MerahPutih.com - Anggota Komisi V DPR RI, Muhammad Lokot Nasution, meminta publik tidak berspekulasi terkait penyebab tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Ia menegaskan, penyebab pasti kecelakaan harus menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Kita tunggu investigasi KNKT,” kata Lokot kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/4).
Lokot menyoroti munculnya berbagai dugaan penyebab kecelakaan, termasuk isu keterlibatan taksi listrik berwarna hijau yang sebelumnya tertabrak KRL di perlintasan sebidang Bulak Kapal, Bekasi. Insiden itu disebut-sebut menjadi pemicu gangguan operasional hingga berujung tabrakan lanjutan.
Baca juga:
Kecelakaan KRL vs Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, DPR Desak KNKT Segera Investigasi
Menurut Lokot, keberadaan perlintasan sebidang menjadi persoalan krusial. Ia mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian yang mengatur bahwa perpotongan jalur kereta dengan jalan harus dibuat tidak sebidang.
“Perlintasan sebidang itu sebenarnya tidak boleh ada. Solusinya ya underpass atau flyover,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya sterilisasi area rel, termasuk Daerah Manfaat Jalan (Damaja) dan Daerah Milik Jalan (Damija). Menurutnya, tidak boleh ada kendaraan atau aktivitas masyarakat di jalur tersebut.
“Rel itu harus steril. Yang boleh masuk hanya petugas dengan izin,” tegasnya.
Baca juga:
PT KAI Diminta Evaluasi Total Sistem Kendali Kereta Usai Insiden di Bekasi Timur
Selain itu, Lokot meminta KNKT mengusut kemungkinan adanya gangguan sistem sinyal. Ia menjelaskan, dalam sistem perkeretaapian, jika satu jalur sudah ditempati kereta, maka kereta lain secara otomatis mendapat sinyal merah.
Namun, ia mempertanyakan apakah ada faktor lain yang membuat KRL berhenti sebelum akhirnya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek. Salah satu dugaan adalah adanya keramaian di lokasi kecelakaan awal.
“Apakah karena ada keramaian, lalu KRL diminta berhenti, sementara kereta lain sudah mendapat sinyal jalan? Ini yang harus didalami,” ujarnya.
Lokot juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah. Ia menilai pernyataan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono yang menekankan aspek keselamatan sudah tepat.
Baca juga:
DPR Desak Evaluasi Total Taksi Green SM Usai Terlibat Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
“Safety first itu penting. Orang naik kereta karena aman, tepat waktu, dan nyaman,” katanya.
Ia mengingatkan, jika faktor keselamatan diabaikan, kepercayaan publik terhadap transportasi kereta api bisa menurun. Bahkan, masyarakat bisa beralih ke moda transportasi lain.
“Kalau tidak aman, orang bisa enggan naik kereta dan memilih alternatif lain,” tutup Lokot. (Pon)