Merahputih.com - Pemerintah diminta meningkatkan kewaspadaan nasional dan memperkuat sistem deteksi dini menyusul temuan kasus Hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, sedikitnya tercatat 23 kasus Hantavirus dengan angka kematian mencapai tiga jiwa dalam tiga tahun terakhir yang tersebar di sembilan provinsi.
Baca juga:
Hantavirus Ancam Dunia, DPR Desak Pemerintah Siapkan Deteksi Dini
Risiko Fatalitas dan Gejala Klinis
Anggota DPR RI, Netty Prasetiyani, menyoroti tingkat fatalitas penyakit ini yang menyentuh angka 13 persen. Kondisi tersebut menuntut respons cepat dari otoritas kesehatan untuk memperkuat sistem surveilans dan edukasi kepada masyarakat luas mengenai ancaman penyakit zoonosis ini.
“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,” ujar Netty, Senin (11/5).
Penyebaran Hantavirus terjadi melalui hewan pengerat seperti tikus, di mana virus menular lewat urine, kotoran, air liur, atau debu yang terkontaminasi dan terhirup oleh manusia. Masyarakat perlu mewaspadai gejala awal yang menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga sesak napas akut.
“Karena gejalanya mirip penyakit umum lainnya, masyarakat sering terlambat menyadari. Padahal jika kondisi memburuk, Hantavirus dapat menyerang paru-paru maupun organ tubuh lainnya dan berisiko fatal,” jelas Netty.
Penguatan Sanitasi dan Surveilans Lingkungan
Kondisi lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi serta pengelolaan sampah yang buruk menjadi faktor utama pendorong penyebaran Hantavirus. Netty menegaskan bahwa kesehatan masyarakat memiliki kaitan erat dengan kualitas sanitasi lingkungan dan pengendalian populasi hewan pengerat di area pemukiman.
Baca juga:
23 Kasus Hantavirus di Indonesia Sejak 2024, DPR Dorong Metode One Health
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan perlu memastikan tenaga kesehatan di daerah terdampak memiliki kapasitas mumpuni untuk mengenali gejala secara cepat dan melakukan diagnosis dini.
Koordinasi lintas sektor bersama pemerintah daerah juga menjadi kunci dalam mengendalikan populasi tikus dan memperbaiki sistem pengelolaan limbah rumah tangga.\
“Kita tidak boleh menunggu kasus membesar baru bertindak. Prinsip kesehatan masyarakat adalah mencegah sebelum menjadi wabah,” tegasnya menutup keterangan.