MERAHPUTIH.COM - DRAMA musikal fantasi original Indonesia, SIRENA: Air Mata dari Lautan, hadir di Balai Sarbini, Jakarta, pada 9–10 Oktober 2026. Pertunjukan musikal persembahkan Shinera Entertainment ini memadukan musik, drama, koreografi, tata artistik, multimedia, serta teknologi untuk membawa penonton menyelami dunia fantasi yang menghubungkan kehidupan di daratan dan bawah laut.
Dengan mengusung kultur lokal bersama sentuhan seni urban dan kreativitas modern, SIRENA: Air Mata dari Lautan dirancang sebagai pertunjukan teater berskala besar yang tidak hanya mengandalkan kemegahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai hubungan antarmakhluk hidup dan alam. Melalui kisah yang melibatkan keluarga, air mata, dan perjuangan, drama musikal ini berupaya menghadirkan pengalaman emosional sekaligus memberikan nilai edukasi bagi penontonnya, khususnya anak-anak.
Pertunjukan ini menghadirkan sejumlah artis ternama bersama puluhan talenta dari berbagai generasi. Rara Sudirman dipercaya memerankan Sirena dewasa, beradu peran dengan Muhammad Fachad Haydra sebagai Anthony dan Radhyna Azahra Putri sebagai Reina. Sementara itu, Widi Mulia, yang dikenal sebagai anggota AB Three, berperan sebagai Ratu Kaia, dan penyanyi Agus Wisman dari Elfas Singer memerankan Raja Athar. Karakter Prof Dharma dimainkan Teuku Zacky.
Kekuatan cerita juga dibangun melalui kehadiran para pemeran muda dan cilik. Rasyad Aiman Agus memerankan Leo, Firzanah Alya sebagai Sirena kecil, Yoan Cocohamida sebagai Anthony kecil, serta Loisa Ramadhani sebagai Reina kecil. Kehadiran para pemain dari berbagai kelompok usia tersebut menjadi bagian penting dalam membangun perjalanan cerita dan menghadirkan sisi emosional dari karakter-karakter yang ditampilkan.
Baca juga:
'SIRENA: Air Mata dari Lautan' Hadirkan Kisah Mermaid dengan Sentuhan Lokal
Di bawah arahan sutradara Djaelani M, SIRENA: Air Mata dari Lautan menyatukan berbagai unsur pertunjukan dalam satu panggung. Imajinasi dunia bawah laut dan kehidupan di daratan dipertemukan melalui perpaduan musik, gerak, visual, dan tata artistik yang dirancang untuk membangun suasana fantasi. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya menghadirkan cerita orisinal Indonesia dengan kemasan yang dekat dengan perkembangan seni pertunjukan masa kini.
Namun, daya tarik drama musikal ini tidak hanya terletak pada skala produksinya. Keterlibatan para pemain musik dan penyanyi dari kalangan penyandang disabilitas turut memberikan makna tersendiri bagi pertunjukan tersebut. Kehadiran mereka membuka ruang partisipasi yang lebih luas dalam seni pertunjukan, sekaligus menunjukkan bahwa panggung dapat menjadi tempat bagi siapa saja untuk mengembangkan bakat dan mengekspresikan diri.
Hal ini juga mendapat perhatian dari Fatma Saifullah Yusuf, istri Menteri Sosial, yang hadir dengan mengajak penyandang disabilitas dari sejumlah sentra di Jakarta dan sekitarnya untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Ia mengaku bangga dan terharu mengetahui bahwa produksi ini memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk terlibat sebagai pemain musik dan penyanyi.
"Ketika mengetahui bahwa di dalamnya ada pemain musik dan penyanyi dari kalangan penyandang disabilitas, saya merasa sangat berempati, bangga, sekaligus terharu. Mereka memberikan kesempatan kepada anak-anak kami untuk terlibat dalam drama musikal yang luar biasa ini," ujarnya.
Bagi Fatma, kesempatan menyaksikan pertunjukan secara langsung diharapkan dapat menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus membuka perspektif baru bagi anak-anak yang hadir. Ia ingin mereka melihat bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kesempatan untuk tampil dan mengambil bagian dalam dunia seni.
"Kami ingin mengajak mereka bersenang-senang. Mudah-mudahan, dengan menyaksikan drama musikal ini, mereka bisa mendapatkan inspirasi dan melihat bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kesempatan untuk tampil. Selain itu, saya turut mengajak anak-anak dari Sekolah Rakyat, anak-anak yatim piatu, dan sebagainya," katanya.
Kehadiran anak-anak dari Sekolah Rakyat, anak-anak yatim piatu, serta penyandang disabilitas dari berbagai sentra menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap pengalaman seni dan budaya. Melalui pertunjukan ini, mereka tidak hanya diajak menikmati sebuah drama musikal, tetapi juga diharapkan dapat memperoleh inspirasi dari cerita dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Lebih jauh, Fatma berharap SIRENA: Air Mata dari Lautan dapat meninggalkan kesan yang baik bagi penonton, terutama generasi muda. Menurutnya, cerita yang mengangkat keluarga dan perjuangan dapat menjadi sarana pembelajaran yang disampaikan melalui pengalaman artistik.
"Harapan saya, semoga drama musikal Sirena: Air Mata dari Lautan bisa menginspirasi dan memberikan kesan yang baik bagi para penontonnya. Pertunjukan ini juga diharapkan dapat memberikan nilai edukasi karena di dalamnya terdapat kisah tentang keluarga, air mata, dan perjuangan. Mudah-mudahan, anak-anak bisa belajar banyak dari drama musikal yang spektakuler ini," tuturnya.
Melalui perpaduan fantasi, kekayaan kultur lokal, teknologi, dan keterlibatan talenta dari beragam latar belakang, SIRENA: Air Mata dari Lautan berupaya menghadirkan lebih dari sekadar tontonan. Pertunjukan ini menjadi ruang pertemuan antara seni, pendidikan, dan nilai inklusivitas, sekaligus mengajak penonton untuk melihat kembali hubungan manusia dengan sesama dan alam.(Far)
Baca juga:
Dari Novel dan Film ke Panggung Musikal, 'Home Sweet Loan' Hadirkan Perjalanan Baru Kaluna