Kampong Lorong Buangkok, Desa Terakhir yang Bertahan di Singapura

Muchammad YaniMuchammad Yani - Kamis, 03 Juni 2021
Kampong Lorong Buangkok, Desa Terakhir yang Bertahan di Singapura

Komunitas dari 25 rumah tangga yang tinggal di kampung itu kini telah terbiasa dengan arus pendatang yang penasaran. (Foto: bbc.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

JIKA kamu meninggalkan Jalan Yio Chu Kang yang sibuk di timur laut Singapura, lalu mengikuti jalan tanah yang panjang yang berkelok-kelok sejauh sekitar 300m, bersiaplah masuk ke dalam kapsul waktu. Di atas lahan hijau seluas tiga hektare berdirilah Kampong Lorong Buangkok, desa terakhir yang masih bertahan di Singapura.

Di tempat ini, sisa-sisa tahun 1960-an masih hidup dan terpampang nyata. Di sekelilingnya, Singapura modern dengan gedung-gedung pencakar langit tampak menjulang sebagai latar belakang. Secara kontras, di hadapanmu akan berdiri rumah-rumah bungalow kecil yang bagaikan keluar dari kartu pos antik zaman dulu.

Kampong Lorong Buangkok merupakan oasis pedesaan dengan sekitar 25 rumah kayu satu lantai dengan pola dasar atap seng tersebar di sekitar surau. Tumbuhan lokal – seperti ketapang, pohon asli pesisir – bermunculan dari tanah yang terlupakan. Tanah yang dulu pernah menutupi Singapura sebelum "ditumbuhi" beton. Di sana juga masih terlihat kabel listrik menggantung di atas kepala. Itu menjadi pemandangan yang langka karena sebagian besar kabel telah berada di bawah tanah di seluruh kota.

Baca juga:

Bangsal Witana, Cikal Bakal Keraton Cirebon

Penduduk lansia duduk di beranda mereka; ayam di kandang mereka berkokok tanpa henti; dan paduan suara jangkrik berkicau dan ayam jantan berkokok. Suara zaman dulu itu meredam polusi suara kota dan memberikan musik latar pedesaan yang menenangkan.

Tidak ada yang pernah mengindentifikasi Singapura dari pemandangan Kampong Lorong Buangkok. Negara kota ini identik dengan menara Marina Bay Sands yang berbentuk perahu, atau Gardens by the Bay yang penuh warna dan futuristik. Namun, hingga awal 1970-an, kampung seperti Lorong Buangkok ada di mana-mana di seluruh Singapura. Peneliti dari National University of Singapore memperkirakan, dulu ada sebanyak 220 kampung yang tersebar di pulau yang sama. Saat ini, sementara beberapa masih ada di pulau-pulau sekitar, Lorong Buangkok adalah desa terakhir di pulau utama.

Kampung yang (Tidak) Mengalah

Desa ini adalah oasis hijau yang langka di salah satu negara terpadat dan urban di dunia urban. (Foto: straitstimes.com)
Desa ini adalah oasis hijau yang langka di salah satu negara terpadat dan urban di dunia urban. (Foto: straitstimes.com)

Sebuah negara muda dengan aspirasi internasional, Singapura dengan cepat mengalami urbanisasi pada 1980-an dan dengan cepat beralih dari ekonomi pertanian ke industri. Ruko-ruko yang penuh sesak digantikan dengan flat bertingkat tinggi dan gedung pencakar langit yang luas, mengantarkan apa yang disebut "era jalan tol" yang melihat jalan-jalan kecil diganti dengan jalan raya multi-jalur melintasi si negara-kota. Dengan tanah yang mahal di pulau itu, kampung-kampung pedesaan harus mengalah.

Maka ratusan desa tradisional dibuldoser, flora asli dilucuti, jalan tanah diratakan dan mata pencaharian diratakan dengan tanah sebagai bagian dari program pemukiman pemerintah. Penduduk desa, beberapa enggan, menyerahkan tanah-tanah mereka yang berharga; yang lain ingin menukar kehidupan pedesaan dengan kehidupam modern di flat bersubsidi yang dibangun pemerintah yang didirikan di atas rumah lama mereka. Saat ini, lebih dari 80 persen orang Singapura tinggal di flat-flat tersebut.

Baca juga:

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Dipamerkan di Dubai

Salah satu alasan Lorong Buangkok berhasil lolos dari nasib yang menimpa kampung-kampung lain adalah karena daerah sekitarnya tidak begitu diinginkan untuk pengembangan komersial, industri dan perumahan seperti di tempat lain di Singapura. Meskipun, akhirnya kondisi itu perlahan berubah. Dulu kampung itu dikelilingi oleh pembukaan hutan dan pertanian, sekarang diapit oleh perumahan berpagar pribadi dan sekelompok flat yang menghadap ke pemukiman bertingkat rendah.

Namun, ada alasan lain, yaitu tanah desa ini dimiliki oleh seorang perempuan keras kepala dengan komitmen teguh untuk melestarikan satu-satunya kampung yang masih hidup di Singapura.

Mendekati 70 tahun, Sng Mui Hong, telah menjalani hampir seluruh hidupnya di desa. Ia adalah anak bungsu dari empat bersaudara, dan satu-satunya yang pernah tinggal di sini. Almarhum ayahnya, seorang penjual obat tradisional Tiongkok, membeli tanah itu pada tahun 1956, tahun yang sama ketika desa itu dibuat dan sembilan tahun sebelum Singapura merdeka.

Bungalow kecil terlihat seperti kartu pos antik di masa lalu kota Singapura. (Foto: bbc.com)
Bungalow kecil terlihat seperti kartu pos antik di masa lalu kota Singapura. (Foto: bbc.com)

Menurut pemandu lokal Kyanta Yap, yang memimpin tur keliling kampung, sebagian besar petak disewakan kepada pekerja dari rumah sakit terdekat dan perkebunan karet – banyak dari keturunannya masih tinggal di sini. Saat itu, sewa bulanan untuk setiap rumah berkisar antara S$4,50 dan S$30 atau sekitar Rp50.000 - Rp300.000.

Hari ini, Sng masih membebankan tarif yang kurang lebih sama kepada 25 keluarga Lorong Buangkok. Sebaliknya, menyewa kamar yang kira-kira sepersepuluh ukuran rumah kampung di blok bangunan pemerintah yang berdekatan mungkin menelan biaya sekitar 20 kali lipat dari jumlah itu. Dan rumah-rumah di seberang kanal pemisah dapat dijual dengan harga beberapa juta dolar Singapura.

Meskipun desa ini memiliki harga sewa paling terjangkau di Singapura, tidak ada penghuni baru yang pindah sejak tahun 1990-an, dan kecil kemungkinannya akan ada dalam waktu dekat. Karena menurut Yap, seseorang harus pindah atau meninggal dunia agar rumah itu kosong. Namun setelah itu mereka yang memiliki hubungan dengan penyewa dulu akan diprioritaskan untuk menyewa. (Aru)

Baca juga:

Perbukitan dan Pegunungan di Sleman jadi Destinasi Wisata Favorit

#Wisata #Singapura
Bagikan
Ditulis Oleh

Muchammad Yani

Lebih baik keliling Indonesia daripada keliling hati kamu

Berita Terkait

Indonesia
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Ancol kini menggelar promo tiket masuk seharga Rp 35 ribu. Nantinya, pengunjung mendapatkan voucher makan senilai Rp 20 ribu.
Soffi Amira - Kamis, 15 Januari 2026
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Indonesia
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Larangan pergerakan kapal pada malam hari di wilayah perairan Taman Nasional (TN) Komodo.
Wisnu Cipto - Jumat, 09 Januari 2026
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Indonesia
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Menjadi representasi transformasi layanan kereta api dari sekadar moda transportasi menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Januari 2026
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Indonesia
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Aktivitas perjalanan di Cirebon selama Nataru mencerminkan tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat sekaligus meningkatnya minat perjalanan wisata berbasis kereta api.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Indonesia
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Perjalanan dengan kereta api kini dimaknai sebagai momen menikmati waktu, suasana, dan keindahan alam di sepanjang jalur rel.
Dwi Astarini - Jumat, 02 Januari 2026
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Foto Essay
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Suasana warga piknik bersama keluarga menikmati matahari terbenam di Pantai Pattaya, Chonburi, Thailand, Sabtu (20/12/2025).
Didik Setiawan - Sabtu, 27 Desember 2025
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Indonesia
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
Untuk itu, ia mendesak Pemprov DKI agar lebih masif dalam menyebarkan informasi pembukaan ini melalui berbagai kanal resmi pemerintah
Angga Yudha Pratama - Jumat, 26 Desember 2025
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
Indonesia
Setelah Kemalingan, Museum Louvre Alami Kebocoran yang Merusak Koleksi Buku
Kebocoran tersebut merupakan masalah besar ketiga yang dihadapi museum yang paling banyak dikunjungi di dunia tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Dwi Astarini - Selasa, 09 Desember 2025
  Setelah Kemalingan, Museum Louvre Alami Kebocoran yang Merusak Koleksi Buku
Indonesia
Ketok Harga Bikin Orang Kapok Liburan di Banten, DPRD Desak Regulasi Tarif Wisata
Ketiadaan standar harga yang jelas sering kali dimanfaatkan untuk mematok tarif semaunya sehingga wisatawan kapok liburan di Banten
Wisnu Cipto - Selasa, 25 November 2025
Ketok Harga Bikin Orang Kapok Liburan di Banten, DPRD Desak Regulasi Tarif Wisata
ShowBiz
Menggerepe Ariana Grande di Pemutaran Perdana ‘Wicked: For Good’, Seorang Pria Australia Dilarang Masuk Singapura Selamanya
Johnson Wen, 26, dijatuhi hukuman sembilan hari penjara karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan kini telah dilarang memasuki Singapura kembali.
Dwi Astarini - Selasa, 25 November 2025
Menggerepe Ariana Grande di Pemutaran Perdana ‘Wicked: For Good’, Seorang Pria Australia Dilarang Masuk Singapura Selamanya
Bagikan