Class Meeting, Ajang Sportivitas atau Tebar Pesona?
Nembak gebetan pas class meeting. (Foto: YouTube/Para Pemikir Cerdas)
ULANGAN Akhir Semester (UAS) selesai, waktunya class meeting. Para pria sejati di setiap kelas sudah tidak sabar menunjukkan bakat terpendamnya di berbagai lomba, seperti futsal, basket, voli, hingga nge-band. Belum lagi mau pamer dengan gadis manis sering diperebutkan cowok-cowok satu sekolahan.
Pertemuan antarkelas atau class meeting jadi kegiatan ekstrakurikuler antarsiswa dalam bentuk perlombaan atau pertandingan paling seru dan ditunggu-tunggu. Biasanya sih class meeting diselenggarakan anak OSIS selama satu minggu oleh pihak sekolah. Class meeting lantas jadi ajang sportivitas dan momen tepat untuk menunjukkan bakat-bakat terpendam, bukan saja hadiahnya.
Class meeting menjadi momen paling ditunggu-tunggu seantero sekolahan, karena buat sebagian siswa, dianggap kesempatan emas untuk bebas mau ngapain saja di sekolah, datang terlambat, atau bahkan bolos. Waktu pun rasanya berjalan begitu cepat dari biasanya, dibandingkan saat mengikuti pelajaran. Kalau pas pelajaran biasa sih, nunggu lima menit saja rasanya lama banget, apalagi pelajaran enggak disukai. Berasa lagi kayak di persidangan deh.
Baca juga:
Gerombolan Indik-Indik Pasti Hapal Jenis Camilan Kolong Meja Ngilmu Negeri Aing
Di masa-masa akhir UAS, ketua kelas sudah mulai briefing di grup chat atau di kelas terkait lomba dan siapa-siapa saja ingin berpartisipasi dalam class meeting. Anak-anak ‘bandel’ di kelas pun menjadi partisipan nomor satu pali siap membela kelasnya. Mereka dengan semangat lebih dulu mengangkat tangannya sendiri sebelum slotnya penuh. Ya standard lomba anak laki-laki pada umumnya.
Nah buat ekstrovert atau mungkin kurang di bidang non-akademis, biasanya enggan ditunjuk karena malu. Mereka memanfaatkan class meeting untuk menghabiskan waktu dengan membaca novel, mendengarkan musik, sekadar mengobrol dengan teman-temannya, atau mendukung kelasnya dalam perlombaan. Makanya, tak jarang ada bagian tunjuk-menunjuk soal ikut lomba.
Eits, kelupaan. Yang tak kalah penting dari serunya class meeting adalah yel-yel, mulai dari paling keren, standard, dan bahkan absurd. Urusan aneh belakangan, terpenting ada saja dulu.
Baca juga:
Guru Jangan Sampai Lengah Tipu Daya Siswa Saat Belajar Daring
Perlombaan pun dimulai. Beberapa kelas sepakat menggunakan desain baju kelasnya sendiri berupa singkatan buatan mereka. Sekeliling lapangan sudah mulai diramaikan para siswa mulai dari adik kelas sampai alumni terkadang datang. Mereka ikut class meeting pun jiwanya sudah menggebu-gebu karena dilihat banyak orang. Harus tampil keren nih sudah mutlak ada di setiap peserta.
Momen paling menyenangkan dan membuat makin berapi-api ketika mencetak poin tambahan. Suara tepuk tangan dan sorakan nama pencetak poin terdengar jelas dari para pendukung. Apa enggak keren kalau begitu?
Buat peserta lagi punya gebetan, classs meeting lebih dari ajang sportivitas atau pamer bakat, tapi juga jadi alasan agar bisa dekat sama doi. Semua aspek sudah dipersiapkan, mulai dari sepatu Air Jordan selama ini belum pernah dipakai, clutch branded ala fakboi, parfum ternama wanginya tercium dari jarak 10 meter, sampai mobil dua pintu milik papi berlogo kuda jingkraknya. Duh, ketebak banget deh sama teman-teman kelasnya mau modus.
Ada dua kemungkinan, antara makin deket sama gebetan karena makin intens, atau gebetannya ilfeel karena kesannya terlalu pamer harta. Kakak kelas pun selalu menjadi terdepan dalam tebar pesona pas class meeting. Selain karena punya gebetan, classs meeting akan jadi momen terakhirnya di sekolah. Misalnya dalam lomba basket, walaupun mainnya enggak jago, at least gaya dan kostumnya sudah keren.
Beda lagi sama mereka ikut lomba band. Masing-masing personil tampil rapi dan memainkan alat musiknya dengan percaya diri. Belum lagi kalau lagu dibawakan bikin satu sekolah nyanyi bareng. Rasanya pecah banget, latihan selama ini enggak sia-sia. Kalah pun bukan masalah, terpenting bisa menghibur satu sekolah.
Buat si vokalis, menyanyikan lagu tersebut mungkin jadi kesempatan untuk membuat gebetan atau pacar mereka merasa notice. Ketidakpekaan, rasa cinta belum tersampaikan, dan membuktikan merekalah satu-satunya biasa disampaikan lewat lagu.
Di sekolah memang mayoritas Katolik, ada lomba baca Alkitab atau kuis Alkitab. Mereka ikut lomba kuis Alkitab harus membaca injil ditentukan telah ditentukan sebelumnya dan kemudian mempelajari apa saja poin pentingnya. Baca Alkitab penilaiannya dilakukan, antara lain aksen, interaksi, memperhatikan tanda baca, mimik wajah, hingga kejelasan kalimat.
Epiknya, peserta tersebut justru beberapa siswa beragama non-Katolik. Hebat, bukan? Uniknya solidaritas dan toleransi anak muda zaman sekarang jelas terlihat. Yang ikut malah bukan beragama Katolik. Menang atau kalah urusan belakangan, terpenting berpartisipasi.
Tak terasa sudah seminggu, saatnya pengumuman pemenang dan pembagian hadiah. Semua angkatan dikumpulkan dalam satu aula untuk menyaksikan pengumuman. Mereka mengambil hadiah dan sertifikat pun perwakilan dari masing-masing lomba, misalnya kapten basket atau vokalis band. Di momen tersebut, mereka kembali menjadi satu dalam persahabatan. Rasa emosional sangat dirasakan, terlebih kakak kelas segera meninggalkan sekolah. (and)
Baca juga:
Beragam Cara Taklukan Ujian Nasional Saat Ngilmu di Negeri Aing
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
NOC Terima Kunjungan KSOC, Perkuat Kerja Sama Olahraga Indonesia-Korea Selatan
Presiden Prabowo Minta Atlet Dihargai secara Nyata, jangan hanya Diberi Terima Kasih,
Indonesia Sukses Raih 91 Emas di SEA Games 2025, CdM Puji Dedikasi dan Semangat Juang para Atlet
Indonesia Raih 91 Emas, Lampaui Target di SEA Games 2025
Tim Indonesia Raih Posisi Kedua SEA Games Thailand 2025, Ukir Sejarah 30 Tahun
Berjaya di SEA Games 2025, Tim Indonesia Pertegas Posisi 'Raja' Panahan Asia Tenggara
Tim Cycling Indonesia Andalkan Mental Juara dan Dukungan Penuh Federasi, Kunci Kesuksesan Capai Target Medali SEA Games 2025
Aksi Basral saat Pulang Bawa Medali Emas SEA Games 2025, Tunjukkan Trik Skateboard Loncati Motor
Martina Ayu Tercepat di Triathlon Putri, Raihan Emas Tim Indonesia di SEA Games 2025 Thailand Tembus 81
FIFA Rilis Tiket Lebih Murah untuk Piala Dunia 2026, hanya Rp 1 Jutaan