Kesehatan Mental

Kenali Tanda-Tanda sebelum Anak Mengakhiri Hidupnya

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 22 Oktober 2021
Kenali Tanda-Tanda sebelum Anak Mengakhiri Hidupnya

Ada hal-hal yang menyebabkan anak-anak ini sampai pada tingkat keputusasaan yang begitu ekstrem. (nhk.or.jp)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BAGI kebanyakan dari kita, gagasan tentang seorang anak kecil yang mengambil nyawanya sendiri tidak terpikirkan. Mungkin di negara ini, belum banyak kasus yang diberitakan, tetapi sayangnya di negara-negara lain seperti AS, angkanya sangat mengkhawatirkan.

Dari 2000 hingga 2017, ada lebih dari 5.000 keluarga di Amerika Serikat dengan 5.527 kematian anak akibat bunuh diri. Itu hanya untuk anak-anak dalam kelompok usia 10-14 tahun. Jika kita melihat usia 10 hingga 24 tahun, jumlahnya mencapai jumlah yang mengkhawatirkan yaitu 88.744 orang. Untuk populasi itu, bunuh diri sudah menjadi penyebab kematian nomor dua di AS.

BACA JUGA:

Bermuatan Edukasi, 3 Gim ini Cocok untuk Anak-Anak

Situasi itu menjadi lebih buruk. Dalam jangka waktu yang sama, tingkat bunuh diri untuk kelompok usia 10-14 tahun praktis tiga kali lipat. Jadi pertanyaan alami kepada diri kita sendiri sebagai masyarakat ialah, 'apa yang menyebabkan anak-anak ini sampai pada tingkat keputusasaan yang begitu ekstrem?'

kesehatan mental
Anak-anak 'berbicara' melalui perilaku dan permainan, jadi perhatikan perubahan di kedua area ini. (aeon.co)

Tidak ada jawaban yang mudah, dan tentu saja tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua, tetapi beberapa faktor berperan seperti diuraikan dalam artikel Psychology Today (20/10):

1. Dinamika keluarga. Peneliti Johan Bilsen berpendapat bahwa sekitar 50 persen bunuh diri remaja terkait dengan faktor keluarga, termasuk pola komunikasi, penelantaran, kekerasan, penyalahgunaan zat adiktif, dan riwayat gangguan mental dan bunuh diri.

2. Genetika. Studi pada anak kembar telah menunjukkan risiko yang lebih tinggi bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga biologis bunuh diri, bahkan pada anak-anak yang diadopsi.

3. Orang muda lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental, terutama pada masa remaja, ketika mereka mengalami perubahan saat mereka mencari identitas diri.

4. Perkembangan otak juga merupakan kunci untuk memahami perilaku remaja. Otak tengah, tempat emosi diproses, berkembang dengan baik, sementara pembentukan koneksi korteks prefrontal, yang bertanggung jawab untuk penalaran, masih berlangsung. Area ini memungkinkan manusia untuk merencanakan, memoderasi perilaku sosial, memprioritaskan, dan berpikir logis. Akibatnya, anak-anak dan remaja cenderung salah menafsirkan isyarat sosial, bertindak berdasarkan dorongan hati, dan terlibat dalam perilaku berisiko. Di sinilah ide bunuh diri bisa muncul.

Tanda-tanda peringatan


Anak-anak 'berbicara' melalui perilaku dan permainan, jadi perhatikan perubahan di kedua area ini. Ingatlah bahwa hanya orangtua yang mengenal anak sendiri, jadi bagi sebagian orang, agresi mungkin muncul sebagai perubahan perilaku. Orang lain mungkin menjadi cemas, sedih, atau gelisah luar biasa.

Mereka juga mungkin melakukan hal-hal seperti:


- Membagi-bagikan mainan
- Menjadi lebih agresif melalui permainan
- Menolak untuk bermain sama sekali
- Mengalami mimpi buruk yang berulang
- Peningkatan kecemasan ketika harus berjauhan dari orangtua
- Memiliki keluhan fisik, seperti sakit perut dan sakit kepala
- Menempel lebih dari biasanya
- Mengalami kesulitan berkonsentrasi
- Menunjukkan rasa percaya diri yang rendah atau citra diri negatif

Langkah-langkah yang harus diambil

kesehatan mental
Dengar, dengar, dengar. Sering kali, alih-alih mencari nasihat, yang mereka butuhkan adalah didengar. (cafo.org)


Tetap terlibat dalam kehidupan akademis anak. Jika orangtua memiliki anak yang masih sekolah, hadiri acara yang relevan dengan mereka, seperti pertunjukan tari dan pertandingan olahraga. Jika ada masalah akademik, bicarakan dengan guru dan fakultas.

Ketika di perguruan tinggi, yang berkali-kali berarti mereka berada di luar negeri, tetaplah menjaga hubungan. Hal itu terutama penting bagi mahasiswa baru karena mereka akan melalui banyak adaptasi, sehingga mereka perlu merasa bahwa dukungan keluarga masih ada.

Saat berbicara dengan anak, hindari komentar 'benar atau salah'. Ajukan pertanyaan terbuka (pertanyaan yang tidak dijawab dengan ya atau tidak sederhana). Ini membantu mereka terbuka kepada orangtua.

Dengar, dengar, dan dengar. Sering kali, alih-alih mencari nasihat, yang mereka butuhkan adalah didengar. Anak-anak biasanya menjelaskan kapan mereka menginginkan bimbingan objektif orangtua. Pendekatan yang baik adalah menghubungkan masalah mereka dengan masalah serupa yang dialami di masa lalu. Ini tidak terlalu mengganggu daripada mengatakan hal-hal seperti, "Ibu pikir kamu harus melakukannya." Beri mereka ruang untuk mencari tahu apa yang terbaik untuk mereka, diskusikan berbagai kemungkinan, dan tunjukkan sudut pandang yang mungkin tidak mereka pertimbangkan.

Ingat, terkadang anak-anak dan remaja yang berpikir untuk bunuh diri tidak akan memberi tahu orangtua karena mereka khawatir tentang bagaimana reaksinya. Pertanyaan langsung dan tidak menghakimi dapat mendorong mereka untuk berbagi pikiran dan perasaan anak. Terlepas dari tanggapan mereka, jika kamu mencurigai seseorang mungkin ingin bunuh diri, segera cari bantuan profesional.

Jika kamu atau seseorang yang kamu cintai sedang mempertimbangkan untuk bunuh diri, segera cari bantuan. Kamu dapat menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes +6221-500-454. Kamu juga dapat menghubungi komunitas Into The Light Indonesia melalui e-mail [email protected] atau langsung membuka laman ‘Pendampingan’ dalam situs mereka https://intothelightid.wordpress.com/. Selain itu, kamu juga dapat menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri di nomor +6221 9696 9293 atau melalui e-mail [email protected]. (aru)

#Kesehatan #Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
ShowBiz
Britney Spears Kenang 15 Tahun Bekerja Tanpa Henti, Ungkap Kepahitan soal Kebebasan Pribadi
Britney Spears mengenang 15 tahun bekerja tanpa henti, masa konservatori, dan keinginannya menjalani hidup dengan lebih bebas.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Oktober 2026
Britney Spears Kenang 15 Tahun Bekerja Tanpa Henti, Ungkap Kepahitan soal Kebebasan Pribadi
Lifestyle
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Khawatir anak kecanduan atau kena cyberbullying? Simak panduan lengkap dan fitur pengawasan orang tua dari Roblox untuk menjaga kesehatan mental anak saat main gim online.
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 10 Oktober 2026
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Bagikan