MerahPutih.com - Setelah berlangsung selama lima hari, BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 resmi menutup rangkaian acaranya pada Minggu (2/8). Penutupan ajang mode terbesar di Indonesia ini menjadi perayaan yang memadukan kemegahan dunia fesyen dengan kekayaan budaya Nusantara melalui tema 'Ulos Simetria'.
Di atas panggung, kain Ulos yang selama ini identik dengan tradisi masyarakat Batak tampil dalam wajah baru. Warisan budaya tersebut menjelma menjadi koleksi adibusana modern tanpa meninggalkan nilai filosofis maupun akar budaya yang melekat selama berabad-abad.
Ulos Hadir dalam Interpretasi Kontemporer Para Desainer
Deretan koleksi yang diperagakan menunjukkan bagaimana para desainer menerjemahkan wastra khas Sumatra Utara ke dalam karya yang lebih kontemporer.
Berbagai jenis tenun tradisional, mulai dari songket, tenun ikat, dobel lungsi, sirat, hingga marsimata dipadukan dalam rancangan yang kaya eksplorasi. Siluet dinamis, permainan tekstur, penggunaan pewarna alami, serta dominasi warna pastel dan soft color menghadirkan tampilan yang segar, elegan, sekaligus relevan dengan selera generasi muda.
Beragam detail dekoratif yang menghiasi setiap busana turut memperkuat karakter koleksi tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi sumber inspirasinya.
Baca juga:
Bukan Sekadar Wewangian, Dahlia Ubah Cara Pengunjung Menikmati Indonesia Fashion Week 2026
Lima Hari Penuh Kolaborasi dan Kreativitas Industri Mode
Suasana BTN Indonesia Fashion Week 2026 dipenuhi semangat kolaborasi dan kreativitas. Selama lima hari penyelenggaraan, ribuan pengunjung memadati area pameran dan panggung peragaan untuk menyaksikan karya-karya terbaik para desainer Indonesia.
Tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, IFW juga menjadi ruang bertemunya ide, inovasi, dan peluang kerja sama yang semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat perkembangan industri mode di kawasan Asia.
Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden Indonesia Fashion Week, Poppy Dharsono, mengatakan bahwa tema Ulos Simetria membawa pesan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan inovasi.
Menurutnya, kemajuan industri mode tidak harus mengesampingkan tradisi. Sebaliknya, warisan budaya dapat menjadi sumber inspirasi yang terus berkembang dan melahirkan karya-karya baru yang mampu bersaing di tingkat global.
Lebih dari 200 Desainer dan 500 Tenant Ramaikan BTN IFW 2026
Tahun ini, BTN Indonesia Fashion Week menghadirkan lebih dari 200 desainer dan 500 tenant yang terdiri atas jenama fesyen serta pelaku UMKM dari berbagai daerah di Indonesia.
Beragam program turut memeriahkan penyelenggaraan, mulai dari fashion show, pameran dagang, forum kreatif, talkshow, pertunjukan hiburan, hingga festival kuliner.
Seluruh rangkaian acara dirancang untuk membangun ekosistem industri mode yang semakin inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Baca juga:
Antusiasme masyarakat terhadap BTN Indonesia Fashion Week 2026 tercermin dari berbagai capaian yang diraih selama lima hari pelaksanaan.
Ajang ini melibatkan lebih dari 4.000 pekerja kreatif, menghadirkan lebih dari 200 desainer dan 500 tenant, serta menarik lebih dari 35.000 pengunjung.
Nilai transaksi yang tercatat pun melampaui Rp10 miliar. Capaian tersebut menunjukkan bahwa industri fesyen tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi dan membuka peluang usaha di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung.
Ulos Didorong Menjadi Kekuatan Baru Industri Mode Nasional
Pemilihan Ulos sebagai inspirasi utama tahun ini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu warisan budaya paling berharga dari Sumatra Utara.
Selama berabad-abad, Ulos menjadi simbol kehangatan, kasih sayang, dan doa dalam kehidupan masyarakat Batak. Melalui tangan para desainer, warisan tersebut bertransformasi menjadi busana kontemporer yang mampu menjangkau pasar lebih luas tanpa kehilangan makna filosofis yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, menyampaikan optimisme bahwa kekayaan budaya daerahnya memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan baru dalam industri mode nasional.
Ia bahkan menyatakan kesiapan Sumatra Utara untuk berkembang sebagai salah satu pusat fesyen Indonesia dengan menjadikan warisan budaya sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing industri mode nasional.
Baca juga:
Indonesia Young Fashion Designers Competition Umumkan Empat Pemenang Terbaik di IFW 2026
Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai bahwa fesyen memiliki peran penting sebagai sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.
Menurutnya, ketika seseorang melihat sebuah koleksi Ulos di atas runway, rasa penasaran akan muncul mengenai asal-usul kain tersebut, siapa yang membuatnya, hingga budaya yang melahirkannya.
Rasa ingin tahu itulah yang kemudian dapat berkembang menjadi ketertarikan untuk mengenal Indonesia lebih dekat, bahkan berkunjung langsung ke daerah asal wastra tersebut.
Melalui BTN Indonesia Fashion Week 2026, fesyen kembali membuktikan dirinya bukan sekadar tentang tren dan estetika.
Lebih dari itu, setiap koleksi yang ditampilkan menjadi medium untuk merawat warisan budaya, menggerakkan perekonomian kreatif, sekaligus memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia melalui bahasa universal bernama mode. (Far)

