MerahPutih.com - Kehidupan merupakan karunia sekaligus teka-teki yang terus menyertai perjalanan manusia. Dengan akal dan perasaan, manusia menjalani berbagai pengalaman, mulai dari kebahagiaan yang menghadirkan tawa hingga kesedihan yang kerap beriringan dengan air mata.
Seperti hitam dan putih yang tampak berlawanan namun saling melengkapi, keduanya menciptakan pemahaman yang lebih utuh. Dari pertemuan dua warna tersebut lahirlah gradasi abu-abu, sebuah ruang penuh makna yang dirangkum dalam satu istilah: Candramawa.
Dalam tradisi Jawa, kata “candramawa” sering dikaitkan dengan perpaduan warna hitam dan putih pada bulu kucing yang dianggap memiliki keistimewaan tersendiri. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, di mana “candra” berarti bulan dan “māva” berarti membawa atau memancarkan.
Karena itu, Candramawa dapat diartikan sebagai “pembawa cahaya bulan”, simbol yang merefleksikan ketenangan, kelembutan, dan keindahan yang samar namun memikat. Di sisi lain, istilah ini juga melambangkan pertemuan antara kekuatan, netralitas, dan kemurnian.
Baca juga:
Dongker Lepas Single Emosional 'Lautan Bunga Warna Terang', Isyarat Album Kedua Segera Meluncur
Bagi Danilla Riyadi, filosofi tersebut sangat dekat dengan realitas kehidupan yang selalu berjalan di antara dua kutub: terang dan gelap, sukacita dan luka. Bahkan dalam banyak kesempatan, kedua hal itu dapat hadir secara bersamaan.
Setiap manusia memiliki beberapa sisi dalam dirinya—sisi yang murni, dan sisi yang terbentuk oleh berbagai variabel kehidupan. Dalam diri saya, kedua sisi itu terus saling menopang hingga tiba di titik lelah dan gelisah. Dari sana, saya sampai pada fase keberserahan—bukan menyerah, tapi legowo. Dan entah mengapa, semua itu terasa terwakili oleh kata ‘Candramawa’,
jelas Danilla.
Proses kreatif album Candramawa dimulai pada 2024 di Bantul, Yogyakarta. Kawasan tersebut menjadi tempat lahirnya delapan lagu yang kemudian menghuni album ini. Dalam penggarapannya, Danilla kembali bekerja sama dengan dua kolaborator yang telah lama mendampinginya, yakni Lafa Pratomo dan Otta Tarega.
“Lafa itu ajaib. Setiap kata dan rasa bisa dia terjemahkan menjadi chord, nada, ritme, dan melodi—seolah musik punya bahasa resmi di tangannya. Lalu Otta melengkapi dengan nuansa yang tepat melalui keyboard dan synthesizer. Mereka benar-benar memahami apa yang ada di kepala saya,” ujar Danilla.
Selain menyuguhkan lanskap musik yang hangat, syahdu, dan melankolis, delapan lagu dalam album ini juga mengangkat berbagai perspektif manusia dalam menyikapi pasang surut kehidupan.
Album ini turut melibatkan sejumlah musisi sebagai kolaborator, di antaranya Bilal Indrajaya pada lagu “Prasangka”, mendiang Gusti Irwan Wibowo yang berperan sebagai co-produser “Dasawarsa”, serta hara dan Sandrayati yang hadir dalam lagu penutup bertajuk “Setitik”. (far)