Kesehatan

Ganggguan Tidur Mengintai Perempuan di Setiap Tahap Usia

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 03 September 2024
Ganggguan Tidur Mengintai Perempuan di Setiap Tahap Usia

Ilustrasi tidur. (Foto: Unsplash/Pexel/Ivan Oboleninov)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

?MERAHPUTIH.COM - PEREMPUAN punya masalah tidur yang serius. Bagi kaum hawa, masalah tidur tak hanya urusan sulit tidur. Jajak pendapat terkini yang dilakukan National Sleep Foundation, seperti dilansir CNA Lifestyle, mengungkap perempuan lebih sulit tertidur dan tetap tidur ketimbang laki-laki.

Masalah-masalah itu bisa muncul selama masa pubertas dan berlanjut hingga dewasa. Demikian diungkap Fiona Baker, Direktur Human Sleep Research Programme di SRI International, sebuah badan riset nirlaba yang berpusat di Menlo Park, California. Menurutnya, ada berbagai faktor penyebab munculnya isu tersebut, seperti biologis, psikologis, dan sosial.

Perubahan hormon selama masa reproduksi, menurut Baker, membuat perempuan mengalami perubahan mood serta simptom fisik nan mengganggu seperti kram perut dan kembung berlebih. Semua itu merupakan pengganggu tidur bagi para perempuan.
Kondisi saat kehamilan, seperti mual, keinginan untuk berkemih, kecemasan dan ketidaknyamanan secara umum, menurut asisten profesor klinis saraf dan psikologi di Albert Einstein College of Medicine di Bronx, juga memicu gangguan tidur. “Gangguan tidur ini umumnya terjadi di masa trimester pertama dan ketiga,” kata Harris, seperti dilansir CNA Lifestyle.

Setelah masa kehamilan berlalu, gangguan tidur berganti menjadi merawat bayi. Menurut Harris, ini bisa berlangsung lama hingga anak benar-benar bisa tidur nyenyak sepanjang malam. “Terkadang, otak perempuan amat terlatih untuk mendengar tangisan bayi. Itu memunculkan pola awas dan respons berlebihan. Hal itu membuat sulit untuk tidur nyenyak,” katanya.

Baca juga:

Manfaat Tidur Terlentang yang dapat Mengatasi Masalah Tidur


Tak berhenti di sana, saat memasuki masa menopause, perempuan kembali mengalami gangguan tidur karena hormon. Lebih dari 80 persen perempuan merasakan panas di dada jelang masa menopause. “Gejala itu bisa berlanjut hingga tujuh tahun setelahnya,” kata Baker. Sebanyak 20 persen perempuan yang mengalami gejala itu mengeluhkan gangguan tidur akibat rasa panas di dada.

Setelah masa menopause, perempuan punya risiko lebih tinggi mengalami sleep apnea. Itu merupakan kondisi henti napas yang membuat terbangun di tengah tidur. Kenaikan berat badan yang terkait dengan menopause dan penuaan juga berkontribusi pada risiko sleep apnea. “Itu, lagi-lagi disebabkan hormon,” kata Baker.

Di luar hormon, para perempuan dilaporkan punya risiko tinggi mengidap gangguan mental, seperti kecemasan dan depresi. Hal itu menambah masalah tidur pada perempuan. Jajak pendapat yang dirilis Gallup memperlihatkan persentase perempuan yang mengaku tengah menjalani terapi depresi dua kali lebih tinggi ketimbang laki-laki. Temuan itu diamini Department of Health and Human Services AS yang menyebut perempuan punya risiko dua kali lipat didiagnosis gangguan kecemasan ketimbang laki-laki.

Meski demikian, bukannya tak ada harapan tidur berkualitas buat perempuan. Harris menyebut terapi perilaku kognitif menjadi solusi untuk masalah tidur ini, termasuk insomnia. Terapi itu telah terbukti meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi gejala depresi.

Jika kamu terbangun sekali atau dua kali dalam saat tidur lalu bisa kembali tertidur dalam 10-15 menit, itu bukanlah masalah. Sebaliknya, jika kamu mengalami kesulitan tertidur, tetap tertidur dalam jangka waktu lama, atau merasa tak bugar setelah bangun, Harris menyarankan kamu mencari bantuan untuk masalah gangguan tidur. “Jangan menderita tak tidur dalam kesunyian sendiri,” tegas Harris.(dwi)

Baca juga:

Journaling Maksimalkan Kualitas Tidur

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan