Kekuatan Pesawat Nirawak Indonesia: Kesiapan Prajurit di Balik Keterbatasan Teknologi

Mula AkmalMula Akmal - Jumat, 15 Agustus 2025
Kekuatan Pesawat Nirawak Indonesia: Kesiapan Prajurit di Balik Keterbatasan Teknologi

Uji coba drone multicopter VTOL fixed wing. (Indodefense.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Indonesia, dengan wilayah maritim yang luas dan tantangan geografis yang unik juga kompleks, menyadari betul pentingnya kekuatan kendaraan udara nirawak, atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle).

Seberapa kuatkah kekuatan UAV kita saat ini? Jika kita melihat dari segi teknologi, memang ada beberapa tantangan. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah aset terbesar kita: sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan siap tempur.

Inovasi Lokal dan Kesiapan Tempur

Sebagai contoh, kita bisa menilik kekuatan yang dimiliki oleh Skuadron Udara 700 di Bawah TNI AL. Skuadron ini mengoperasikan berbagai jenis pesawat nirawak untuk misi pengintaian dan patroli maritim.

Selain ScanEagle yang sudah dikenal luas karena daya tahan terbangnya yang bisa mencapai 20 jam dan sensor canggihnya, kita juga memiliki inovasi lokal yang patut dibanggakan.

Baca juga:

Aksi Drone Kamikaze dan Jet TNI AU Porak-porandakan Markas Musuh

Salah satu yang menarik adalah pengembangan multicopter buatan dalam negeri. Multicopter ini memiliki keunggulan tersendiri yang sangat cocok untuk kondisi Indonesia:

  • Kemampuan Terbang Vertikal (VTOL): Multicopter tidak memerlukan landasan pacu, sehingga bisa lepas landas dan mendarat dari platform terbatas seperti geladak kapal perang atau area kecil di darat. Ini sangat ideal untuk patroli di wilayah kepulauan yang luas.
  • Fleksibilitas Misi: Multicopter dapat dimanfaatkan untuk berbagai tugas, mulai dari pengawasan, pemetaan, hingga pengiriman logistik ringan ke wilayah terpencil. Kemampuannya yang stabil di udara juga menjadikannya platform ideal untuk sensor presisi tinggi.

Namun, memang perlu diakui bahwa dari segi persenjataan, UAV kita belum sepenuhnya ideal jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Pesawat-pesawat tanpa awak yang dimiliki Indonesia saat ini sebagian besar memang lebih difokuskan pada misi pengawasan, bukan penyerangan.

Menilik Konsep "Drone Swarm" Ukraina dan Kesiapan Prajurit Kita

Perang modern, seperti yang terjadi antara Ukraina dan Rusia, membuktikan bahwa UAV bukan sekadar teknologi canggih, melainkan juga sangat bergantung pada "man behind the gun." Salah satu taktik yang paling mencolok dari perang ini adalah penggunaan drone swarm atau serangan kelompok drone.

Baca juga:

Serangan Drone Ukraina Picu Kebakaran di Kilang Minyak Rusia

Rusia Sebut Pesawat Azerbaijan Jatuh di Tengah Serangan Drone Ukraina

Ukraina, dengan sumber daya yang lebih terbatas, mampu memberikan perlawanan sengit kepada Rusia dengan menyebarkan puluhan, bahkan ratusan drone kecil secara bersamaan. Taktik ini memiliki beberapa keunggulan:

  • Mengatasi Pertahanan Lawan: Serangan masif drone membuat sistem pertahanan udara lawan kewalahan. Sulit untuk menembak jatuh puluhan target kecil sekaligus.
  • Efektivitas Biaya: Drone-drone ini relatif murah, sehingga kerugian akibat ditembak jatuh tidak sebanding dengan kerusakan yang mereka timbulkan.
  • Mengumpulkan Data Intelijen: Sebelum atau selama serangan, drone ini bisa mengumpulkan data tentang posisi dan kekuatan lawan.

Kesiapan ini lahir dari dua faktor utama yang juga dimiliki oleh prajurit kita: profesionalitas dan adaptasi. Prajurit kita sangat terlatih dalam mengoperasikan UAV dan mengolah data intelijen yang didapat. Mereka adalah aset tak ternilai yang menjadikan setiap teknologi yang ada menjadi alat yang mematikan dan efektif. Dengan pengetahuan medan yang mendalam, mereka bisa mengubah drone sederhana menjadi ancaman yang signifikan.

Langkah Masa Depan untuk Modernisasi Pertahanan

Paparan di atas kita melihat ada urgensi di mana membutuhkan sebuah political will yang kuat untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam arena peperangan modern, ada dua hal krusial yang harus terus didukung:

  1. Pendanaan dan Akuisisi Alutsista

    Pemerintah harus terus mendukung pendanaan yang memadai untuk membeli alutsista dengan teknologi terbaru, termasuk UAV tempur, sensor canggih, dan sistem anti-drone. Modernisasi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kedaulatan.
  2. Pembaruan Wawasan Militer

    Para prajurit dan pemangku kebijakan harus terus memperbarui wawasan mereka tentang taktik dan strategi peperangan yang berkembang pesat. Adaptasi dengan teknologi UAV, konsep drone swarm, dan perang siber menjadi keharusan.
Suasana diskusi di kelas Program Studi Peperangan Asimetris Universitas Pertahanan Indonesia.

"Seorang prajurit yang adaptif jauh lebih berharga daripada teknologi paling canggih." Kalimat ini menjadi benang merah dari diskusi dalam kelas Peperangan Asimetris di Universitas Pertahanan, yang melibatkan para mahasiswa, Wakil Komandan Skuadron 700 Mayor Laut Dhaesa Pramana dan Kepala Program Studi Peperangan Asimetris, Kolonel Laut (KH) Martinus DAW pada Kamis, (14/8/2025).

Para mahasiswa juga tidak tinggal diam. Mereka akan membekali diri dengan wawasan mendalam, salah satunya melalui Pusat Studi Strategi Peperangan Pesawat Nirawak, sebagai langkah konkret untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.

Dialektika yang terjadi dalam diskusi menjadi upaya memetakan tantangan dan peluang. Dari sana, kita menyadari bahwa kekuatan sejati suatu bangsa tidak hanya terletak pada persenjataan, tetapi juga pada orang-orang yang mengoperasikannya. Prajurit kita adalah fondasi yang kuat, dan dengan dukungan politik yang tepat, kita bisa melangkah lebih jauh.

Sudah saatnya kita memastikan bahwa keberanian dan profesionalisme prajurit diimbangi dengan teknologi yang sepadan. Ini adalah tantangan dan motivasi. Kita memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk menjadi kekuatan pertahanan yang disegani.(*)

#TNI #Drone #Perang
Bagikan
Ditulis Oleh

Mula Akmal

Jurnalis dan profesional komunikasi dengan pengalaman memimpin redaksi, menggarap strategi konten, dan menjembatani informasi publik lintas sektor. Saat ini menjabat sebagai Managing Editor di Merah Putih Media, dengan rekam jejak kontribusi di The Straits Times, Indozone, dan Koran Sindo, serta pengalaman strategis di Yayasan Konservasi Alam Nusantara dan DPRD DKI Jakarta. Bagi saya, setiap berita adalah peluang untuk menghadirkan akurasi, relevansi, dan dampak nyata bagi pembaca.

Berita Terkait

Indonesia
BNPB Jamin Semua Anggota TNI yang Ikut Penanganan Bencana Sumatra Dapat Uang Lelah dan Makan Rp 165 Ribu per Hari
Personel TNI yang bertugas menangani bencana di Sumatra mendapatkan uang makan dan uang lelah
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
BNPB Jamin Semua Anggota TNI yang Ikut Penanganan Bencana Sumatra Dapat Uang Lelah dan Makan Rp 165 Ribu per Hari
Indonesia
Panglima TNI Perintahkan Tangkap Provokator Pengibaran Bendera GAM
Saat ini TNI, Polri, bersama Kementerian/Lembaga bekerja secara maksimal untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 30 Desember 2025
Panglima TNI Perintahkan Tangkap Provokator Pengibaran Bendera GAM
Dunia
Kediaman Diserang Drone, Putin: Tidak Akan Dibiarkan Tanpa Balasan
Serangan drone Ukraina itu terjadi "segera setelah" Trump dan Zelenskyy berunding di AS pada Minggu (28/12)
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 30 Desember 2025
Kediaman Diserang Drone, Putin: Tidak Akan Dibiarkan Tanpa Balasan
Indonesia
TNI Bangun 32 Jembatan Darurat di Sumatera, Pesan 100 Jembatan Bailey dari Luar Negeri
Logistik yang sudah didistribusikan sejumlah 2.669,53 ton. Logistik itu dikirimkan baik melalui jalur udara maupun darat.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 30 Desember 2025
TNI Bangun 32 Jembatan Darurat di Sumatera, Pesan 100 Jembatan Bailey dari Luar Negeri
Indonesia
Begini Kerja Cepat TNI Bangun Puluhan Jembatan Wilayah Terdampak Bencana di Sumatra
Percepatan pembangunan infrastruktur ini merupakan bagian dari upaya menyeluruh TNI AD bersama kementerian, BNPB, dan instansi terkait lainnya dalam penanganan bencana.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 30 Desember 2025
Begini Kerja Cepat TNI Bangun Puluhan Jembatan Wilayah Terdampak Bencana di Sumatra
Indonesia
Panglima TNI Sebut 37.910 Personel Dikerahkan untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana
Para personel juga akan ikut membantu membangun hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap).
Dwi Astarini - Selasa, 30 Desember 2025
Panglima TNI Sebut 37.910 Personel Dikerahkan untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana
Indonesia
TNI Tambah 15 Batalyon Percepat Pemulihan Sumatera, Ini Fokus Kerjanya
Tercatat, hingga saat ini total ada 37.910 prajurit TNI yang dikerahkan di tiga provinsi Sumatera itu untuk membantu para pengungsi melewati masa tanggap darurat, dan memasuki masa rekonstruksi serta rehabilitasi
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 29 Desember 2025
TNI Tambah 15 Batalyon Percepat Pemulihan Sumatera, Ini Fokus Kerjanya
Indonesia
TNI Pastikan Pembubaran Massa Bawa Bendera GAM di Lhokseumawe Sesuai Aturan
Mabes TNI memastikan pembubaran aksi massa yang membawa bendera GAM di Lhokseumawe dilakukan sesuai aturan. Aparat juga menemukan senjata api dan senjata tajam.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 27 Desember 2025
TNI Pastikan Pembubaran Massa Bawa Bendera GAM di Lhokseumawe Sesuai Aturan
Indonesia
Bubarkan Aksi Massa Pembawa Bendera GAM di Aceh, TNI: Simbol Itu Bertentangan dengan Kedaulatan NKRI
TNI menjelaskan pembubaran aksi massa di Lhokseumawe dilakukan sesuai hukum karena membawa bendera GAM dan ditemukan senjata api serta senjata tajam.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 27 Desember 2025
Bubarkan Aksi Massa Pembawa Bendera GAM di Aceh, TNI: Simbol Itu Bertentangan dengan Kedaulatan NKRI
Indonesia
Aksi Haru Saat TNI Beri Bantuan ke Daerah Terisolir, Warga Berikan Durian
Nyoman menjelaskan, akses darat menuju wilayah terdampak di Kecamatan Pining hingga kini belum sepenuhnya dapat dilalui.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 26 Desember 2025
Aksi Haru Saat TNI Beri Bantuan ke Daerah Terisolir, Warga Berikan Durian
Bagikan