MerahPutih.com - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan keberatan ketika mendapat sejumlah pertanyaan detail mengenai riwayat perkuliahannya dari penasihat hukum terdakwa Roy Suryo. Jokowi menilai pertanyaan seputar mata kuliah favorit hingga detail akademik puluhan tahun lalu, tidak relevan dengan substansi perkara.
Momen tersebut terjadi saat Jokowi hadir sebagai saksi pelapor dalam sidang kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (5/11).
Ketegangan bermula ketika tim penasihat hukum Roy Suryo menggali berbagai aspek perjalanan akademik Jokowi selama menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pertanyaan yang diajukan mencakup transisi dari program sarjana muda ke S1, akumulasi satuan kredit semester (SKS), persyaratan Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga nilai dalam transkrip akademik.
Menanggapi pertanyaan mengenai semester ketika dirinya mencapai 120 SKS, Jokowi mengingatkan bahwa peristiwa tersebut sudah berlangsung puluhan tahun lalu.
"Itu sudah 45 tahun yang lalu, sekali lagi," kata Jokowi.
Baca juga:
Alasan Roy Suryo Tertawa Ngakak dan Berani Sebut 'Palsu' Saat Jokowi Tunjukkan Ijazah di PN Jaktim
Jokowi Mengaku Lupa Nilai Kuliah
Dalam sesi pemeriksaan tersebut, penasihat hukum juga menanyakan besaran nilai yang diperoleh Jokowi selama menjalani perkuliahan di UGM.
Namun, mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak bersedia membeberkan nilai akademiknya dan hanya memberikan jawaban singkat.
"Lupa," jawab Jokowi.
Pertanyaan kemudian berkembang ke hal-hal yang lebih spesifik mengenai pengalaman pribadi Jokowi selama menjadi mahasiswa.
Ditanya Mata Kuliah Favorit Selama 10 Semester
Salah satu pertanyaan yang diajukan penasihat hukum Roy Suryo berkaitan dengan mata kuliah yang dianggap paling mudah atau paling dikuasai Jokowi selama menjalani 10 semester perkuliahan di UGM.
"Selama Saudara terdaftar atau tercatat sebagai mahasiswa UGM dan Saudara tadi mengikuti sampai 10 semester, mata kuliah apa yang paling ringan buat Saudara? Mata kuliah yang paling Saudara bisa enak dapat A atau paham ada enggak?" cecar penasihat hukum.
Mendengar pertanyaan tersebut, Jokowi menilai materi yang ditanyakan tidak memiliki keterkaitan dengan pokok perkara yang sedang diperiksa.
"Saya kira tidak relevan," tegas Jokowi.
Saat itu, Jokowi terlihat mengenakan batik lengan panjang yang dipadukan dengan peci hitam.
Baca juga:
Jokowi Tunjukkan Empat Ijazah Asli di Persidangan, Yakup Hasibuan: Semua Tuduhan Terjawab
Jokowi Keberatan, Sebut Seperti Dites Mahasiswa Baru
Melihat respons Jokowi, Ketua Majelis Hakim kemudian menengahi dengan menanyakan kesediaan saksi untuk menjawab pertanyaan dari tim penasihat hukum.
Jokowi pun secara terbuka menyampaikan keberatannya kepada majelis hakim. Ia menilai pertanyaan yang diajukan terlalu terperinci dan membuat suasana pemeriksaan terasa seperti ujian bagi calon mahasiswa baru.
Saya keberatan, Yang Mulia, karena terlalu detail dan serasa ngetes mahasiswa baru aja,
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen ketika pemeriksaan saksi berlangsung dinamis dalam persidangan kasus dugaan pencemaran nama baik tersebut.
Menanggapi keberatan Jokowi, tim penasihat hukum Roy Suryo memberikan penjelasan mengenai alasan mereka mengajukan serangkaian pertanyaan akademik tersebut.
Pihak penasihat hukum berargumen bahwa pengujian ingatan mengenai proses perkuliahan penting dilakukan karena ijazah merupakan produk akhir dari rangkaian panjang kegiatan akademik. (Knu)