MerahPutih.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga sejumlah komoditas pangan pada Jumat (4/10) secara umum fluktuatif. Namun, dalam beberapa bulan terakhir terjadi deflasi.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyatakan pihaknya akan mengkaji penyebab sekaligus dampak manakala terjadi penurunan harga sejumlah komoditas pangan hingga terlampau murah.
"Apa karena suplainya banyak sekali sehingga harganya terlalu murah, atau daya beli yang turun nanti kita lihat, kita kaji lebih lanjut,” kata Zulkifli Hasan ditemui di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, dirinya kerap dirundung atau di-bully manakala menyebut harga sebuah komoditas terlalu murah. Padahal, harga komoditas pangan yang terlalu murah dapat berdampak bagi petani.
Baca juga:
BPOM dan Kemendag Amankan Kosmetik Impor Ilegal Senilai Rp 11,4 Miliar
"Dulu kan saya sering di-bully, saya kalo ngomong ini harganya kemurahan terus di-bully, dimarah-marahi saya ini," katanya.
Apabila terjadi inflasi, pemerintah akan bisa secara cepat mengatasi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun apabila harga komoditas terlalu murah, petani bisa jadi mengalami kebangkrutan.
"Kalau harga terlalu murah. (Misalnya) cabai terlalu murah, misalkan patokan Rp 40 ribu, di pasar cuma Rp 15 ribu, itu langsung bangkrut petaninya gitu lho. Begitu juga telur, kalau telur standar Rp2 8 ribu, kalau dia cuma harganya Rp 24 ribu, itu tutup. Nah ini memang ada beberapa yang terlalu murah,” katanya.
Dia menyampaikan, terlalu murahnya harga komoditas dapat disebabkan berbagai faktor, misalnya disebabkan oleh peralihan musim, suplai yang terlampau banyak, atau daya beli masyarakat yang mengalami penurunan.
"Kemendag akan melakukan kajian terhadap penyebab dan dampak dari terlalu murahnya harga komoditas pangan," katanya. (*)