MerahPutih Internasional- Peperangan di atas muka bumi ini tak kunjung usai. Banyak negara yang masih dalam masa penjajahan. Bukan hanya itu, kelompok ekstremis seperti ISIS dan Al-Qaeda pun turut memporak-porandakan banyak negara di dunia.
Keadaan seperti ini membuat banyak penderitaan di berbagai kalangan. Konflik yang tak berkesudahan akhirnya membuat para warga asli negara tersebut pindah ke negara tetangga dengan status pengungsi. Pengungsi Suriah misalnya. Karena konflik yang tak kunjung reda, kondisi mereka terkatung-katung di negara tetangga. Bahkan PBB sempat kehabisan dana untuk membantu para pengungsi dari negara konflik seperti Suriah.
Keadaan ini juga menyebabkan banyak penderitaan lainnya seperti kemiskinan dan kelaparan. Bahkan banyak negara terpaksa merektrut anak-anak sebagai pasukan militernya.

Sejak tahun 2011, telat tercatat sebanyak 19 negara merekrut anak-anak sebagai gerilyawan militernya. UNICEF memperkirakan bahwa ada sekitar 250.000 anak-anak yang diikutsertakan dalam kelompok bersenjata untuk ikut berperang, bom bunuh diri, mata-mata, dan bahkan turut melakukan tugas-tugas rumah tangga seperti memasak.
Tidak jarang anak-anak ini mengalami pelecehan seksual. Beberapa dari mereka diperkosa oleh komandan pasukannya. Bahkan ada remaja perempuan yang dipaksa latihan bertarung sambil menggendong anak di punggungnya.
Seperti yang dikutip News.com.au, Human Rights Watch mengungkapkan bahwa alasan negara tersebut merekrut anak-anak karena mereka gampang dimanipulasi dan diintimidasi. Mereka dipaksa bergabung dan beberapa lainnya menawarkan diri karena menganggap itu adalah kesempatan baik untuk mereka agar lebih baik.