Merahputih.com - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan posisi hubungan personal dengan Rizieq Shihab sekaligus menjawab tudingan mengenai pengaruh di balik pidato Presiden Prabowo Subianto.
Polemik ini mencuat setelah munculnya narasi yang mengaitkan pernyataan Prabowo terkait warga negara yang tidak optimistis dengan masukan dari lingkaran dalam istana.
Baca juga:
Klarifikasi Tudingan Jenderal Baliho
Dudung menepis anggapan bahwa dirinya berada di balik narasi politik Presiden Prabowo yang baru-baru ini menyinggung soal WNI yang menyebut Indonesia gelap untuk pindah ke luar negeri.
Sebelumnya, Rizieq Shihab melalui kanal YouTube Islamic Brotherhood Television menduga ucapan Presiden tersebut dipengaruhi oleh sosok yang ia sebut sebagai 'Jenderal Baliho'.
"Karena itu, sekarang ramai seakan-akan bahwa saya jadi KSP, kemudian akhirnya narasi dari Bapak Presiden itu muncul. Ya, itu bukan, bukan dari saya," ujar Dudung, Selasa (5/5).
Dudung menjelaskan bahwa langkah penertiban baliho beberapa tahun silam murni merupakan tindakan penegakan aturan. Kebijakan tersebut diambil karena organisasi Front Pembela Islam (FPI) telah dibekukan pemerintah dan terdapat narasi yang berpotensi memicu provokasi serta mengganggu persatuan nasional.
Ajakan Menjaga Stabilitas Nasional
Menghadapi situasi global yang penuh tantangan ekonomi dan politik, Kepala KSP mengajak seluruh tokoh bangsa dan pemuka agama untuk menciptakan suasana kondusif.
Dudung menekankan pentingnya peran ulama dalam menghadirkan tutur kata yang menyejukkan bagi masyarakat luas daripada melontarkan kecurigaan yang tidak berdasar.
Baca juga:
Monas Kembali Jadi Tuan Rumah Reuni Akbar 212: Prabowo Diundang, Rizieq Shihab Dijadwalkan Datang
"Marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, tidak saling memfitnah, tidak saling mencurigai," tegasnya.
Pemerintah saat ini memprioritaskan stabilitas nasional sebagai fondasi utama pembangunan. Dudung mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap informasi provokatif maupun berita bohong yang sengaja diembuskan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah bangsa. Keyakinan pada nilai-nilai Pancasila dianggap sebagai tameng terkuat dalam menjaga keutuhan Indonesia dari gangguan stabilitas.