MerahPutih.com - Kabut asap karena kebakaran hutan di Kalimantan kian pekat. Ribuan titik api semakin bertambah membuat masyarakat yang terkena kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kementerian Kesehatan mengatakan, memasuki awal musim kemarau yakni minggu ke 27-31 tahun 2026, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai lebih dari 400 ribu kasus per minggu. Peningkatan kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan minggu yang sama pada 2025.
Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak,
kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat (21/8).
Tren ISPA pada 2026 secara umum lebih tinggi dibandingkan 2025. Puncak musim kemarau terjadi pada minggu ke 32–44, terlihat bahwa kasus di minggu tersebut pada 2025 menunjukkan tren yang relatif tinggi dan konsisten. Pada M32 2025, terdapat sekitar 300–350 ribu kasus, kemudian meningkat hingga hampir 400 ribu kasus pada M44. Pihaknya mencatat, pada 2026, di M30 terdapat sekitar 400 ribu kasus, sementara pada M31 sedikit berkurang.
Baca juga:
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Meluas, 108 Sekolah di Sarawak Malaysia Ditutup
Musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap antarwilayah, dengan sebagian besar wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli-Agustus 2026,
ujar Aji.
Periode kemarau menjadi periode kewaspadaan karhutla. Berdasarkan penelitian dan publikasi ilmiah, aktivitas kebakaran hutan mulai meningkat sekitar bulan Juli dan mencapai puncak pada Agustus-September.
Selain itu, peningkatan kasus ISPA terjadi saat musim hujan atau musim dingin, saat suhu lebih rendah dan kelembapan tinggi. Jika cakupan vaksin influenza dan COVID-19 rendah, risiko infeksi meningkat terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Ia menyebutkan, per 17 Agustus 2026, sebanyak 90 tenaga kesehatan dan berbagai bantuan logistik kesehatan dikerahkan merespons gangguan kesehatan akibat karhutla di sejumlah wilayah tanah air.
Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari antara lain dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, pengemudi ambulans, sanitarian, epidemiolog. Para tenaga kesehatan dikirimkan ke wilayah terdampak karhutla, yakni 40 ke Kalimantan Selatan, empat ke Riau, 27 ke Kalimantan Tengah, sembilan ke Kalimantan Barat, lima ke Jambi, dan lima ke Kalimantan Timur.
Kemudian, bantuan logistik untuk daerah-daerah tersebut mencakup 267.630 masker, 54 unit OC, 1.000 pasang handscoon, 36 tabung Oxycan, 33 dus PMT, 40 faceshield, dan delapan Alat Pelindung Diri (APD).
Masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih sehat tiap hari untuk menjaga daya tahan tubuh di kala musim kemarau dan peningkatan risiko ISPA karena karhutla.