Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Dokter Paru: Meninggalnya Pasien COVID-19 Mayoritas Akibat Penyakit Penyerta

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Kamis, 09 April 2020
Dokter Paru: Meninggalnya Pasien COVID-19 Mayoritas Akibat Penyakit Penyerta

Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menunjukkan hasil tes cepat (rapid test) pendektesian COVID-19. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Dokter paru senior Rumah Sakit Persahabatan dr. Andika Chandra Putra mengatakan kasus meninggal pada pasien yang terpapar penyakit COVID-19 pada umumnya disebabkan oleh adanya faktor risiko.

"Sejauh ini kebanyakan yang ada (penyakit) penyerta," ujar Andika, Kamis (9/4).

Baca Juga

PSBB Diberlakukan, PWI Keluarkan Prosedur Jurnalis Meliput COVID-19

Ia mengaku belum mengetahui secara pasti apakah seorang pasien meninggal akibat paparan virus SARS-COV-2, penyebab penyakit COVID-19, dengan tipe yang ganas atau ringan karena belum ada pemeriksaan lebih detail terhadap kemungkinan itu.

Namun, ia menekankan bahwa kasus meninggal akibat COVID-19 di Rumah Sakit Persahabatan sejauh ini pada umumnya disebabkan oleh faktor risiko yang menyertai pasien.

Beberapa faktor risiko tersebut antara lain seperti usia lanjut di atas 50 tahun dan karena penyakit penyerta yang sudah ada lebih awal sebelum pasien terinfeksi COVID-19.

Faktor risiko tersebut memperbesar risiko dan mempersulit pengobatan yang sejauh ini dilakukan dengan meningkatkan daya tahan tubuh.

"Jadi yang meninggal ini umumnya orang-orang yang memiliki faktor risiko seperti orang tua di atas 50 tahun atau punya penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, asma, sehingga menyulitkan (pengobatan) dan membuat risikonya semakin besar," katanya.

Seorang dokter berjalan di dekat alat tes swab virus Corona berupa Polymerase Chain Reaction diagnostic kit (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020) ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Seorang dokter berjalan di dekat alat tes swab virus Corona berupa Polymerase Chain Reaction diagnostic kit (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020) ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

"Memang di Persahabatan ada juga yang meninggal di usia 34 tahun, tapi itu karena dia punya penyakit penyerta," kata dia lebih lanjut.

Pada pasien yang tidak memiliki faktor risiko, mereka sebagian besar dapat pulih seperti sedia kala karena memiliki daya tahan tubuh yang kuat sebagai kunci pemulihannya.

Namun, dia tidak menutup kemungkinan bahwa pasien COVID-19 yang tidak memiliki faktor risiko dapat meninggal karena kemungkinan terpapar virus SARS-CoV-2 dari tipe yang ganas.

Baca Juga

Bamsoet Ajak Semua Pihak Bersatu Hadapi Pandemi Corona dan Resesi Ekonomi

"Jadi ada (kemungkinan itu). Secara kimialogi memang umumnya SARS-CoV-2 ini 80 persen akan sembuh. Nah, kurang lebih 5 sampai 15 persen masuk ke kondisi berat dan kurang lebih 5 persen meninggal," katanya.

Oleh karena itu, sebagaimana dikutip Antara, ia mengimbau kepada seluruh kalangan dan kelompok masyarakat untuk tetap berhati-hati dan menaati seruan pemerintah untuk menjaga jarak dan sebisa mungkin tidak ke luar rumah guna menghindari paparan COVID-19. (*)

#Virus Corona #Pasien Corona #Penyakit Corona
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Virus baru ini berasal dari subgenus merbecovirus, yang juga termasuk virus penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS).
Dwi Astarini - Jumat, 21 Februari 2025
 Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Bagikan