Kesehatan

Agar Ketiak Enggak Bau Bawang

Andreas PranataltaAndreas Pranatalta - Rabu, 14 April 2021
Agar Ketiak Enggak Bau Bawang

Beberapa orang merasa tidak percaya diri dengan bau ketiaknya. (Foto: Unsplash/bruce mars)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BEBERAPA dari kamu mungkin ada yang merasa kurang percaya diri karena merasa selalu bau ketiak. Ketiak yang baunya seperti bawang atau bau lainnya, memungkinkan orang di sektiar menutup rapat lubang hidung mereka. Sebenarnya ini tidak terlalu aneh, karena beberapa orang memang berbau bawang.

“Keringat memberi makan bakteri yang ada di kulit dan bakteri menghasilkan bau,” kata pakar dermatologi di New Orleans, Deirdre Hooper mengutip Livestrong.


Setiap orang juga memiliki mikrobioma yang berbeda (koloni beragam mikroorganisme seperti bakteri yang hidup di seluruh tubuh) karena dipengaruhi beberapa hal seperti pola makan, stres, lingkungan, dan gen.

“Alasan keringat seseorang lebih berbau berdasarkan pada mikrobioma mereka sendiri. Itu tidak berarti kamu kotor,” ujar Hooper.

Sebuah studi yang dilakukan pada Januari 2015 dalam jurnal Microbiome pernah melakukan penelitian dengan mengusap ketiak dari 24 pria dan perempuan berkulit putih. Dalam temuannya, orang yang tidak menggunakan antiperspirant cenderung memiliki bakteri sekitar 50 kali lebih banyak daripada para pengguna produk itu.

Baca juga:

Mencukur Bulu Ketiak, Adakah Manfaatnya?

Biar Ketiak Enggak Bau Bawang
Ketiak dianggap memiliki bau seperti bawang. (Foto: Unsplash/mayu ken)

Ada juga temuan menarik lainnya, yakni bau ketiak mereka seperti urine kucing sulfuri, kaki yang berjamut, dan bawang segar. Lalu, bagaimana cara mengatasi ketiak yang baunya seperti bawang?

Perubahan pola makan seperti mengurangi bawang putih atau bawang merah bisa jadi pilihan. Untuk mencegah adanya bakteri, bisa dimulai dengan mandi.

“Kamu dapat mencobanya, tetapi saran saya adalah meminimalisasi keringat di lengan,” kata Hooper.

Carilah sabun lembut yang mengandung antibakteri atau pembersih dengan sodium hyochlorite.

Baca juga:

Berbagai Cara Memanfaatkan Lemon untuk Masalah di Ketiak

Biar Ketiak Enggak Bau Bawang
Coba mandi menggunakan sabun antibakteri. (Foto: Unsplash/Alecsander Alves)

“Pijat pembersih ke ketiak selama 10 sampai 15 detik, nantinya akan berhasil membersihkan bakteri di area ini untuk sementara waktu,” lanjut Hooper.

Setelah itu, keringkan ketiak untuk menciptakan lingkungan yang kurang bersahabat bagi bakteri jahat berkembang biak. Jika kamu merasa lipatan lain dari kulit berbau, misalnya di bawah payudara, kamu bisa menggunakan pengering rambut untuk mengeringkan area tersebut.

Yang terakhir, gunakanlah antiperspirant untuk menyumbat saluran keringat sementara waktu. Dalam studio Microbiome, orang yang memiliki bau ketiak bawang lebih intens adalah mereka yang tidak menggunakan antiperspirant. (and)

Baca juga:

Pede Punya Bulu Ketiak, Ini Manfaatnya

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Andreas Pranatalta

Stop rushing things and take a moment to appreciate how far you've come.
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan