Merahputih.com - Biaya Haji 2026 resmi mengalami penurunan meski tensi politik di Timur Tengah meningkat. Kebijakan ini dinilai sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi jamaah dari fluktuasi ekonomi global.
Penurunan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar Rp2 juta dibanding tahun sebelumnya menjadi angin segar bagi calon jamaah di tengah bayang-bayang kenaikan harga avtur dunia.
Baca juga:
Biaya Haji 2026 Bisa Tembus Rp 50 Juta, Pemerintah Segera Evaluasi Usulan Maskapai
Keberhasilan menekan angka BPIH ini berakar pada efisiensi biaya hotel dan akomodasi di Arab Saudi. Hasil negosiasi yang lebih ketat memastikan fasilitas tetap prima tanpa membebani kantong jamaah. Strategi ini terbukti efektif meredam potensi lonjakan biaya yang biasanya dipicu oleh ketidakpastian dinamika global
"Ini bukti konkret bahwa negara hadir. Tanpa subsidi nilai manfaat, biaya haji bisa melonjak drastis. Maka tugas Komisi VIII adalah memastikan BPKH terus meningkatkan kinerja investasinya secara syariah dan prudent," tegas Anggota Komisi VIII DPR RI, Sandi Fitrian Noor, Kamis (9/4).
Optimalisasi Dana Haji Rp171 Triliun dan Efisiensi Akomodasi
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) saat ini mengelola dana jumbo sebesar Rp171 triliun. Dengan hasil investasi bersih mencapai Rp11,6 triliun pada tahun 2024, DPR mendorong adanya langkah yang lebih progresif.
Sandi mengusulkan pengkajian ulang regulasi investasi untuk meningkatkan porsi saham syariah blue-chip dari 30 persen menjadi 40 persen demi mendongkrak Nilai Manfaat bagi jamaah.
Langkah efisiensi tidak hanya berhenti pada investasi, tetapi juga menyasar pada biaya operasional di tanah suci. Penghematan dari sektor akomodasi menjadi kunci utama mengapa BPIH 2026 justru lebih murah di saat komponen energi dunia sedang tidak stabil.
Cadangan Likuiditas Kuat Jamin Keamanan Dana Jamaah
Selain efisiensi, aspek keamanan dana menjadi prioritas utama. BPKH saat ini menjaga cadangan likuiditas hingga Rp40 triliun dalam bentuk deposito syariah yang mudah dicairkan. Rasio ini setara dengan dua kali total biaya haji tahun berjalan, sehingga mampu mengantisipasi situasi darurat akibat gejolak global.
Baca juga:
Harga Avtur Naik, Garuda dan Saudi Airlines Minta Tambahan Biaya Angkut Jemaah Haji
"Semakin besar hasil investasi, semakin kecil beban jamaah. Negara harus menjadi pelindung. Dengan optimalisasi Nilai Manfaat dan cadangan likuiditas yang kuat, biaya haji akan tetap terkendali," pungkas Sandi.