Merahputih.com - Ekspor Jakarta 2026 menunjukkan performa gemilang pada kuartal pertama dengan komoditas logam mulia, perhiasan, dan permata sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi internasional ibu kota.
Data terbaru menunjukkan bahwa sektor ini mendominasi struktur perdagangan luar negeri Jakarta di tengah fluktuasi pasar global yang dinamis.
Baca juga:
Update Harga Emas 2 Mei 2026: Antam Tembus Rp 2,9 Juta per Gram, UBS Melemah
Dominasi Kilau Logam Mulia
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat logam mulia dan perhiasan memegang pangsa pasar ekspor terbesar mencapai 26,08 persen selama periode Januari-Maret 2026. Lonjakan nilai ekspor pada sektor ini mencapai angka yang sangat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
"Sektor ini menunjukkan lonjakan nilai ekspor yang sangat impresif yakni tumbuh sebesar 46,90 persen pada triwulan pertama tahun 2026," kata Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, Senin (4/5).
Selain emas, sektor otomotif juga menunjukkan taji. Komoditas kendaraan dan bagiannya menyumbang andil 16,35 persen terhadap total ekspor, dengan kenaikan nilai sebesar 13,09 persen. Namun, sektor alas kaki justru mengalami kontraksi sebesar 8,40 persen meskipun masih memberikan kontribusi sebesar 16,13 persen.
Thailand Jadi Mitra Strategis Utama
Thailand muncul sebagai negara tujuan utama ekspor Jakarta dengan kontribusi mencapai 23,73 persen. Lonjakan permintaan dari Negeri Gajah Putih tersebut didominasi secara masif oleh logam mulia dan perhiasan yang mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 164,60 persen.
Selain itu, mesin peralatan mekanis serta kendaraan juga mencatatkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 19,41 persen dan 10,43 persen.
Baca juga:
Biaya Kemasan Plastik Melonjak, Harga Minyak Goreng Terpicu Naik
Kadarmanto menjelaskan bahwa posisi Amerika Serikat dan Tiongkok tetap krusial bagi perdagangan Jakarta. Amerika Serikat menyerap 11,21 persen ekspor yang didominasi produk alas kaki dan perikanan, sementara Tiongkok mengambil andil 8,87 persen dengan produk lemak dan minyak nabati sebagai komoditas utama.
"Di tingkat regional Malaysia, Jepang, dan Filipina turut memperkuat jaringan perdagangan internasional dengan kontribusi masing-masing sebesar 5,21 persen; 4,89 persen; dan 4,46 persen," tutup Kadarmanto.