Diabetes Harus Diatasi Sebelum Terlambat
Perhatikan makanan yang dikonsumsi. (Foto: Pixabay/fotoincucina)
PENDERITA penyakit diabetes sudah meningkat empat kali lipat sejak tahun 1980 dan sudah menjadi masalah dunia. Menanggapi hal tersebut organisasi kesehatan dunia (WHO) mendeklarasikan tanggal 14 November menjadi hari diabetes dunia sejak tahun 1991.
Belakangan penyakit ini menyebabkan 2,6% kebutaan di dunia yang disebut dengan istilah Retinopatik diabetik. Tidak hanya kebutaan, tahun 2012 penyakit ini menjadi penyebab 1,5 juta kematian, meningkat menjadi 1,6 juta tahun 2016. Hal tersebut disebabkan karena komplikasi diabetes dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, gagal ginjal, dan amputasi.
Baca Juga:
Hiperglikemia
Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan tingginya kadar gula dalam darah atau biasa disebut hiperglikemia. Seseorang dikatakan hiperglikemia bila memiliki kadar gula dalam darah diatas 110mg/dl. Penyebab terjadinya hal tersebut erat kaitannya dengan kerja insulin di dalam tubuh.
Insulin merupakan hormon yang secara alami akan dikeluarkan oleh pankreas untuk mempertahankan kadar gula darah pada kondisi normal yaitu 70-110mg/dl. Hormon tersebut akan menjadi kunci masuknya gula kedalam sel untuk selanjutnya gula akan diubah menjadi energi/kalori (ketika tubuh butuh energi) atau disimpan sebagai cadangan dan diubah menjadi lemak (ketika tubuh tidak membutuhkan energi). Oleh sebab itu tingginya konsumsi gula juga dapat meningkatkan komposisi lemak dalam tubuh yang dapat berujung kepada obesitas. Hal tersebut diperparah dengan kurangnya aktifias fisik (olahraga).
Penyakit diabetes secara umum disebabkan karena ada masalah dengan insulin di dalam tubuh. Berdasarkan hal tersebut diabetes dapat dibagi menjadi dua, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2, serta ada tipe lainnya yang biasa disebut diabetes gestasional.
Diabetes tipe 1 atau dikenal dengan insulin-dependent atau dapat disebabkan karena keturunan ditandai dengan tubuh kekurangan atau tidak dapat memproduksi insulin, sehingga diperlukan pemberian insulin dari luar tubuh setiap hari. Diabetes tipe 2 atau dikenal dengan non insulin-dependent ditandai dengan terjadinya penurunan kerja insulin (resistensi insulin) yang sebagian besar penderita disebabkan karena obesitas dan kurang aktivitas fisik.
Diabetes gestasional merupakan hiperglikemia yang terjadi selama kehamilan, sehingga dapat membahayakan ibu dan anak serta memungkinkan keduanya menderita diabetes tipe 2 di masa depan. Penjelasan tersebut jelas menunjukkan bahwa keturunan bukan satu-satunya penyebab penyakit diabetes.
Obesitas
WHO menunjukkan data bahwa Tahun 2014, 1 dari 3 orang dewasa diatas 18 tahun yang obesitas juga menderita diabetes. Artinya penderita diabetes saat ini didominasi oleh diabetes tipe 2 sebagai akibat dari obesitas. Rekomendasi WHO untuk pencegahan diabetes tipe 2 adalah mempertahankan berat badan normal, aktifitas fisik minimal 30 menit/hari secara teratur, konsumsi makanan sehat dengan membatasi konsumsi gula dan lemak jenuh, dan hindari merokok.
Semakin banyak makanan yang dikonsumsi, maka semakin tinggi pula kalori yang tersedia bagi tubuh. Sedangkan kalori yang berlebih sebagai akbiat ketidakseimbangan apa yang dikonsumsi dengan aktifitas yang dilakukan memungkinkan menyebabkan obesitas. Sehingga kebutuhan kalori tergantung dari aktifitas yang dilakukan.
Contohnya seseorang dengan berat badan normal membutuhkan kalori 30kkal/kg bila beraktivitas ringan (pekerja kantor/pengajar), 35kkal/kg bila sedang (ibu rumah tangga/berkebun), dan 40kkal/kg bila berat (kerja bangunan/panjat tebing).
Jika seseorang memiliki berat badan 60kg maka kalori yang dibutuhkan adalah 1800kkal bila aktivitas ringan, 2100kkal bila aktivitas sedang, dan 2400kkal bila aktivitas berat. Kunci utama untuk mencegah peningkatan penderita diabetes terutama diabetes tipe 2 adalah kesadaran untuk mengatur pola makan dan olahraga teratur.
Bijak dalam memilih makanan serta mengatur keseimbangan jumlah yang dikonsumsi dengan yang dibutuhkan oleh tubuh menjadi hal penting. Sehingga tidak hanya mengatur jumlah yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga harus memperhitungkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. You are what you DIGEST, Not what you EAT. (*)
Tulisan ini dibuat oleh Oke Anandika Lestari, STP, Msi,
Mahasiswa Program S3 Prodi Ilmu Pangan IPB
Dosen Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan UNTAN
Pengurus Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Cabang Pontianak
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Mengenal HYROX, Olahraga Kebugaran Hybrid yang Uji Kekuatan dan Daya Tahan
NOC Terima Kunjungan KSOC, Perkuat Kerja Sama Olahraga Indonesia-Korea Selatan
Presiden Prabowo Minta Atlet Dihargai secara Nyata, jangan hanya Diberi Terima Kasih,
Jateng Bisa Jadi Wilayah Pendukung Swasembada Gula, DPR Dukung Hentikan Impor
Indonesia Sukses Raih 91 Emas di SEA Games 2025, CdM Puji Dedikasi dan Semangat Juang para Atlet
Indonesia Raih 91 Emas, Lampaui Target di SEA Games 2025
Tim Indonesia Raih Posisi Kedua SEA Games Thailand 2025, Ukir Sejarah 30 Tahun
Berjaya di SEA Games 2025, Tim Indonesia Pertegas Posisi 'Raja' Panahan Asia Tenggara
Tim Cycling Indonesia Andalkan Mental Juara dan Dukungan Penuh Federasi, Kunci Kesuksesan Capai Target Medali SEA Games 2025
Aksi Basral saat Pulang Bawa Medali Emas SEA Games 2025, Tunjukkan Trik Skateboard Loncati Motor