Beda Korea Selatan dan China Hadapi Tarif Amerika Serikat
Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RTT) Xi Jinping. (Dok. Prabowo Subianto)
MerahPutih.com - Korea Selatan memilih mengikuti arus ketimbang melawan mengikuti China terhadap menyikapi kebijakan Tarif Trump atau Tarif Resiprokal yang diterapkan ke berbagai negara.
Korea Selatan kebagian jatah tarif timbal balik (resiprokal) yang cukup tinggi dari Amerika yakni 25 persen. Padahal Korea Selatan (Korsel) merupakan salah satu anggota tertua yang meneken kerja sama sebagai Mitra Perdagangan Bebas (FTA) dengan Amerika Serikat.
"Kami tidak akan mengambil jalan itu. Saya tidak berpikir perlawanan semacam itu akan memperbaiki situasi secara dramatis," kata Penjabat Presiden Han Duck-soo ketika ditanyai soal apakah langkah kepemimpinanya menentang kebijakan Tarif Trump, dikutip CNN, Rabu (9/4).
Ia mengatakan, aksi perlawan tarif balik dari Korsel tak membuat posisi Negeri Gingseng itu untung. Saat ini angka 25 persen itu perlu dimaknai tentang apa itu artinya bagi Korsel.
Baca juga:
Program Yang Sama dan Beda Dilakukan Indonesia dan Singapura Hadapi Perang Dagang
"Dan kita harus, dengan cara yang sangat keren, bernegosiasi dengan mereka," katanya, seraya menambahkan bahwa ia telah mengutus menteri perdagangannya ke Washington.
Sebagai sosok yang punya pengalaman di Kementerian Perdagangan dan Industri, pengalaman perdana menteri lalu duta besar Korea untuk Amerika Serikat Han disebut bakal melancarkan negosiasi Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Korea.
Han memilih mengambil langkah terukur, dan menekankan pada teori ekonomi dan preseden historis merujuk pada perang dagang global besar terakhir di awal tahun 1930-an. Menyebabkan kolapse alias resesi dunia dipicu proteksionis AS.
"Kita harus berkomunikasi, bekerja sama, dan bekerja sama. Saya pikir kita harus mencoba menemukan situasi yang menguntungkan semua pihak," kata dia.
Sementara, China mengeluarkan perlawan merespon kebijakan resiprokal Trump. China pun membalas tarif barang Amerika ke China sebesar 34 persen. Lalu China akhirnya dikenakan tarif dasar dan resiprokal hingga 104 persen oleh AS.
China mengontrol ekspor di 16 perusahaan Amerika untuk melarang mengirimkan barang untuk dua keperluan. China juga mengontrol ekspor tujuh jenis mineral tanah di antaranya adalah samarium, gadolinium dan terbium dan terakhir melarang diputarnya film film hollywood. (Tka)
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Pasal 5 NATO Bisa Jadi Penyelemat Greenland dari Obsesi Donald Trump
Dinilai Berisiko, Indonesia Harus Siap Mundur dari Board of Peace jika Abaikan Palestina
Indonesia Gabung Board of Peace, Eks Wamenlu Ingatkan Risiko Dominasi AS
Ditekan Trump, Kesepakatan Dagang China dan Kanada Batal
AS dan Kanada Makin Panas, Trump Ancam Terapkan Tarif 100 Persen
Masuk Dewan Perdamaian Ala Trump, Indonesia Klaim Tak Perlu Bayar Rp 17 Triliun
RI Gabung Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump Taktik Wujudkan Solusi 2 Negara
Keluar dari WHO, Amerika Serikat Wajib Bayar Utang Rp 4,3 Triliun
Alarm Kebakaran Berbunyi Saat Trump Berada di World Economic Forum 2026
Indonesia dan Negara Timur Tengah Bakal Tempuh Prosedur Internal Gabung ke Dewan Perdamaian Gaza Ala Trump