MERAHPUTIH.COM - UNIT synthwave/darkwave/post-punk asal Indonesia, Temarram, akhirnya merilis album penuh perdana mereka, Antara Angkara, pada 11 September 2026. Album perdana ini rilis setelah melewati perjalanan selama lima tahun unit ini berkelana di dunia musik. Temarram diperkuat Regga Prakarso yang mengisi gitar dan programmed synthesizer, Sherina Redjo sebagai vokalis, serta Tanthowi pada bass.
Antara Angkara memuat delapan lagu yang membawa pendengar menyusuri ruang gelap tentang keruntuhan diri. Album ini menggambarkan bagaimana kehidupan terkadang memaksa manusia untuk berhenti, bersimpuh, sekaligus menatap kembali serpihan yang tersisa, mulai dari kehidupan, ketiadaan, harapan, hingga penyesalan. Sebelum album ini hadir secara utuh, Temarram telah membuka perjalanannya melalui single Pusara yang dirilis pada 2025.
Untuk memperluas kemungkinan musikalnya, Temarram turut menggandeng sejumlah musisi dengan karakter berbeda. Pandu Fuzztoni, Otong Koil, serta Gerry Lainil Fauzi dari Dirty Ass hadir sebagai kolaborator dalam beberapa bagian album.
Baca juga:
Bukan Sekadar Album Baru, 'Good Times' Ungkap Kisah Personal Lukas Graham
Perjalanan Antara Angkara dibuka lewat Dan Kau Terlunta, sebuah lagu yang menyoroti penyesalan ketika ambisi yang dikejar perlahan justru membawa kehidupan menuju kehancuran. Setelahnya, Reruntuh berbicara mengenai mimpi yang harus dikorbankan karena tekanan dan rutinitas kehidupan sehari-hari.
Amarah terhadap sebuah hubungan yang berakhir kemudian muncul dalam Aksioma (feat. Gerry Laini Fauzi). Sementara itu, Pusara menghadirkan titik balik berupa kesadaran bahwa manusia kerap menjadi pihak yang mengurung dirinya sendiri di dalam petaka yang diciptakannya.
Nuansa perenungan berlanjut melalui Tak Tergenggam, yang mempertanyakan gagasan tentang kehidupan dan bagaimana tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk benar-benar memilikinya. Di tengah berbagai keruntuhan tersebut, Semesta Semesta hadir sebagai secercah harapan sebelum Afeksi dan Mati (feat. Otong Koil) kembali membawa pendengar berhadapan dengan kenyataan.
Sebagai penutup, Pengakhiran Permulaan berbicara tentang penerimaan terhadap siklus kehidupan: bahwa berakhirnya sesuatu tidak selalu berarti kehampaan sebab setiap akhir juga dapat menjadi pintu menuju permulaan yang baru.
Dalam proses pengerjaan album, Temarram mempercayakan Pandu Fuzztoni sebagai produser sekaligus kolaborator untuk menerjemahkan berbagai gagasan musikal yang mereka miliki. Proses kreatif tersebut memberikan ruang yang lebih bebas bagi Temarram untuk keluar dari batas-batas yang sebelumnya mereka kenal, sembari tetap mempertahankan karakter utama musik mereka.
Eksplorasi musikal Antara Angkara semakin terasa melalui kehadiran sejumlah kolaborator. Setiap kolaborator membawa warna dan pendekatan yang berbeda ke dalam materi Temarram.
Otong Koil menghadirkan karakter vokal dan atmosfer yang mencekam dalam Afeksi dan Mati, mempertebal rasa getir yang dibangun lagu tersebut. Sementara itu, Gerry Lainil Fauzi dari Dirty Ass menyuntikkan energi amarah ke Aksioma melalui teriakan khasnya yang penuh tenaga.
Pandu Fuzztoni pun tidak hanya berperan di balik produksi. Ia turut mengambil bagian secara musikal dengan menghadirkan isian gitar yang sarat noise, menjadi sebuah kejutan sekaligus twist dalam Pengakhiran Permulaan.(Far)
Baca juga:
Makna Lagu 'Dunia Imajiner', Ruang Khayal Rony Parulian dalam Album Kedua