MERAHPUTIH.COM — AKSI demonstrasi pelajar di Prancis berlanjut anarkistis. Para siswa SMA di Prancis menyalakan api di luar sekolah dan berhadapan dengan polisi pada Jumat (2/9). Gerakan protes yang telah memaksa penutupan dan mengganggu pendidikan di lebih dari 560 lembaga pendidikan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Gerakan para pelajar, yang dimulai minggu lalu di wilayah Paris dan menyebar dengan cepat ke seluruh negeri. Para siswa remaja di masa lycee di tahun-tahun terakhir persekolahan mereka memblokade akses ke bangunan sekolah dan bentrok dengan polisi. Lycee merupakan istilah SMA yang mempersiapkan siswa sebelum masuk perguruan tinggi.
Para siswa itu mengatakan jam sekolah mereka terlalu panjang, kondisi fasilitas tidak memadai, termasuk ruang kelas yang terlalu panas, dan ada terlalu banyak ketidakhadiran staf pengajar.
"Selama satu tahun penuh, kami tidak memiliki guru IPA. Kami juga tidak punya buku pelajaran. Meski begitu, kami masih termasuk yang beruntung. Kondisinya bahkan lebih buruk di pinggiran kota,” ujar Simon, seorang remaja berusia 15 tahun yang menolak memberikan nama belakangnya di luar SMA Turgot di pusat Kota Paris, dikutip BBC.
Pemerintah menyatakan keluhan tersebut sah, tetapi mengecam apa yang mereka gambarkan sebagai ‘kekerasan perkotaan’. Para siswa menuduh polisi menggunakan kekuatan secara berlebihan dan menyebabkan cedera karena secara rutin menembakkan tabung gas air mata untuk membubarkan protes.
Baca juga:
Unjuk Rasa Pelajar di Prancis Berujung Ricuh, Hampir 80 Orang Terluka
Di Paris, pada Jumat, kebakaran merusak pintu masuk dua SMA, Leonard de Vinci di selatan kota dan Gaston-Bachelard di tenggara. Petugas pemadam kebakaran dipanggil untuk memadamkan api.
'Disandera'
Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan gerakan siswa SMA ini sedang ‘disandera’ kelompok-kelompok faksi ultrakejam. Kementeriannya menyatakan tidak lama setelah tengah hari bahwa kegiatan belajar-mengajar telah terganggu di lebih dari 560 SMA dari total 3.700 SMA di negara tersebut. Kementerian menyebut lebih daripada 1.000 lycee terdampak pada Kamis.
Banyak SMA juga berencana untuk melaksanakan kegiatan belajar secara daring, terutama di Kota Marseille yang berada di selatan. Setidaknya 65 anggota staf telah terluka, termasuk 40 kepala sekolah SMA, sejak dimulainya gerakan ini, ungkap Geffray kepada BFMTV. Sekitar 170 siswa mengalami luka-luka, sedangkan lebih dari 100 SMA mengalami kerusakan parah.
"Orangtua harus dengan tegas mengambil tindakan dan memberi tahu anak-anak mereka agar tidak ikut dalam aksi protes. Hal yang terpenting saat ini yakni memastikan anak-anak kita tidak berada di jalanan lagi karena mereka dalam bahaya tambahnya,” tambahnya.
Menteri Kehakiman Gerald Darmanin mengatakan ia telah meminta jaksa untuk menuntut pertanggungjawaban orangtua atas kerusakan yang disebabkan anak-anak mereka selama protes dan membayar biaya perbaikan.
Sejak dimulainya gerakan tersebut, sekitar 2.000 orang telah ditangkap pihak kepolisian. “Sembilan puluh persen di antaranya ialah anak di bawah umur," kata Darmanin kepada RTL.(dwi)
Baca juga: