MerahPutih Nasional- Panglima TNI Jenderal Moeldoko menuturkan, pemerintah Indonesia melihat Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebagai ancaman besar bagi dunia, dan Jakarta berkeinginan untuk meningkatkan kerja sama dengan Washington untuk hadapi kelompok radikal ini di Asia Tenggara.
Ia mengatakan, kepada The Washington Times bahwa secara personal dirinya meminta Kepala Kerjasama Militer AS Jenderal Martin E Dempsey untuk mengizinkan pejabat tinggi TNI ikut berpartisipasi sebagai peninjau dalam Gugus Tugas anti ISIS di Washington.
"Pembentukan Gugus Tugas anti-ISIS di dalam pemerintahan AS, bahkan kami ingin ikut bekerjasama untuk memperkuat kemampuan analisa intelijen para pejabat militer kami dalam mencegah ancaman ISIS," ujar Moeldoko, sebagaimana dilansir The Washington Times, beberapa waktu lalu.
Meski demikian, ia menolak untuk memberikan rincian program gugus tugas tersebut. Ia hanya menyatakan hal tersebut beberapa jam setelah melakukan kunjungan ke Pentagon pada Selasa (16/12) lalu, yang merupakan agenda terakhir dalam rangkaian pertemuan dengan pejabat militer AS. Kunjungan tersebut menunjukkan keinginan Indonesia untuk mempererat hubungan militernya dengan Amerika Serikat.
ISIS menjadi topik dominan yang dibahas dalam pertemuan kedua negara, terutama karena para pejabat TNI di Jakarta mengaku memiliki informasi tentang sekitar 100 warga Indonesia yang telah melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk bergabung dengan gerakan ekstrimis tersebut.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko juga mengatakan, bahwa ancaman yang hadir saat ini dapat menjadi kesempatan bagi hubungan militer Indonesia-AS untuk meluaskan kerjasama, menghapus segala kesalahpahaman dimana Washington pernah memotong semua bentuk bantuan militer kepada Jakarta karena kasus pelanggaran HAM oleh militer Indonesia pada akhir tahun 1900-an. Hubungan militer kedua negara kemudian pulih kembali pada tahun 2000, dan Moeldoko mengatakan dirinya bangga dengan kemajuan yang dibuat oleh militer Indonesia dalam menghadapi pelanggaran HAM masa lalu.
"Indonesia dan Amerika Serikat berbagi kepentingan yang sama berdasarkan keamanan kawasan, dan tentunya juga masalah ISIS. Kedua negara memiliki hubungan militer yang kuat dan dapat dikembangkan," ujar Moeldoko.
Selain itu, ia menyarankan agar Jakarta lebih mengedepankan keinginan untuk menjadi partner lebih dekat dengan AS seperti dalam menghadapi isu Tiongkok.
"Kedua negara bertanggung jawab untuk saling mengingatkan satu sama lain," katanya.
Strategi menyeimbangkan ulang (rebalancing) pemerintahan Obama di kawasan Asia Pasifik justru bisa menjadi risiko baru yang menciptakan 'instabilitas kawasan'. Karena itu, ia juga menuturkan, tujuan yang ingin dicapai dirinya bersama para pemimpin dari negara-negara lain di Asia Tenggara adalah untuk menahan bersama-sama melalui ASEAN, menghadapi kekuatan militer terbesar di kawasan yakni Tiongkok.
"Kuncinya adalah komunikasi di antara para pemangku kebijakan," kata dia. (MP/AKU)