MerahPutih Nasional - Presiden Abdurrahman Wahid bukan hanya dikenal sebagai seorang Presiden Republik Indonesia keempat. Sosok yang akrab disapa Gus Dur juga dikenal sebagai seorang ulama terkemuka, tokoh pluralis dan tokoh yang membela kelompok minoritas, salah satunya adalah etnis Tionghoa.
Usai reformasi pada tahun 1998 posisi etnis Tionghoa di tanah air mengalami masa-sama sulit. Reformasi yang disertai pesta pora perusakan dan pembakaran serta penjarahan membuat etnis Tionghoa merasa terancam. Sebagian dari etnis Tionghoa memilih pergi meninggalkan tanah air dan bermukim di luar negeri. Sebaliknya etnis Tionghoa sendiri dituding sebagai dalang terjadinya krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia. Pada saat krisis itulah Gus Dur tampil sebagai pelindung membela etnis Tinghoa.
Pada tahun 1998, kala itu Gus Dur masih menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ditengah kemelut dan tantangan keras, Gus Dur menyerukan kepada etnis Tionghoa yang berada di luar negeri untuk segera kembali ke tanah air. Bukan hanya itu Gus Dur juga menjamin keselamatan etnis Tionghoa. Gus Dur juga ingin etnis Tionghoa setara dengan etnis-etnis lain di tanah air.
Perjuangan Gus Dur membela minoritas Tionghoa semakin tegas ketika ia menjadi Presiden Republik Indonesia keempat (1999-2001). Hal itu diwujudkannya melalui berbagai kebijakan, di antaranya menghapus Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang pelarangan semua bentuk ekspresi keagamaan etnis Tionghoa di depan umum.
Gus Dur kemudian mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 2000 yang mana mengatur tentang penyelenggaran kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Bahkan Gus Dur juga menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif (tidak diwajibkan).
Inpres itu kemudian dilanjutkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dengan penetapan Hari Raya Imlek sebagai hari libur Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2002. Sejak itulah, etnis Tionghoa di Indonesia bebas merayakan Imlek tanpa tekanan.
Atas jasa-jasanya itulah Gus Dur disanjung sebagai tokoh pluralis, tokoh pembela kelompok minoritas dan Bapak Tionghoa. (bhd)