MerahPutih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa hampir separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026.
Seiring meluasnya musim kering, curah hujan diperkirakan semakin berkurang sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut diperkirakan terus meluas dalam beberapa pekan ke depan seiring dominasi cuaca kering di berbagai daerah.
Baca juga:
BMKG Catat Hampir Separuh Wilayah Indonesia Resmi Masuk Puncak Musim Kemarau Ekstrem
92 Persen Wilayah Berpotensi Mengalami Curah Hujan Rendah
BMKG memprakirakan 92,64 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian pada Dasarian II Juli 2026.
Sementara itu, wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan kategori menengah hanya sekitar 7,32 persen, sedangkan kategori tinggi hanya 0,04 persen dari total wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar daerah masih akan didominasi cuaca cerah hingga berawan dengan peluang hujan yang relatif terbatas.
Hari Tanpa Hujan Semakin Panjang
Selain curah hujan yang terus menurun, BMKG juga mencatat peningkatan wilayah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat panjang.
Sebanyak 329 titik pengamatan atau sekitar 6,77 persen dari seluruh lokasi pemantauan telah mengalami HTH selama 31 hingga 60 hari.
Angka ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya dan menjadi indikator semakin meluasnya musim kemarau di Indonesia.

El Nino Godzilla mengancam Indonesia. (foto: unsplash/redccharlie)
El Nino Masih Memengaruhi Curah Hujan Indonesia
BMKG menjelaskan bahwa kondisi musim kemarau tahun ini masih dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang bertahan di Samudra Pasifik.
Baca juga:
Hal tersebut terlihat dari:
- Indeks Niño 3.4 mencapai +1,25
- Southern Oscillation Index (SOI) berada di angka -24,7
Kedua indikator tersebut menunjukkan pengaruh El Nino masih cukup kuat dalam mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
Selain itu, analisis citra satelit memperlihatkan adanya massa udara kering dari selatan Indonesia, terutama di kawasan Samudra Hindia bagian selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
Udara kering tersebut membuat peluang terbentuknya awan hujan semakin kecil, terutama di wilayah:
- Pulau Jawa
- Bali
- Nusa Tenggara Barat (NTB)
- Nusa Tenggara Timur (NTT)
Wilayah yang Diperkirakan Mengalami Curah Hujan Rendah
BMKG menyebut hujan dengan intensitas rendah diperkirakan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Daerah yang berpotensi mengalami curah hujan rendah meliputi:
Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, BMKG Ungkap Kondisi Terbaru Potensi Tsunami di Selat Sunda
- Sebagian besar Pulau Sumatra
- Pulau Jawa
- Bali
- NTB
- NTT
- Sebagian besar Kalimantan
- Sebagian besar Sulawesi
- Maluku
- Maluku Utara
- Sebagian wilayah Papua
Meski demikian, peluang hujan lokal masih dapat terjadi akibat pengaruh beberapa fenomena atmosfer.
Hujan Lokal Masih Berpotensi Terjadi
Di tengah dominasi musim kemarau, BMKG mengingatkan masih terdapat peluang hujan bersifat lokal maupun regional.
Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain:
- Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO)
- Gelombang Rossby Ekuator
- Dampak tidak langsung Siklon Tropis Bavi
Fenomena tersebut dapat memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah, meski sifatnya tidak merata dan berlangsung dalam durasi singkat.
Baca juga:
BMKG Prakirakan Langit Jakarta Cerah Sepanjang Kamis, 9 Juli 2026
Musim Kemarau Diperkirakan Mencapai Puncak pada Agustus-September
Dengan dominasi El Nino dan meluasnya wilayah yang memasuki musim kemarau, BMKG memperkirakan kondisi kering masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026, sehingga masyarakat di berbagai daerah diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan.
Melalui kesiapsiagaan sejak dini, penggunaan air secara bijak, serta dukungan seluruh elemen masyarakat, dampak musim kemarau diharapkan dapat diminimalkan sehingga aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan aman.

