MerahPutih.com - Cesc Fabregas punya alasan kuat untuk tetap di Como. Ia mengaku senang dengan apa yang telah dilakukan sehingga kemungkinan membuat sejumlah klub gigit jari.
Ya, Fabregas telah dikaitkan dengan begitu banyak klub besar selama setahun terakhir.
Ketertarikan padanya berpontensi meningkat setelah membawa Como memastikan tempat di kompetisi paling bergengsi di sepak bola klub Eropa, Liga Champions.
Saya sangat bahagia di sini. Saya sangat senang dengan apa yang kami lakukan di sini,
ujar Fabregas.
“Saya baru saja berusia 39 tahun beberapa minggu yang lalu, seperti yang dikatakan Jose Mourinho, masih ada jalan panjang sampai saya mencapai usia 80 tahun."
Cesc memastikan tim meraih tiket Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub, setelah menaklukkan Cremonese 4-1 di Stadio Giovanni Zini, Minggu (24/5).
Baca juga:
Tambahan tiga poin membuat Como mengakhiri Liga Italia Serie A di posisi 4 dengan 71 poin.
Lihat postingan ini di Instagram
Cesc sudah yakin Liga Champions akan ditapaki sebelum laga pamungkas Liga Italia Serie A itu.
Saya merasakannya bahkan sebelum kami menghadapi Parma. Saya yakin bahwa dengan dua kemenangan, kami akan berada di Liga Champions,
ujar Fabregas dikutip dari Football Italia.
Fabregas melukiskan perjalanan Como musim ini seperti seorang pembalap yang berhasil menyalip di detik-detik terakhir untuk memenangkan perlombaan.
Meski harus bergantung pada hasil pertandingan lain untuk memastikan tempat di Liga Champions, Fabregas tidak mempedulikan skor di San Siro atau Stadio Bentegodi saat pertandingan berlangsung.
Kami adalah tim muda, dengan 15 pemain berusia di bawah 23 tahun. Ini adalah mahakarya dari seluruh tim yang selalu berusaha lebih dan menaikkan standar pada saat yang tepat,
papar Fabregas.
Kedatangan Fabregas ke Como membawa perubahan besar. Ketika pertama kali tiba, Como masih berlaga di Serie B dan kondisi klub jauh dari ideal.
Baca juga:
Finis di Posisi 6 Serie A 2025/26, AC Milan Gagal Amankan Tiket Liga Champions Musim Depan
Fabregas terlibat langsung dalam membangun fasilitas latihan klub yang awalnya sangat minim.
“Saya selalu mengatakan bahwa saya harus membuat banyak keputusan di sini, karena saya praktis diberi kendali penuh atas sisi sepak bola, dan praktis tidak ada apa pun ketika kami memulai," kenang Fabregas.
"Dulu kami harus melakukan pijat di meja belakang sebuah bar karena tidak memiliki tempat latihan. Kini kami berada di Liga Champions." (*)

