Ini Alasan Bank Syariah Lebih Tahan Krisis

Luhung SaptoLuhung Sapto - Rabu, 26 Agustus 2015
Ini Alasan Bank Syariah Lebih Tahan Krisis

Bank Bukopin Syariah (foto syariahbukopin.co.id)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih, Bisnis-Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus terpuruk. Namun, depresiasi rupiah tidak terlalu berdampak bagi perbankan syariah. 

Direktur Utama PT Bank Syariah Bukopin, Riyanto mengatakan sektor perbankan pasti ikut terkena dampak akibat pelemahan rupiah terhadap dollar AS. "Namun, dampak yang dirasakan saat ini tidak terlalu besar," kata Riyanto kepada wartawan di kantor Bank Syariah Bukopin, Jakarta Pusat, Rabu (26/8).

Menurut Riyanto, bank syariah bisa menjadi alternatif sementara di saat yang sama perdagangan saham di bursa sedang melemah. Dijelaskan Riyanto, dalam bank syariah ada pembiayaan murabahah di mana margin tetap atau tidak berubah dibandingkan dengan bank konvensional. Meski tingkat suku bunga pinjaman bank syariah lebih tinggi bila dibandingkan dengan bank konvensional, tapi suku bunga tidak berubah selama konsumen mengangsur pinjaman. 

Keunikan ini dilirik masyarakat yang butuh pinjaman dengan melakukan diversifikasi pinjaman ke bank syariah di saat situasi ekonomi sedang krisis.   

Ia juga menambahkan laba Bank Syariah Bukopin sampai dengan Juni naik Rp15 miliar. "Kami menargetkan naik Rp19-20 miliar sampai akhir tahun," katanya. Ini berarti target tersebut tumbuh 130 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp8,6 miliar. 

Riyanto juga menyebut pembiayaan sektor kendaraan dan konsumen dibatasi, dengan porsi kurang dari 20 persen pada tahun ini. Dijelaskan Riyanto, permintaan untuk kedua sektor itu menurun. Selain itu, untuk menghindari kredit macet. "Sebab situasi sekarang permintaan menurun, tingkat nonperforming loan (NPL) naik," jelasnya.  

Riyanto mengatakan pemerintah sudah bergerak cepat mengambil langkah-langkah mengantisipasi pelemahan rupiah. Pemerintah juga mulai membatasi penggunaan valuta asing dalam transaksi. (rfd)

Baca Juga:

Ekonom: Tanpa Devaluasi Yuan, Rupiah Tetap Anjlok

Devaluasi Yuan Perkuat Anjloknya Rupiah

Ekonom UI Tuding KPK Dalang Dibalik Rendahnya Serapan Anggaran di Daerah

#Krisis Moneter #Bank Bukopin Syariah
Bagikan
Ditulis Oleh

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak

Berita Terkait

Indonesia
SBY Bongkar Rahasia Kepemimpinan Kuat Hadapi Krisis Global, Belajar dari Tragedi Tsunami Hingga Krisis 2008
SBY mengingatkan kepemimpinan harus bersifat inklusif agar manfaat pembangunan tersebar merata kepada seluruh masyarakat
Angga Yudha Pratama - Kamis, 04 Juni 2026
SBY Bongkar Rahasia Kepemimpinan Kuat Hadapi Krisis Global, Belajar dari Tragedi Tsunami Hingga Krisis 2008
Indonesia
Kemenkeu Klaim Indonesia Masih Jauh Dari Tanda-Tanda Krisis, Investor Asing Masih Percaya
Krisis seperti pada 1997-1998 terjadi ketika banyak perusahaan menarik pinjaman luar negeri dalam jumlah besar.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 25 Mei 2026
Kemenkeu Klaim Indonesia Masih Jauh Dari Tanda-Tanda Krisis, Investor Asing Masih Percaya
Dunia
Kondisi Dunia Kian Tak Menentu, China Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi Jadi 5 Persen
Target pertumbuhan ekonomi negara tersebut menjadi sebesar 4,5 - 5 persen pada 2026 atau menjadi yang terendah sepanjang tiga dekade terakhir.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 07 Maret 2026
 Kondisi Dunia Kian Tak Menentu, China Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi Jadi 5 Persen
Indonesia
ASEAN Kembali Hidupkan Usulan Penggunaan Mata Uang Lokal Lawan Dominasi Dolar
Anwar menegaskan bahwa ASEAN kini tengah bergerak aktif untuk melakukan transformasi, khususnya di bidang moneter, karena dinilai semakin mendesak.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 19 Mei 2025
ASEAN Kembali Hidupkan Usulan Penggunaan Mata Uang Lokal Lawan Dominasi Dolar
Bagikan