MerahPutih.com - Filsummer membuka perjalanan musik mereka melalui Bubuka, debut EP yang menjadi pintu pertama menuju rangkaian cerita tentang pahitnya kehidupan, luka yang belum menemukan penyelesaian, serta keresahan manusia ketika berhadapan dengan dunia dan berbagai persoalannya.
Berasal dari Bandung, Filsummer membawa pendekatan Midwest Emo yang dipertemukan dengan unsur-unsur musik tradisional Sunda.
Perpaduan itu menjadi salah satu karakter utama musik mereka, mempertemukan permainan gitar yang twinkly dengan warna bunyi dari sejumlah instrumen tradisional seperti suling, kecapi, gamelan, kendang, dan goong.
'Bubuka' dan Empat Cerita tentang Kehidupan
Alih-alih hanya menjadi kumpulan lagu, Bubuka dirancang sebagai awal dari sebuah perjalanan naratif.
Empat lagu di dalamnya membawa cerita yang berbeda, tetapi memiliki benang merah berupa kegelisahan personal maupun persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan manusia.
Setiap lagu menghadirkan sudut pandang tersendiri tentang bagaimana seseorang berhadapan dengan luka, keyakinan, hubungan, hingga keputusan untuk terus bertahan ketika kehidupan tidak selalu memberikan alasan untuk berharap.
Perjalanan tersebut dimulai melalui lagu Bubuka. Sesuai posisinya sebagai pembuka, lagu ini menggambarkan awal kehidupan manusia ketika harus berhadapan dengan dunia yang sejak awal tidak selalu ramah.
Dunia digambarkan sebagai tempat yang pahit, penuh kekacauan, dan memaksa seseorang beradaptasi dengan berbagai keadaan yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Baca juga:
Aruma Tuangkan Perjalanan Menerima Diri Lewat EP Baru 'Dan Ternyata Aku Cukup'
'C.M.G' Soroti Penyalahgunaan Agama
Cerita kemudian berlanjut melalui C.M.G, yang membawa pembahasan lebih jauh ke persoalan agama dan bagaimana keyakinan dapat disalahgunakan demi kepentingan maupun nafsu pribadi.
Lagu ini menjadi salah satu bentuk keresahan Filsummer terhadap perilaku manusia yang menggunakan sesuatu yang seharusnya menjadi pegangan moral justru sebagai alat untuk mencapai tujuan duniawi.
Wild Goose Chase dan Hubungan yang Tak Sehat
Sementara itu, Wild Goose Chase bergerak ke wilayah yang lebih personal dengan membicarakan savior complex dalam sebuah hubungan.
Lagu ini merefleksikan kecenderungan seseorang untuk merasa harus menyelamatkan atau memperbaiki pasangannya, seolah-olah keberadaan dirinya ditentukan oleh peran tersebut.
Di dalam hubungan, keinginan untuk menjadi penyelamat tidak selalu berujung pada sesuatu yang sehat. Pada titik tertentu, perasaan tersebut justru dapat menjadi beban bagi kedua belah pihak.
'Numbered', Pilihan untuk Tetap Bertahan
Cerita dalam EP ini kemudian ditutup oleh “Numbered”, sebuah lagu tentang seseorang yang memilih untuk tetap bertahan meski harapan terhadap hari esok semakin menipis.
Namun, keputusan untuk bertahan bukan semata-mata karena keyakinan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Ada hal-hal tertentu yang terasa terlalu berat untuk ditinggalkan.
Karena itu, seseorang tetap memilih berada di tempatnya meski tidak lagi memiliki kepastian mengenai apa yang akan terjadi setelahnya.
EP 'Bubuka' sebagai Awal Perjalanan Filsummer
Keempat lagu tersebut membuat Bubuka terasa seperti rangkaian cerita yang saling terhubung.
Masing-masing memiliki persoalan dan sudut pandang berbeda, tetapi semuanya berangkat dari kegelisahan yang sama: bagaimana manusia berusaha memahami kehidupan ketika berbagai hal di sekitarnya tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Dalam bahasa Sunda, Bubuka berarti pembuka. Pemilihan nama tersebut menjadi representasi posisi EP ini dalam perjalanan Filsummer.
Alih-alih menjadi akhir dari sebuah gagasan, Bubuka justru menjadi awal dari rangkaian cerita yang lebih panjang mengenai pengalaman manusia dalam menghadapi dunia.
Baca juga:
Obelisk Stereo Rilis EP Perdana 'Sheol', Merangkai Kisah tentang Siklus Kehidupan dan Kematian
Melalui debut EP ini, Filsummer tidak hanya memperkenalkan karakter musik mereka, tetapi juga memperluas eksplorasi terhadap keresahan yang bersumber dari kehidupan personal dan sosial.
Perpaduan Midwest Emo dengan elemen musik Sunda menjadi medium untuk menyampaikan cerita tentang dunia yang pahit, luka dalam hubungan yang belum selesai, penyalahgunaan agama demi kepentingan pribadi, hingga pergulatan seseorang untuk tetap bertahan ketika harapan terhadap masa depan hampir sepenuhnya menghilang.
Bubuka pada akhirnya menjadi pengantar bagi Filsummer untuk memperkenalkan dunia yang mereka bangun melalui musik.
Sebuah dunia yang tidak selalu menawarkan jawaban, tetapi mengajak pendengar untuk ikut melihat, merasakan, dan merenungkan berbagai bentuk kegelisahan yang mungkin selama ini juga hadir dalam kehidupan mereka sendiri. (Far)