sebagian orang tertentu.

Makna fesyen sendiri berbeda-beda bagi setiap orang, namun nampaknya berbagai beragam fenomena telah mengubah pandangan berbagai orang mengenai fesyen. Karena fesyen menjadi salah satu faktor terbesar penyebab kerusakan bumi, ternyata minat serta permintaan konsumen item fesyen juga berubah seiring dengan waktu.

1. Fesyen merupakan industri penyebab polusi keenam terbesar di dunia

Kondisi Iklim Bumi Ikut Mempengaruhi Industri Fesyen
Industri fesyen menjadi penyebab polusi keenam terbesar di dunia. (Foto: hypebeast.com)

Tentu telah menjadi pengetahuan umum bagi semua orang bahwa saat ini bumi kita sedang mengalami krisis. World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa 92% dari populasi orang di dunia menghirup udara yang telah terkontaminasi oleh polusi tepatnya partikel seperti sulfat, nitrat, amonia, natrium klorida, karbon hitam, debu mineral, dan air. Ini belum termasuk polusi seperti nitrogen oksida atau ozon yang belum diketahui.

Setelah industri yang bergerak di bidang listrik dan panas (24,9%), pertanian (13,8%), transportasi jalan (10,5%), produksi gas dan minyak (6,4%), serta peternakan (5,4%). Fesyen menjadi industri pencemar lingkungan ke-enam terbesar di dunia menurut theguardian.

2. Berubahnya pandangan, sikap, dan pertimbangan konsumen dalam kehidupan konsumtif

Kondisi Iklim Bumi Ikut Mempengaruhi Industri Fesyen
Antrian Yeezy 350 Boost Pirate Black di Sole What. (Foto: MASSES)

Produk sustainable merupakan berbagai barang yang sebisa mungkin bisa memberikan keuntungan pada lingkungan, sosial, maupun ekonomi dan berusaha melindungi dan mempertahankan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Produk-produk sustainable juga biasanya telah dipikirkan siklusnya mulai dari ekstrasinya dari bahan baku sampai pembuangan akhir dan terurai.

Dulu, barang-barang yang sustainable belum terlalu menjadi sorotan bagi para konsumen, dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Smith Business Insight pada tahun 2014 lalu.

Penelitian ini menunjukkan survey yang hasilnya mengatakan bahwa 99% orang akan membeli produk sustainable jika ada kesempatan. Namun survei ini membuahkan kesimpulan yang terbalik dengan kenyataan. Jika dibandingkan dengan hasil penjualan produk, hanya 15-20% orang yang benar-benar menggunakan barang sustainable.

Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Chris Raeburn, desainer asal Inggris yang telah memenangkan berbagai penghargaan seperti British Fashion Award, UK Fashion and Textile Awards, UKFT Awards, yang telah bekerjasama dengan Victorinox, mengatakan bahwa ketertarikan konsumen terhadap produk sustainable sesungguhnya telah meningkat.

Pengetahuan orang-orang tentang barang sustainable semakin meningkat, dan juga ketertarikan orang-orang mengenai barang seperti itu juga semakin meningkat.

Hardy Bleachman, penemu brand streetwear asal London bernama Maharishi juga berpendapat sama. Dia berpendapat bahwa konsumer telah semakin awas dan perduli terhadap planet yang semakin teracuni.

Semakin berubahnya minat beli konsumen, maka tentunya ini menjadi masalah yang krusial bagi para produsen pakaian besar dan para e-commerce di dunia.

3. Industri fesyen harus mulai memproduksi barang sustainable yang tinggi

Kondisi Iklim Bumi Ikut Mempengaruhi Industri Fesyen
Produksi barang sustainable membuat brand fesyen mendapatkan untung menipis. (Foto: Global Stewards)

Memproduksi barang-barang yang full sustainable bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Bagaimana caranya para pabrik perusahaan menemukan supplier yang tepat dengan bahan yang ekuivalen dan sustainable namun tetap mempertahankan harga yang terjangkau.

Menurut Jacob Kampp Berliner, investor dan business developer yang telah berkecimpun di dunia entertaimen mengatakan bahwa permasalahan para pemilik perusahaan pakaian adalah tentang harus memulainya darimana. "Kami tidak ingin menaikkan harga jual, tapi dengan mengganti produksi dan fabrik, kami semakin mendapatkan keuntungan yang tipis."

Salah satu masalah paling utama adalah mencari supplier bahan material yang ramah lingkungan. Problem kebanyakan produsen pakaian, meskipun telah tergolong industri yang besar, adalah minimun pemesanan untuk bahan yang benar-benar bisa di daur ulang 100%.

Kemudian belum lagi membahas tentang kesejahteraan desainer-desainer yang semakin mendapatkan kesulitan karena keuntungan yang semakin menipis.

Kualitas yang baik, harga yang murah, lingkungan yang sedang krisis, dan masalah kesejahteraan para desainer, apakah solusi dari masalah ini?

4. Hanya tersisa waktu 12 tahun lagi untuk bisa mencegah perubahan iklim

Kondisi Iklim Bumi Ikut Mempengaruhi Industri Fesyen
Perubahan iklim masih bisa diselamatkan dalam waktu 12 tahun tersisa. (Foto: landingsnews.com)

Pada Oktober 2018, hasil penelitian dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengatakan bahwa hanya dalam 12 tahun kedepan kita masih bisa membalikkan efek dari perubahan iklim. Maka dari itu sebagai industri ke-enam yang paling membahayakan planet kita ini, produk sustainable dapat menjadi solusi dengan efek terbesar bagi permasalahan ini.

Perubahan iklim juga telah membuat para brang semakin waspada untuk menjaga lingkungan, mengambil Chanel sebagai contoh. Sarah Ditty, policy director Fashion Revolution mengatakan bahwa sejak bertahun-tahun Chanel tidak pernah membahas mengenai barang yang ramah lingkungan, sampai pada beberapa bulan lalu ketika Chanel mempublikasikan Report to Society.

5. Bagaimana dengan perusahaan mode populer?

Kondisi Iklim Bumi Ikut Mempengaruhi Industri Fesyen
Bagaimana dampak perusahaan mode. (Foto: BRigham Yen)

Kewaspadaan terhadap lingkungan telah memberikan tekanan bagi perusahaan brand terbesar di dunia. Apakah mereka bisa mendukung lingkungan dengan menghasilkan barang-barang dengan kualitas yang tahan lama, ataukah hanya semata-mata untuk mengikuti tren dengan kualitas yang tergolong biasa saja.

Sesungguhnya produsen pakaian besar dikatakan memainkan peran besar 'menghancurkan' bumi, dan sesungguhnya mereka bertanggung jawab atas penganiayaan hak asasi manusia pada rantai pasokan global. (shn)

#Hari Bumi #APRIL EKSIS #Fashion #Industri Tekstil #Industri Kreatif
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fashion
Bawa Koleksi Berkelanjutan di JFW 2027, Jenama Asal Korsel Kimoui Incar Vendor Bahan Ramah Lingkungan Indonesia
Daya tarik eksplorasi material tersebut mendorong Kimoui untuk membuka peluang kerja sama dengan industri tekstil di Indonesia.
Dwi Astarini - Senin, 02 November 2026
Bawa Koleksi Berkelanjutan di JFW 2027, Jenama Asal Korsel Kimoui Incar Vendor Bahan Ramah Lingkungan Indonesia
ShowBiz
Bintang 'DoTS' Jalan di Runway Jenama Korea, Dian Sastro Sampai Eva Celia Tampil Memukau di JFW 2026
Aktris pemeran adaptasi 'Descendants of the Sun', seperti Dian Sastro hingga Eva Celia, tampil elegan lewat rancangan khusus desainer Kim Dae-sung.
Dwi Astarini - Senin, 02 November 2026
Bintang 'DoTS' Jalan di Runway Jenama Korea, Dian Sastro Sampai Eva Celia Tampil Memukau di JFW 2026
Fashion
Fashion Kode Korea Selatan Dorong Desainer Indonesia Konsisten Berkarya
Upaya Kocca memboyong para praktisi mode fesyen Tanah Air tersebut merupakan implementasi kolaborasi yang nyata antara pihaknya dan JFW.
Dwi Astarini - Senin, 02 November 2026
Fashion Kode Korea Selatan Dorong Desainer Indonesia Konsisten Berkarya
Fashion
Lewat K-Drama, JFW dan Kocca Kenalkan Fashion 2 Negara
Memanfaatkan K-drama untuk promosi koleksi baju.
Dwi Astarini - Senin, 02 November 2026
Lewat K-Drama, JFW dan Kocca Kenalkan Fashion 2 Negara
Fashion
Perkara Desain Logo Mirip, Adidas Gugat Merek Australia White Fox
Merek apparel olahraga raksasa asal Jerman ini menilai desain tersebut ‘mirip secara menyesatkan’ dengan logo khas mereka, the three stripes.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
Perkara Desain Logo Mirip, Adidas Gugat Merek Australia White Fox
ShowBiz
NODA Entertainment Punya Cara Berbeda Mengembangkan Kolaborasi Musik dan Talenta Independen
NODA Entertainment memperluas kolaborasi dengan musisi dan talenta independen Indonesia melalui berbagai proyek, termasuk Room Service.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 04 Oktober 2026
NODA Entertainment Punya Cara Berbeda Mengembangkan Kolaborasi Musik dan Talenta Independen
Fashion
Inovasi dan Diversifikasi, Jalan Baru Pelestarian Batik
Batik perlu terus beradaptasi dengan perkembangan tren fesyen agar dapat memperluas pasar.
Dwi Astarini - Sabtu, 03 Oktober 2026
Inovasi dan Diversifikasi, Jalan Baru Pelestarian Batik
ShowBiz
Celine Dion Kejutan Paris Fashion Week 2026, Tampil Enerjik dengan ‘I’m Alive’
Dion tampil tepat di bawah Menara Eiffel yang terkenal di kota tersebut.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Celine Dion Kejutan Paris Fashion Week 2026, Tampil Enerjik dengan ‘I’m Alive’
Fashion
Fast Fashion So Yesterday, 'Minimalisme Elegan' Ambil Alih Tren Tampilan Minimal dengan Bahan Berkualitas
Minimalisme elegan mendominasi pasar dengan merek-merek yang menekankan identitas mereka melalui bahan berkualitas tinggi.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
 Fast Fashion So Yesterday, 'Minimalisme Elegan' Ambil Alih Tren Tampilan Minimal dengan Bahan Berkualitas
Indonesia
Menko Airlangga: Industri Tekstil Bukan Sunset Industry, Masih Terbuka Ruang Ekspansi
Airlangga Hartarto menyebut industri tekstil bukan sunset industry. Sektor TPT menyumbang 0,97% PDB, menyerap 4 juta tenaga kerja dan ekspor US$12 miliar.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 23 September 2026
Menko Airlangga: Industri Tekstil Bukan Sunset Industry, Masih Terbuka Ruang Ekspansi
Bagikan