MerahPutih.com - Kondisi Timur Tengah yang terus memanas, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, serta blolade selat Hormuz yang menjadi nadi ekspor minyak dan gas negara teluk, sudah berdampak pada ekonomi wilayah tersebut.
Qatar mencatatkan defisit mencapai lebih dari 21 miliar riyal atau sekitar Rp102,4 triliun) pada kuartal II 2026, di tengah eskalasi di kawasan Timur Tengah serta penurunan tajam pendapatan dari ekspor gas alam.
Angka tersebut merupakan defisit kuartalan terbesar dalam hampir satu dekade, kata Kementerian Keuangan Qatar pada Selasa (8/9).
Pada kuartal II 2026, defisit anggaran negara mencapai 21,2 miliar riyal (sekitar Rp102,4 triliun),
kata kementerian tersebut melalui X.
Angka itu merupakan yang tertinggi sejak akhir 2016 dan hampir dua kali lipat dibandingkan defisit pada kuartal sebelumnya, yang tercatat sebesar 10,3 miliar riyal atau sekitar Rp 49,7 triliun.
Pasokan LNG Qatar menjadi salah satu yang paling terdampak. Qatar mengekspor kurang dari 2 juta ton LNG selama April hingga Juni, dibandingkan dengan sekitar 20 juta ton pada kuartal II 2025.
Sementara itu, pejabat senior keamanan Iran memperingatkan pada Selasa bahwa jika AS melanjutkan "perang ekonomi" terhadap Iran, maka Teheran dapat memicu pembentukan zona larangan maritim di seluruh Teluk Persia.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Washington telah menerima peringatan jelas dari Iran dalam beberapa hari terakhir melalui rudal-rudal baru yang dimiliki Teheran.
Perang ekonomi akan dibalas dengan zona larangan maritim di seluruh Teluk Persia hingga ke perimeter blokade,
kata Rezaei dalam unggahan di platform media sosial AS, X.