Merahputih.com - Kenaikan harga BBM nonsubsidi memicu kekhawatiran masyarakat sehingga banyak pemilik kendaraan mempertimbangkan strategi penghematan dengan cara mencampur jenis bahan bakar atau beralih ke BBM dengan oktan rendah.
Namun, langkah ini justru menyimpan risiko fatal yang dapat merusak komponen internal mesin dalam jangka panjang.
Baca juga:
BBM Nonsubsidi Naik, DPR Desak Perbaikan Transportasi Umum untuk Tekan Beban Masyarakat
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memperingatkan bahwa mengganti BBM dari oktan tinggi ke rendah berdampak langsung pada penurunan performa kendaraan secara signifikan.
“Risiko utama mengganti jenis BBM beroktan lebih rendah pada kendaraan adalah mesin menjadi panas berlebih, tenaga drop drastis, dan konsumsi BBM justru meningkat,” tegas Yannes, Selasa (21/4).
Bahaya Penumpukan Karbon dan Mesin Overheat
Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan dalam durasi 10.000 hingga 20.000 km memicu penumpukan deposit karbon pada ruang bakar dan injektor.
Kondisi tersebut menyebabkan mesin mengalami idle kasar, akselerasi yang tersendat, serta emisi gas buang yang jauh lebih kotor.
Kendaraan dengan spesifikasi tinggi, seperti mobil sport yang memiliki turbo atau rasio kompresi besar, menghadapi ancaman keausan pada komponen krusial seperti ring piston.
Ketidaksesuaian oktan membuat proses pembakaran menjadi tidak sempurna dan merusak bagian dalam mesin secara perlahan.
Larangan Mencampur Pertamax Turbo dan Pertamax Biasa
Selain mengganti jenis, praktik mencampur dua jenis BBM berbeda, misalnya Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sangat tidak direkomendasikan.
Yannes menjelaskan bahwa setiap jenis bahan bakar memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran yang berbeda-beda.
“Tidak disarankan mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sebab kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran berbeda,” jelas Yannes.
Baca juga:
Harga BBM Nonsubsidi Melonjak, DPR Kritik Kebijakan Mendadak Tanpa Sosialisasi
Ketidakstabilan angka oktan hasil pencampuran ini memicu knocking sporadis atau suara ketukan pada mesin. Selain itu, endapan yang terbentuk berpotensi menyumbat filter dan merusak sistem injeksi bertekanan tinggi seperti Common Rail atau GDI.
“Kerusakan komponen ini dalam jangka panjang akan membuat kita harus mengeluarkan biaya perbaikan hingga belasan juta rupiah,” pungkasnya.
Sebagai informasi, per 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) telah menyesuaikan harga Pertamax Turbo menjadi Rp19.400 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 per liter untuk wilayah DKI Jakarta. Sementara itu, harga Pertalite masih tetap di angka Rp10.000 per liter.