Indonesia Darurat Hoaks
Pahamilah alur hoax. (Foto: gatewaynaturalmedicine)
INDONESIA darurat hoaks. Setidaknya isu tersebut terjadi akhir-akhir ini. Beberapa tahun yang lalu, tak banyak orang yang menggunakan istilah hoaks. Namun kini, hoaks menjadi ancaman nyata bagi perkembangan informasi, demokrasi, atau kebebasan beropini. Hoaks merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaki hoax. dalam Kamus Oxford hoax didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.
Hoaks atau berita palsu telah beredar sejak tahun 1439 kala Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak. Namun, perkembangan teknologi informasi membuat persebaran berita hoaks lebih masif dan menyeluruh.
Kamus Oxford telah mengumumkan bahwa kata hoaks menjadi Word of the Year 2016. Sejumlah informasi hoax yang beredar di masyarakat seolah menjadi bom waktu yang bisa menyerang kapan saja. Kesimpangsiuran suatu informasi dapat menyebabkan keresahan hingga provokasi di kalangan warganet. Tak jarang berita hoax juga membuat orang saling lempar argumen hingga berakhir bentrok.
Orang-orang yang rentan terpapar berita hoaks yakni orang-orang yang tidak suka membaca dan jarang mengonsumsi berita. Ketika mereka mengetahui berita hoaks, dengan mudahnya mereka meyakini bahwa berita tersebut nyata. Mereka langsung mempercayai konten berita hoaks tersebut tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu karena enggan. Diskusi tentang berita palsu telah memunculkan fokus baru pada literasi media secara lebih luas.
Berpikir kritis merupakan kunci dalam literasi media dan informasi sehingga kita bisa mendapatkan informasi yang faktual dan teruji kebenarannya. International Federation of Library Association and Institutions (IFLA) pun turut ambil bagian untuk mengendalikan persebaran berita hoaks yang semakin meluas. Sebagai pustakawan, IFLA menghimbau masyarakat untuk memiliki keterampilan untuk menavigasi informasi yang beredar sebelum mempercayainya.
Ada tujuh langkah yang bisa dilakukan untuk mendeteksi berita palsu:
1. Mengetahui Sumber
Hal yang pertama yang bisa dilakukan adalah megetahui sumber berita yang beredar. Kita bisa mencaritahu profil sumber berita. Dengan begitu kita bisa mengetahui akurasi dari berita yang beredar.
2. Cari Tahu Sumber Pendukung
Dalam suatu artikel, penulis biasanya memperkuat data yang ada dengan memasukkan sejumlah sumber pendukung. Cari tahu pula profil tentang sumber pendukung tersebut dengan browsing terlebih dahulu di internet. Dengan demikian, kita bisa mengetahui seberapa akurat berita yang ditampilkan.
3. Baca Keseluruhan Berita
Terkadang, penulis sengaja membuat judul berita yang bombastis supaya warganet tergoda untuk membaca tulisannya. Namun terkadang judul yang dibuat tidak sesuai dengan konteks tulisan. Pastikan berita yang kita baca tidak clickbait. Clickbait adalah ketidaksinambungan antara judul dengan artikel secara keseluruhan.
4. Cek Penulis
Periksa siapa yang membuat tulisan tersebut. Apakah mereka kredibel atau tidak. Orang-orang yang menulis secara anonim biasanya dipertanyakan kebenaran isi beritanya,
Bagikan
Berita Terkait
[HOAKS atau FAKTA]: Seperti Venezuela, Donald Trump Ancam Tangkap Prabowo jika Lakukan Perusakan Terhadap Alam
[HOAKS atau FAKTA]: Hakim PN Surakarta Pastikan Ijazah Jokowi Palsu
[HOAKS atau FAKTA]: Dedi Mulyadi Disambut Ribuan Orang saat Tiba di Lokasi Bencana Sumatra
[HOAKS atau FAKTA]: Penularan Virus Super Flu Dinilai Lebih Cepat dan Berbahaya dari COVID-19
[HOAKS atau FAKTA]: Bahlil Asyik Berjoget di Tengah Duka Korban Bencana Sumatra
[HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Australia Bagi-bagi Uang untuk Modal Usaha, Dititip Lewat Kementerian Agama
[HOAKS atau FAKTA]: Megawati Kepincut Menkeu Purbaya, Tawari Masuk PDIP dan Dijadikan Ketua Partai
[HOAKS atau FAKTA]: Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Kunjungan Dedi Mulyadi ke Sumatra Hanya Cuma Pencitraan
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Perintahkan Semua Kantor Desa Diaudit, Menkeu Purbaya Didemo Para Kades
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Pecat Bahlil karena Ketahuan Bohong Listrik di Aceh Sudah Menyala