PASIEN kanker dikenal sebagai vulnerable patient. Dalam bahasa Inggris, vulnerable mengarah pada suatu kelemahan atau kerentanan. Di lain hal, dalam bahasa Latin, vulnerability merupakan serapan dari vulnerabilis yang memiliki arti 'terluka' dan didefinisikan sebagai kata sifat yang berarti rentan terhadap gangguan fisik atau emosional. Artinya, mereka yang mengidap kanker tak hanya lemah atau rentan secara fisik tetapi juga rapuh secara emosional.
Ketua Yayasan Kanker Indonesia dr Eko Adhi Pangarsa mengatakan keterbatasan peran dan aktivitas karena gangguan kesehatan membuat penderita kanker memiliki masalah ekonomi yang bergejolak. "Dari segi kesehatan jasmani para penderita kanker merasakan kelelahan, gangguan tidur, dan nyeri. Sementara gangguan psikologis yang biasanya dihadapi penderita kanker misalnya cemas, depresi, menurunnya fungsi kognitif dan kesejahteraan psikologis," urai Dokter Eko dalam webinar Patient Safety Day 2020, Kamis (17/9).
BACA JUGA:
Dengan berbagai komplikasi yang dihadapi oleh para penderita kanker baik secara fisik atau psikis tersebut membuat para penderita kanker cenderung memandang negatif kesehatannya. Mereka akan pesimis dan enggan mengikuti rangkaian pengobatan. "Tanpa perawatan, sel kanker dapat menyebar (metastatis)," ujarnya. Ketika sel kanker telah menyebar dapat merusak fungsi jaringan normal di sekitarnya.
Dengan adanya gangguan pada kesehatan jasmani dan kesehatan mental, pasien kanker membutuhkan dukungan dari dokter yang baik. "Dokter kanker yang baik itu bukan hanya mampu menangani pasien secara medis tetapi juga hadir secara mental," ujar Dokter Eko. Menurutnya, dokter harus bisa memperlakukan pasiennya dengan hangat layaknya anggota keluarga. Tujuannya agar pasien merasa percaya dan nyaman dalam menjalani terapi pengobatan kanker.
Lebih lanjut Dokter Eko menguraikan berbagai kriteria yang harus dimiliki oleh seorang dokter kanker. Yang pertama, dokter harus percaya diri. Kepercayaan diri dokter membuat pasien juga merasa percaya diri. "Anda dapat melihat dari sikapnya bahwa dia sangat kuat, positif dan percaya diri dapat membantu pasiennya. Kepercayaan dirinya membuat pasien tenang," tuturnya. Hal kedua yang harus dimiliki oleh dokter adalah empati yang besar. Dengan empati, dokter berusaha memahami apa yang dialami pasien serta merasakan secara fisik dan emosional.
Dokter juga harus teliti dan berterus terang. Dengan ketelitiannya, mereka dapat menjelaskan berbagai informasi penting pada pasiennya dengan mendetil. Sementara sikap berterus terang diperlukan agar mereka mampu menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Kedua hal tersebut membuat pasien lebih memahami berbagai rangkaian terkait pengobatannya.
Di masa modern seperti saat ini dimana tenaga manusia bisa digantikan dengan teknologi, aspek yang bisa ditawarkan dokter pada pasiennya adalah kemanusiaan dan personal. Sisi kemanusiaan yang bisa ditunjukkan oleh dokter misalnya perhatian, penyayang dan baik. Sementara kemampuan personalnya membuat dokter dapat berinteraksi dengan pasiennya. "Dokter bisa berinteraksi dengan pasien lebih dari sekedar pasien. Mereka mengingat pasiennya sebagai seorang individu," tukas dokter Eko.(Avia)
BACA JUGA: