Merahputih.com - Pemerintah diharap segera mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global yang mengancam stabilitas pasokan dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional. Langkah mitigasi strategis menjadi harga mati demi mencegah kelangkaan energi di tengah ketidakpastian dunia.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Erma Rini, menyoroti konflik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang berpotensi memutus rantai distribusi energi global. Menurutnya, gangguan pada jalur tersebut akan berdampak langsung pada ketahanan energi berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Ancaman ketersediaan stok BBM bagi kita memang ada di depan mata. Karena itu pemerintah harus menyiapkan strategi antisipasi dengan berbagai simulasi dan skenario,” tegas Anggia, Selasa (10/3).
Baca juga:
Skenario Alternatif dan Mitigasi Rantai Pasok
Politisi Fraksi PKB ini menekankan pentingnya analisis matang dalam menghadapi krisis. Pemerintah tidak boleh hanya berpangku tangan melihat situasi global, melainkan harus memiliki rencana cadangan yang siap eksekusi jika jalur distribusi utama terganggu.
“Harus ada analisis dan simulasi yang matang. Kalau ada gangguan pada pasokan, pemerintah sudah punya skenario alternatif untuk mengatasinya,” tambah Anggia.
Meluruskan Mitos Stok BBM 20 Hari
Di sisi lain, Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Hadityo Ganinduto, meluruskan kekhawatiran masyarakat mengenai isu stok BBM nasional yang dikabarkan hanya cukup untuk 20 hingga 30 hari. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut merujuk pada kapasitas penyimpanan (storage), bukan total cadangan energi yang dimiliki Indonesia.
“Stok sekitar 24 hari itu bukan berarti kita hanya memiliki BBM sebanyak itu, tetapi itu adalah kapasitas penyimpanan yang kita miliki,” jelas Firnando.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah tengah mendiversifikasi sumber impor energi agar tidak bergantung pada satu wilayah saja. Selain Timur Tengah, Indonesia kini aktif melakukan pembelian dari Amerika Serikat dan negara lainnya untuk menjaga stabilitas stok.
Baca juga:
Pramono Anung Pastikan Stok BBM Jakarta Aman hingga Lebaran 2026, Tak Perlu Panic Buying
Meski pasokan tergolong aman, Firnando tetap mengingatkan potensi lonjakan harga minyak dunia yang dapat membebani APBN melalui subsidi energi. Ia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying).
“Saya mengimbau masyarakat tidak perlu panic buying. Pemerintah dan BUMN energi tentu akan menyiapkan strategi agar kelangkaan BBM tidak terjadi,” pungkas Politisi Fraksi Golkar tersebut.