MerahPutih.com - Aparat gabungan memusnahkan barang bukti narkotika jenis sabu sebanyak 2.647 ton yang dipimpin langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla di Lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat.
"Dengan dimusnahkannya barang bukti tersebut maka setidaknya aparat gabungan telah menyelamatkan lebih dari 13 juta anak bangsa terhindar dari penyalahgunaan narkoba," kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Heru Winarko di Monas, Jumat (4/5).
Barang bukti narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 2.647 ton itu berasal dari sitaan BNN seberat 1.027 ton dan sitaan Polri 1.620 ton. Kasus pertama hasil pengungkapan BNN, TNI AL, dan Ditjen Bea Cukai. Sedangkan kasus kedua hasil pengungkapan Direktorat TP Narkoba Bareskrim Polri dengan Ditjen Bea Cukai.
Pengungkapan sabu di perairan Batam Pada Rabu (7/2) sekitar pukul 14.30 WIB saat tim KRI Sigurot-864 mengamankan kapal ikan KM. Sunrise Glory atau Shun De Man 66 atau Shuen De Ching 12 di Selat Philip di wilayah perairan Batam.
Petugas mengamankan empat orang ABK berkewarganegaraan Taiwan yaitu Chen Chung Nan, Chen Chin Tun, Huang Ching An dan Hsieh Lai Fu, karena dugaan pelanggaraan Undang-Undang Perikanan dan pelayaran.
Dua hari berselang, Jumat (9/2), sekitar pukul 18.00 WIB tim gabungan yang terdiri BNN, WFQR IV/Lanal Batam, dan Bea Cukai pusat dan Batam melakukan pemeriksaan dokumen dan muatan di atas kapal.
Hasilnya, petugas menyita 41 karung berisi 1.019 bungkus sabu seberat total 1,027 ton. "Sabu disembunyikan di dalam palka bagian belakang kapal," tegas polisi berpangkat bintang tiga itu.
Sedangkan, sitaan 1620 ton berasal dari pengungkapan kasus penyelundupan sabu di perairan Pulau Anambas Kepri. Kasus ini diungkap jajaran Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri dan Ditjen Bea Cukai pada 20 Februari 2018 silam.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Daniyanto menjelaskan pemusnahan sabu yang dilakukan di Monas hanyalah simbolis sebanyak 20 kilogram. Sisanya akan dimusnahkan di Garbage Plant, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.
Menurut Eko, awalnya seremoni pemusnahan tangkapan penyelundupan sabu terbesar sepanjang sejarah Indonesia iniakan dipimpin langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, Presiden tidak bisa hadir karena ada urusan yang lebih penting. "Tadinya Presiden, tapi presiden ada rapat terbatas," tegas dia.