Merahputih.com - Anggota Komisi VI DPR RI, Nevi Zuairina, menyoroti pentingnya menjaga stabilitas distribusi dan kepercayaan publik terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional guna mencegah fenomena panic buying.
Langkah ini menjadi krusial setelah muncul kekhawatiran masyarakat akibat pernyataan pemerintah mengenai ketahanan stok BBM nasional yang saat ini berada pada kisaran 21–25 hari.
Bahaya Kelangkaan Buatan Akibat Salah Informasi
Nevi menegaskan bahwa informasi mengenai kapasitas cadangan operasional BBM perlu penjelasan komprehensif agar tidak menimbulkan kesalahpahaman fatal. Komunikasi publik yang tidak utuh sering kali memicu kekhawatiran berlebihan yang berujung pada antrean panjang di berbagai SPBU.
Baca juga:
DPR Buka Suara soal Isu Stok BBM Hanya Cukup 20 Hari, Begini Faktanya
“Ketika masyarakat mendengar bahwa stok BBM hanya tersedia untuk sekitar tiga minggu, sebagian orang langsung menganggap akan terjadi kelangkaan. Padahal yang dimaksud adalah kapasitas cadangan operasional di tangki penyimpanan nasional, bukan berarti pasokan BBM akan habis dalam waktu tersebut,” ujar Nevi dalam keterangannya, Rabu (11/3).
Politisi asal Sumatra Barat ini menjelaskan bahwa panic buying justru menciptakan kelangkaan buatan atau artificial scarcity.
Kondisi tersebut mengganggu sistem distribusi energi nasional dan berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen akibat ulah spekulan.
Perbandingan Cadangan Energi Global dan Agenda Jangka Panjang
Lebih lanjut, Nevi mendorong pemerintah untuk melakukan pengawasan ketat terhadap potensi penimbunan dan penyalahgunaan BBM. Ia menilai momentum ini harus menjadi cambuk bagi Indonesia untuk memperkuat cadangan energi strategis yang saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju lainnya.
Baca juga:
“Penguatan cadangan energi strategis harus menjadi agenda jangka panjang. Peningkatan kapasitas tangki penyimpanan serta pembangunan cadangan energi nasional merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan,” tegas Nevi.
Sebagai perbandingan, Jepang saat ini memiliki cadangan energi hingga 254 hari, Amerika Serikat sekitar 90–120 hari, sementara Uni Eropa dan China rata-rata memiliki cadangan minimal 90 hari. Angka ini menunjukkan Indonesia perlu melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur energi secara masif.